PENELITIAN
EKSPERIMEN
(Ditujukan guna
memenuhi Tugas Metode Penelitian Pendidikan)
Dosen
Pengampu:
Nukhbatul
Bidayati Haka, M.pd
Disusun
Oleh:
Nama :
Dwi Retno Wati
NPM :
1211060215
Jurusan/Semester : Pendidikan Biologi
A/V
PENDIDIKAN
BIOLOGI
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian merupakan semua kegiatan pencarian,
penyelidikan, dan percobaan, secara alamiah dalam suatu bidang tertentu, untuk
mendapatkan fakta-fakta atau prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk
mendapatkan pengertian baru dan menaikkan tingkat ilmu serta teknologi. Tujuan
penelitian secara umum adalah untuk meningkatkan daya imajinasi mengenai
masalah-masalah pendidikan. Kemudian meningkatkan daya nalar untuk mencari
jawaban permasalahan itu melalui penelitian.[1]
melalui penelitian inilah manusia dapat menggunakan hasilnya.
Metode penelitian pendidikan dapat diartikan
sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat
ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga
pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi
masalah dalam bidang pendidikan. Berdasarkan dari segi metode penelitian, maka
dapat dibedakan menjadi 9 macam penelitian, salah satunya yaitu penelitian
Eksperimen.[2]
Metode penelitian eksperimen mencakup komponen-komponen eksperimen, baik yang
berkaitan dengan pengertian, bentuk desain, kelompok eksperimen, variabel,
validitas, rancangan, maupun etik dalam
penelitian eksperimen terhadap diri sendiri.
Oleh karena itu, untuk lebih memahami tentang penelitian
eksperimen, maka dalam makalah yang berjudul “Penelitian Eksperimen” ini,
penulis akan menjelaskan komponen-komponen eksperimen yang telah penulis
sebutkan sebelumnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang di atas, maka rumusan
masalah dalam makalah ini adalah:
1.
Apakah pengertian dari penelitian eksperimen?
2. Karakteristik Penelitian Eksperimen
3.
Bagaimanakah bentuk desain pada penelitian
eksperimen?
4.
Apa saja tujuan penelitian eksperimen?
5. Langkah-langkah Penelitian Eksperimen
6.
Bagaiman kelompok eksperimen dan kontrol?
7.
Apa saja variabel yang terdapat di dalam
penelitian eksperimen?
8.
Bagaimana validitas dalam penelitian
eksperimen?
9.
Apa saja tujuan validitas internal dan
eksternal dalam penelitian eksperimen?
10.
Bagaimana etik dalam penelitian eksperimen
terhadap diri manusia?
11.
Bagaiman contoh penelitian eksperimen?
C. Tujuan Penulisan
1.
Menyebutkan pengertian penelitian eksperimen.
2.
Menjelaskan karakteristik dalam penelitian
eksperimen.
3.
Mendeskripsikan bentuk-bentuk desain dalam penelitian
eksperimen.
4.
Menjelaskan tujuan yang hendak di capai dalam penelitian
eksperimen.
5.
Menyebutkan langkah-langkah dalam penelitian
eksperimen.
6.
Menjelaskan kelompok eksperimen dan kontrol.
7.
Menyebutkan variabel yang ada di dalam penelitian eksperimen.
8.
Menjelaskan validitas eksperimen.
9.
Menjelaskan tujuan validitas inter nal dan eksternal penelitian eksperimen.
10.
Menjelaskan bagaimana etik dalam penelitian
eksperimen.
11.
Memberikan beberapa contoh penelitian
eksperimen.
12.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penelitian Eksperimen
Dalam arti kata yang luas, bereksperimen ialah
mengadakan kegiatan percobaan untuk melihat sesuatu hasil. Hasil tersebut yang
akan menegaskan bagaimanakah kedudukan berhubungan kausal antara
variabel-variabel yang diselidiki. Eksperimen di dalam laboratorium lebih
“mudah” dilakukan oleh karena adanya fasilitas yang khusus dan adanya situasi
yang terpisah dari gangguan luar, sehingga setiap variabel dapat dimanipulasi
menurut rencana. Tidak semua penelitian laboratorium memerlukan alat-alat yang
khusus dibuat untuk penelitian itu, tetapi adakalanya sebuah penelitian
eksperimental tidak mungkin dilakukan tanpa alat yang khusus. Eksperimen di
luar laboratorium pada umumnya menghadapi kesulitan dalam pelaksanaanya
mengingat lebih banyaknya kemungkinan mendapat gangguan. Menghadapi manusia
adalah persoalan yang menimbulakan kesulitan tersendiri. Karena itu dicari
cara-cara yang lain daripada yang lazim dipakai di dalam laboratorium, atau
dengan jalan menyelidiki makhluk lain seperti kera, tikus, burung di dalam
laboratorium. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh seorang eksperimentator
tidak hanya dapat bersumber dari kesulitan mengadakan manipulasi berbagai
situasi, tetapi juga dari dalam penyusunan metode itu sendiri. Sebuah metode
eksperimental yang baik selalu mempergunakan perbandingan dengan satu (atau
lebih) situasi lain.[3]
Penelitian eksperimen dilakukan di laboratorium
yang dalam penelitiannya terdapat perlakuan (treatment). Dengan demikian metode
penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan
untuk mencari pengaruh tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang
terkendalikan. [4]
Penelitian menggunakan suatu percobaan-percobaan
yang dirancang secara khusus guna membangkitkan data yang diperlukan untuk menjawab
pertanyaan penelitian. Penelitian yang menggunakan rancangan rancangan
percobaan dianggap sebagai jenis penelitian yang paling diinginkan oleh seorang
peneliti. Yang dimaksud dengan “percobaan” ialah bagian penelitian yang
membandingkan dua kelompok sasaran penelitian. Tampaknya bahwa penelitian
eksperimen yang menggunakan percobaan hanya dapat dilakukan untuk
pertanyaan-pertanyaan yang meenyangkut hal-hal yang dapat dikerjakan di dalam
laboratorium, atau lapangan yang tidak menyangkut masalah kehidupan manusia.
Tampak pula bahwa penelitian eksperimental sangat tepat untuk pertanyaan yang
diubah menjadi hipotesis yang diungkapkan secara kuantitatif. Pada penelitian
eksperimental penentuan setiap satuan percobaan di dalam kelompok perlakuan
atau kelompok pembanding selalu dilakukan dengan undian, yang istilahnya
penentuan secara acak. Dalam penelitian sosial hal ini sulit dilakukan.
Walaupun demikian orang ingin juga mengikuti cara-cara meneliti menggunakan
percobaan. Maka timbullah penelitian kuasi-eksperimental. Penelitian
kuasi-eksperimental memberikan kesempatan untuk meneliti perlakuan-perlakuan di
dalam masyarakat yang tidak di tempatkan dengan sengaja, melainkan terjadi
secara alami. Akan tetapi, keampuhannya tidak dapat menyamai penelitian
eksperimental yang sebenarnya.
Semua penelitian eksperimental bersifat
menguraikan masalah disusun oleh upaya pemahamannya sehingga dikatakan
merupakan penelitian analitik. Lain halnya dengan penelitian yang sama-sekali
tidak menggunakan percobaan sehingga disebut penelitian non-eksperimental.
percobaan kuasi-eksperimental pun sebenarnya lebih dekat ke non-eksperimental
karena untuk penelitian itu tidak dilakukan suatu percobaan terkendali.
Penelitian seperti ini dapat besifat analitik, tetapi dapat pula bersifat pemeriaan
atau deskriptif.[5]
B. Karakteristik Penelitian Eksperimen
Menurut Ary (1985), ada tiga
karakteristik penting dalam penelitian eksperimen, karakteristik yang di maksud
adalah:
1. Variabel
bebas yang dimanipulasi (manipulasi)
Memanipulasi variabel adalah
tindakan yang dilakukan oleh peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah.
Perlakuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka untuk memperoleh
perbedaan efek dalam variabel yang terkait.
2. Variabel lain yang berpengaruh dikontrol agar tetap
konstan (Pengendalian)
Mengontrol merupakan usaha
peneliti untuk memindahkan pengaruh variabel lain yang mungkin dapat
mempengaruhi variabel terkait. Dalam pelaksanaan eksperimen, group eksperimen
dan group kontrol sebaiknya diatur secara intensif agar karakteristik keduanya
mendekati sama.
3. Observasi langsung oleh peneliti (Pengamatan)
Tujuan dari kegiatan observasi
dalam penelitian eksperimen adalah untuk melihat dan mencatat segala fenomena
yang muncul yang menyebabkan adanya perbedaan diantara dua group.[6]
C. Desain Penelitian Eksperimen
Terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yang
dapat digunakan dalam penelitian bisnis, yaitu: Pre-eksperimental design, True
eksperimental design, faktorial design, dan Quasi eksperimental design.
Macam-macam metode eksperimen tersebut yaitu:[7]
1.
Pre-eksperimental
design (nondesigns)
Pre-eksperimental design belum merupakan
eksperimen sungguh-sungguh, karena terdapat variabel luar yang berpengaruh
terhadap terbentuknya variabel dependen. Jadi, hasil penelitian yang merupakan
variabel-variabel itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen. Hal
ini dapat terjadi karena tidak adanya variabel kontrol, dan sampel tidak
dipilih secara random. Bentuk eksperimen ini ada beberapa macam, yaitu:
a.
One-shot case study
|
X 0
|
X =
treatment yang diberikan (variabel dependen)
0 = observasi
(variabel dependen)
Paradigma tersebut dapat dibaca sebagai
berikut: terdapat suatu kelompok diberi treatmen/perlakuan, dan selanjudnya
diobservasi hasilnya. (Treatmen adalah sebagai variabel independent, dan
hasilnya sebagai variabel dependent).
b.
One-group pretest-posttest design
|
O1 x O2
|
Ket:
O1
= nilai pretest (sebelum diberi diklat)
O2 =
nilai postest (setelah diberi diklat)
Pengaruh
diklat terhadap prestasi kerja pegawai = (O2-O1)
c.
Intanct-group comparison
|
X O1
O2
|
O1
= hasil pengukuran setengah kelompok yang
Perlakuan
diberi perlakuan
O2
= hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi perlakuan.
Pengaruh
perlakuan = O1 – O2
Seperti
telah dikemukakan bahwa, ketiga bentuk desain eksperiment itu bila diterapkan
untuk penelitian, akan banyak variabel-variabel luar yang masih berpengaruh dan
sulit dikontrol sehingga validitas internal penelitian menjadi rendah.
2.
True
eksperimental design
Dikatakan
true eksperimental (eksperimen yang betul-betul), karena dalam desain ini,
peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya
eksperimen. Ddengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan
penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true eksperimental adalah
bahwa, sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol
diambil secara random dari populasi tertentu. Jadi, cirinya adalah adanya
kelompok kontrol dan sampel dipilih secara random. Bentuk design true
eksperimental yaitu:
a.
Posttest-only control design
Dalam
design ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R).
Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. Kelompok
yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak
diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Pengaruh adanya perlakuan
(treatment) adalah (O1 : O2). Dalam penelitian yang sesungguhnya, pengaruh
treatment dianalisis dengan uji beda, pakai statistik t-test. Desainnya
digambarkan sebagai berikut:
|
R X O2
R O4
|
b.
pretest-posttest control group design
|
R O1 X O2
R O3 O4
|
3.
faktorial
design
|
R O1 X Y1 O2
R O3 Y1 O4
R O5 X Y2 O6
R O7 Y2 O8
|
Pada
desain ini semua kelompok dipilih secara random, kemudian masing-masing diberi
pretest. Kelompok penelitian dinyatakan baik, bila setiap kelompok nilai
pretestnya sama, jadi O1 = O3 = O5 =O7. dalam
hal ini variabel moderatornya adalah Y1 dan Y2.
4.
Quasi
eksperimental design
Pada
rancangan jenis ini, kontrolnya boleh dikatakan lebih baik daripada rancangan
pra-eksperimen. Tapi juga masih terdapat kelemahan-kelemahan karena lazimnya
tak mencapai ekuivalensi antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol; akibat
tak dilakukannya prosedur perambangan dalam pilihan kelompok.[8]
Berikut ini dikemukakan dua bentuk desain quasi eksperimen, yaitu:
a.
Time series design
|
O1 O2 O3 O4
X O5 O6 O7 O8
|
Hasil
pretest yang baik adalah O1 = O2 = O3 =
O4 dan hasil perlakuan yang baik adalah O5 = O6
= O7 = O8.
besarnya pengaruh perlakuan adalah = ( O5
+ O6 +O7 + O8 ) - (O1 + O2
O3 +O4 )
b.
Nonequivalent control group design
Desain
ini hampir sama dengan pretest-posttest control group, hanya saja pada desain
ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. [9]
D. Tujuan Penelitian Eksperimen
Tujuan eksperimen bukanlah pada pengumpulan dan
deskripsi data, melainkan pada penemuan faktor-faktor penyebab dan
faktor-faktor akibat; karena itu, maka di dalam eksperimen orang bertemu dengan
dinamik dalam interaksi variabel-variabel.[10] Selain
itu, tujuan utama penelitian eksperimen yaitu untuk menyelidiki kemungkinan saling
hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan satu atau lebih kelompok
eksperimental satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya
dengan satu/lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.[11]
Tujuan kedua yaitu eksternal validity yang menanyakan persoalan seberapa
reperesentatifkah penemuan-penemuan penelitian ini dan seberapa jauh
hasil-hasilnya dapat digeneralisasikan kepada subjek-subjek atau kondisi yang
semacam. [12]
Tujuan jangka dekat dari eksperimen, ialah
untuk memprediksikan kejadian atau peristiwa di dalam latar eksperimental.
Sedangkan tujuan akhirnya, ialah untuk menarik generalisasi hubungan-hubungan
antar variabel yang mencangkup juga populasi lebih luas di luar laboratorium.[13]
E. Langkah-langkah Penelitian Eksperimen
Langkah-langkah pokok penelitian eksperimen meliputi:
1. Lakukan telaah kepustakaan yang
berhubungan dengan permasalahan.
2. Identifikasi dan definisikan masalahnya.
3. Rumuskan hipoteisis, tentukan
faktor-faktor yang berpengaruh, dan definisikan istilah-istilah pokok dan
variabel-varibel penelitiannya.
4. Susun rencana eksperimennya:
a) Identifikasi seluruh variabel
non-eksperimental yang mungkin mengkontaminasi eksperimen dan tentukan
bagaimana untuk mengontrol variabel tersebut.
b) Pilihlah rancangan penelitiannya.
c) Pilihlah sampel dari subyek yang
representatif bagi populasi, tentukan subyek untuk kelompok kontrol dan
tentukan kelompok-kelompok perlakuan eksperimen.
d) Pilih atau susun dan validasi instrumen
yang akan digunakan untuk mengukur hasil eksperimen
e) Rancangkan prosedur pengumpulan
data dan kemungkinan melakukan pilot atau uji coba untuk menyempurnakan
instrumen atau rancangan.
f) Rumuskan hipotesis statistik atau
hipotesis nolnya.
5. Lakukan eksperimen
6. Aturlah/susun data mentah yang
diperoleh, dengan tujuan pengaturan data tersebut akan menghasilkan kesimpulan
paling baik terhadap efek yang diperkirakan akan ada.
7. Terapkan uji signifikansi untuk
menentukan taraf kepercayaan terhadap hasil penelitian .
8. Buatlah interpretasi terhadap
hasil pengujian tersebut, berikan diskusi, dan buatlah laporannya.[14]
F.
Kelompok
Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Suatu eksperimen mengandung upaya perbandingan
mengenai akibat suatu tritmen tertentu dengan suatu tritmen lainnya yang
berbeda, atau dengan yang tanpa tritmen. Di dalam referensi mengenai eksperimen
konvensional yang sederhana, biasanya dibuatkan suatu kelompok eksperimen dan suatu
kelompk kontrol.
Kelompok eksperimen dan kotrol tadi, sedapat
mungkin sama atau mendekati sama ciri-cirinya. Pada kelompok eksperimen
diberikan pengaruh atau tritmen tertentu, sedangkan di kelompok kontrol tidak
diberikan; kemudian diobservasi untuk melihat atau menentukan perbedaan atau
perubahan yang terjadi pada kelompok eksperimen, tentu saja perbedaan atau
perubahan sebagai hasil bandingan dengan yang terdapat di kelompok kontrol. Namun
bagaimanapun juga, eksperimen tidak selalu ditandai dengan perbandingan suatu
kelompok yang diberi tritmen dengan kelompok lainnya yang tak diberi tritmen. Ada
banyak tipe, kadar dan tingkatan faktor eksperimental yang bisa ditetapkan pada
sejumlah kelompok-kelompok.[15]
G. Variabel dalam Penelitian Eksperimen
1.
Definisi
Operasional dari Variabel-variabel eksperimental
Variabel adalah kondisi-kondisi atau
karakteristik-karakteristik yang oleh pengeksperimen dimanipulasikan,
dikontrol, dan diobservasi. Variabel-variabel seperti bakat, prestasi belajar
atau kreativitas, kesemuanya merupakan definisi-definisi konseptual yang
pengertian-pengertiannya seperti di kamus-kamus. Tapi karena konsep-konsep tadi
tak dapat diobservasi secara langsung, maka rumusan-rumusannya tetap kabur dan
membingungkan. Variabel-variabel tadi, perlu didefinisikan ke dalam bentuk
rumusan lebih operasional, rumusan yang lebih pasti dan tak membingungkan.
Variabel-variabel tadi, perlu didefinisikan ke dalam bentuk rumusan lebih
operasional, rumusan yang dapat diobservasi dan diukur. Ketiga contoh tadi,
dapat didefinisikan secara operasional, misalnya menunjuk pada biji atau skor
dari sesuatu tes tertentu yang relevan. Jika definisinya sudah relevan
operasional, maka tak akan ada keraguan (ketakpastian) mengenai apa yang dimaksudkan
peneliti.
Supaya berguna tentunya, definisi-definisi
operasional mestilah didasarkan pada suatu teori yang secara umum diakui
kevaliditasannya. Istilah-istilah operasional yang digunakan untuk
mendeskripsikan sesuatu variabel, bisa jadi tidak relevan setelah
dipertimbangkan secara akal sehat.
2.
Variabel
dalam penelitian
Macam-macam
variabel dalam penelitian yaitu:
a.
Variabel Bebas dan Variabel Tergantung
Variabel bebas (independent variable) ialah
kondisi atau karakteristik yang oleh pengeksperimen dimanipulasikan di dalam
rangka untuk menerangkan hubungan dengan fenomena yang diobservasi. Sedangkan variabel
tergantung (dependent variabel), ialah kondisi atau karakteristik yang berubah,
atau muncul, atau yang tidak muncul ketika pengeksperimen mengintroduksi,
merubah, atau mengganti variabel bebas.
Pada penelitian pendidikan, variabel bebasnya
mungkin suatu metode mengajar tertentu, suatu tipe bahan belajar tertentu, suatu
imbalan tetentu, suatu jangka waktu penyajian disuatu kondisi tertentu atau
lain-lainnya yang serupa. Sedangkan variabel tergantung, mungkin berupa biji
tes, jumlah kesalahan, kecepatan menyelesaikan suatu tugas atau lain-lainnya
yang serupa. Dengan demikian, variabel tergantung menunjuk pada akibat atau
pengaruh yang dikarenakan variabel bebas.
b.
Variabel Organismik atau Variabel Atribut
Variabel organismik (organismic or attribue
vaariable) menunjuk pada karakteristik-karakteristik yang tak dapat diubah oleh
pengeksperimen. Variabel-variabel bebas seperti umur, jenis kelamin, suku atau
yang lainnya yang serupa, kesemuanya sudah demikian adanya selaku variabel.
Meski demikian, variabel-variabel serupa itu dapat juga di dalam study
eksperimen. Pertanyaan tentang apakah puteri 8 tahun menunjukkan prestasi
membaca lebih tinggi dibandingkan dengan putera usia 8 tahun, merupakan salah
satu contoh (jenis kelamin merupakan variabel organismik yang berfungsi sebagai
variabel bebas). Dalam hubungan ini, katakanlah masing-masing kelompok tadi
berada dalam kondisi dan situasi eksperimental yang sama, kecuali dalah hal
jenis kelaminnya. Dengan demikian, jenis kelamin merupakan/manjadi variabel,
maka ia tak dapat dimanipulasikan, sebab sudah ditentukan begitu adanya.
c.
Variabel Imbuhan
Variabel imbuhan (extraneous variabel) adalah
variabel-variabel yang tak dapat dikontrol (misalnya variabel-variabel yang tak
dapat dimanipulasikan oleh pengeksperimen) yang mungkin mempunyai pengaruh
berarti pada variabel targantung. Dalam suatu study yang dipublikasikan secara luas,
penelitiannya mau melihat perbandingan efektifitas tiga metoda pengajaran
study-study (social studies). Dalam hubungan ini, kelas-kelas yang baik
digunakan. Kriteria keevektifitasan ialah pretasi belajar, yaitu diukur
berdasarkan biji atau skor-tes standard. Dalam penelitian tersebut,
penelitiannya tak dapat merambang atau mengontrol variabel-variabel seperti
kompetensi dan antusiasme pada guru, juga tak dapat dan mengontrol usia,
tingkat sosial ekonomi, serta kesanggupan akademis para pelajar. Dengan
demikian, tampak jelas adanya banyak variabel imbuhan yang melemahkan
kesakhehan kesimpulan-kesimpilan mengenai efektivitas relatif dari
metoda-metoda pengajaran yang menjadi variabel bebas di penelitian
bersangkutan.
Memang tak mungkin mengeliminir keseluruhan
variabel-variabel imbuhan, terutama pada penelitian di ruang kelas. walau
demikian, suatu rancangan eksperimen yang baik, memungkinkan penelitiannya
untuk secara luas bisa menetralisir pengaruh variabel-variabel imbuhan.
3.
Pengontrolan
variabel imbuhan
Variabel-variabel
yang bukan merupakan perhatian langsung peneliti, dapat ditiadakan, minimal
diminimalkan pengaruhnya, yaitu melalui beberapa metode. Metode-metode yang
dimaksud adalah meniadakan variabel, menjodohkan kasus, penyeimbangan kasus,
dan analisis kovarian.
Pada suatu eksperimen, perbedaan-perbedaan
dalam variabel-variabel tergantung yang mungkin dikarenakan pengaruh atau efek
variabel-variabel bebas, dikenal sebagai varian eksperimental. Signifikan
tidaknya suatu eksperimen diuji dengan membandingkan varian eksperimental
dengan varian kesalahan. Jika perbedaan-perbedaan diantara kelompok eksperimen
dengan kelompok kontrol begitu besar daripada yang dimungkinkan karena varian
kesalahan, maka bisa diperkirakan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut
kemungkinannya dikarenakan varian eksperimental.[16]
H. Validitas Eksperimen
Suatu eksperimen mempunyai kontribusi yang
berarti bagi pengembangan pengetahuan, maka mestilah memiliki dua tipe
validitas, yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Suatu eksperimen
mempunyai validitas internal sepanjang faktor-faktor yang dimanipulasikan
(variabel bebas) benar-benar sejati tulen pengaruh atau efeknya pada fenomena-fenomena
variabel tergantung yang diobservasi dalam latar eksperimen. Bila peneliti
hanya mencapai validitas internal, maka nilai praktis penemunya akan rendah.
Sebab penemuannya tidak diberlakukan di luar eksperimentasi bersangkutan. Untuk
itu, perlu pula mencapai validitas eksternal. Dikatakan memiliki validitas
eksternal, sepanjang hubungan antara variabel yang ditemukan dapat
digeneralisasikan pada situasi-situasi non-eksperimental (bisa
degeneralisasikan pada latar lain, tritmen lain, pengukuran lain, populasi
lain).
Validitas eksperimen yang ideal, tentunya
mencapai kedua tipe validitas tadi. Hal ideal tersebut biasanya tidak dapat
dicapai secara sempurna. Pada penelitian tingkah laku, yang pada latar non
laboratoris, sangat sukar mencapai validitas internal, sebab begitu banyak
variabel imbuhan yang mesti dikontrol; pengontrolannya tak mampu dilakukan
sesempurna-sesempurnanya. Susahnya lagi, bila begitu ketat suasana buatan serta
pengontrolannya dilakukan, bisa jadi semakin tidak relistiknya situasi sehingga
mengurangi validitas eksternal eksperimentasi itu sendiri. Karenanya, tak bisa
tidak, meski dikompromikan sehingga ada keseimbangan antara kepentingan
validitas eksternal dengan kepentingan validitas internal.
a.
Ancaman terhadap validitas internal
pada
eksperimen pendidikan atau pada eksperimen tingkah laku lainnya yang
dilaksanakan di luar laboratorium, ancamannya bisa datang dari banyaknya variabel
imbuhan yang hadir disituasi eksperimen; variabel imbuhan tersebut bisa juga
dikarenakan rancangan dan prosedur eksperimen itu sendiri. Dengan adanya
berbagai kemungkinan variabel imbuhan tadi, tentunya ikut mempengaruhi hasil
eksperimen, dan hal demikian itu cukup sukar dievaluasinya. Pengaruh variabel-variabel
imbuan tadi, memang sukar dieleminir secara total, tetapi ada banyak di
antaranya yang dapat diidentifikasi. Pada penelitian-penelitian tingkah laku,
perlu sekali mengantisipasi variabel-variabel imbuhan tadi dan mengupayakan
sedemikian rupa guna meminimalkan pengaruhnya terhadap proses dan hasil
eksperimen. Ada sejumlah faktor yang jelas membahayakan kekuatan eksperimen di
dalam mengevaluasi pengaruh atau efek variabel bebas. Dalam hubungan ini,
Donald T campbell and julian C stanley membahas faktor-faktor tersebut.
Faktor-faktor yang dimaksud yaitu faktor kematangan, peristiwa sewaktu-waktu,
pengukuran tak stabil, regresi statistik, pilihan yang berbeda, dan menguapnya
sampel eksperimen.
b.
Ancaman terhadap validitas eksternal
Validitas
eksternal berurusan dengan kekuatan sesuatu eksperimen untuk digeneralisasikan
penemuan-penemuannya (hubungan-hubungan variabel) ke populasi yang lebih luas.
Ancaman-ancaman terhadap validitas ekstenal yaitu latar eksperimen yang buatan
dan pengaruh placebo hawthorne yang menunjuk pada ancaman yang psikologis
sifatnya.[17]
I.
Validitas
Internal dan Validitas Eksternal
Peneliti
mempunyai dua tujuan besar, yaitu:[18]
1.
Mesti berusaha menentukan apakah faktor-faktor
yang telah dimodifikasi benar-benar memberikan/mempunyai pengaruh atau efek
sistematis pada latar eksperimen, dan apakah tampakan gejala/peristiwa yang
diobservasi benar-benar tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar atau
faktor-faktor yang tidak dikontrol. Bila tujuan tersebut dicapai, berarti
mencapai validitas internal (internal validity) dari suatu eksperimen.
Sepanjang penemuannya mencapai taraf demikian, berarti menggambarkan validitas
internal suatu eksperimen. Tapi bila penemuannya itu hanya benar dan berlaku
disuatu eksperimen (berarti sekedar mencapai validitas internal), sudah tentu
nilai praktis penemuannya akan kecil.
2.
Meski juga menentukan, apakah hubungan-hubungan
sistematis yang telah diidentifikasi, dikontrol dan diukur itu dapat
digeneralisasikan: dapat digunakan untuk memprediksikan hubungan-hubungan di
luar latar eksperimen. Sepanjang hal itu dicapai, berarti suatu ukuran yang
menggambarkan validitas eksternal (external validity) suatu eksperimen.
J. Etik Dalam Eksperimen Terhadap Diri Manusia
Eksperimen yang dilakukan terhadap diri
manusia, baik dalam dunia medis,psikologis, ataupun lainnya, mestilah tetap
berpegang teguh pada prinsip etik yang menjunjung tinggi harkat dan martabat
manusia. Suatu eksperimen terhadap diri manusia, sudah terang mengandung
implikasi etis, suatu konsekuensi logis dari diakuinya harkat dan martabat
manusia. Sejumlah issue dan soal bermunculan mengenai hal ini. Beberapa diantara
soal-soal etis dimaksud telah “diamankan” melalui perundang-undangan, beberapa
lainnya lagi melalui kode etik profesi. Tapi ada juga soal-soal yang masih
tersisa dan belum terpecahkan. Dalam hubungan ini, kiranya perlu dicamkan bahwa
tujuan akhir eksperimen-eksperimen itu, pada dasarnya untuk kesejahteraan umat
manusia. Tujuan mulia tersebut, penangannya perlu diamankan dari resiko-resiko
yang membahayakan/merugikan subyek-subyek yang terkena eksperimen.
Dalam pelaksanaan eksperimen, bisa jadi
pengeksperimennya melakukan pengamatan dan pencatatan secara rahasia (tanpa
diketahui oleh mereka yang diobservasi; bisa jadi mencari informasi yang
bersifat pribadi dan rahasia mengenai diri atau keluarga mereka yang diteliti; bisa
jadi menggunakan tipu atau berbohong demi keberhasilan pelaksanaan
eksperimennya; bisa jadi eksperimennya itu membawa resiko membahayakan (fisik
atau psikis) bagi mereka yang dikenakan eksperimen.
Pengeksperimen yang etis,pada dirinya melekat
suatu kewajiban dan tanggungjawab, baik terhadap mereka yang dikenakan
eksperimen , maupun terhadap teman-teman seprofessinya serta pada masyarakat
luas. Karena itulah, ia mesti senantiasa mengutamakan obyektivitas ilmiah di
atas kepentingan pribadi, serta menyadari kewajibannya pada masyarakat untuk mengembangkan/memajukan
ilmu pengetahuan di dalam penanganan studynya, senantiasa bersikap ilmiah (obyektif,
tidak curang dengan data yang didapatkan, membiarkan datanya berbicara
sebagaimana adanya, dan mau mengakui keterbatasan-keterbatasan dari study yang
dilakukannya). Pengeksperimenan yang etis, juga tak lupa juga menyampaikan penghargaan
dan berterimakasih kepada semua pihak yang ikut membantu terlaksanannya
penelitian yang ditangani. Eksperimen-eksperimen yang berarti, kebanyakan
berurusan dengan analisis mengenai hubungan antar sejumlah variabel-variabel. [19]
K. Contoh-Contoh
penelitian
Dalam memilih study untuk tinjauan ulang, kita
menggunakan ukuran-ukuran berikut:
·
Pembelajaran harus dengan menerangkan contoh
yang khas tetapi tidak terkemuka, secara metodologi, dan kritik yang membangun.
·
Pembelajaran harus lebih cukup menjaga
perhatian para siswa, meskipun tidak ditunjukkan secara langsung.
Contoh-contoh penelitian eksperimen yang khas
tersebut yaitu:
1. Menyelidiki
pengaruh dua jenis metode mangajar terhadap hasil belajar mata pelajaran
tertentu, berdasarkan ukuran kelas (kelas besar dan kecil) dan taraf
intelegensi siswa (tinggi, sedang dan rendah) dengan cara menempatkan guru
secara random berdasarkan intelegensia, ukuran kelas, dan metode mengajar.
2. Penelitian
untuk menyelidiki pengaruh program pencegahan penyalahgunaan obat terhadap
sikap para siswa SMP, dengan menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol yaitu kelompok yang diperkenalkan dan tidak diperkenalkan dengan
program tersebut tersebut dengan menggunakan pretest-posttest design, dimana
hanya setengah dari siswa-siswa tersebut diberikan pretest untuk menentukan
seberapa banyak perubahan sikap dapat dikatakan disebabkan oleh pretesting atau
oleh program pendidikan.
3. Studi
untuk menyelidiki perbedaan pemahaman sains di kelas satu Sekolah Dasar, antara
siswa yang berasal dari Taman Kanak-Kanak dan yang tidak melalui Taman
Kanak-Kanak.
4.
Penelitian untuk menyelidiki efek pemberian tambahan makanan disekolah kepada
murid-murid SD disuatu daerah yang memperhatikan keadaan sosial ekonomi
orangtua dan taraf intelegensi.[21]
BAB III
KESIMPULAN
Bereksperimen ialah mengadakan kegiatan
percobaan untuk melihat sesuatu hasil. Hasil tersebut yang akan menegaskan
bagaimanakah kedudukan berhubungan kausal antara variabel-variabel yang diselidiki.
karakteristik penting dalam penelitian eksperimen yaitu variabel bebas
yang dimanipulasi, variabel lain yang berpengaruh dikontrol agar tetap konstan,
dan observasi langsung oleh peneliti. desain eksperimen yang dapat digunakan dalam
penelitian bisnis, yaitu: Pre-eksperimental design, True eksperimental design,
faktorial design, dan Quasi eksperimental design. Di dalam penelitian
eksperimen terdapat dua validitas, yaitu validitas internal dan eksternal.
Tujuan utama penelitian eksperimen yaitu untuk
menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan
satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi perlakuan dan
memperbandingkan hasilnya dengan satu/lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai
kondisi perlakuan. Langkah penelitian eksperimen dimulai dengan melakukan
telaah kepustakaan yang berhubungan dengan permasalahan, dan berakhir dengan
membuat interpretasi terhadap hasil pengujian tersebut, memberikan diskusi, dan
membuat laporannya. Pengeksperimen yang etis, pada dirinya melekat
suatu kewajiban dan tanggungjawab, baik terhadap mereka yang dikenakan
eksperimen , maupun terhadap teman-teman seprofessinya serta pada masyarakat
luas. Contoh penelitian eksperimen salah satunya yaitu penelitian untuk
menyelidiki efek pemberian tambahan makanan disekolah kepada murid-murid SD
disuatu daerah yang memperhatikan keadaan sosial ekonomi orangtua dan taraf
intelegensi.
DAFTAR PUSTAKA
Emzir. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan
Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta : Raja
Grafindo Persada
Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya
: Usaha Nasional
Fraenkel, Wallen. 1932. How to Design and evaluate
research in education. New York :
McGraw-Hill
Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan.
Jakarta : PT Rineka Cipta
Surakhmad, W. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah.
Bandung : Tarsito
Sugiyono. 2008. Metode penelitian pendidikan. Bandung
: Alfabeta
Suryabrata, S. 2012. Metodologi Penelitian. Jakarta
: Rajawali Press
[1] Margono,Metodologi
Penelitian Pendidikan,(Jakarta:PT Rineka Cipta,2004),hlm. 1
[2]
Sugiyono, Metode penelitian pendidikan, (Bandung:Alfabeta,2008),hlm. 6
[3]
Winarno surakhmad,pengantar Penelitian Ilmiah,(Bandung:Tarsito,1994),hlm.149-150
[4] Sugiyono,
Op. cit, hlm. 107
[5] Margono,
Op. cit, hlm. 110-114
[6] Emzir, Metodologi Penelitian
Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009),
h.180-182
[7] Sugiyono,
Op. cit, hlm. 108-113
[8]
Sanapiah faisal, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Surabaya:Usaha
Nasional,1982)hlm. 103-104
[9] Sugiyono,
Op. cit, hlm. 114-116
[10] Winarno
surakhmad, Op. cit, hlm. 149
[11] Sumadi
Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta : Rajawali Press, 2012), hlm.
88
[12] Ibid,
hml. 90
[13] Sanapiah
Faisal, Op. cit, hlm. 77
[14] Sumadi
Suryabrata, Op. cit, hlm. 90-91
[15] Sanapiah
Faisal, Op. cit, hlm. 80
[16] Sanapiah
faisal, Ibid, hlm. 86-88
[17] Sanapiah,
ibid, hlm. 89-94
[18] Sanapiah,
ibid, hlm. 81-82
[19]
Sanapiah, ibid, hlm. 111-115
[20] Fraenkel, Wallen, How to Design and
evaluate research in education, (New York
: McGraw-Hill,1932), hlm.281
[21] Sumadi
Suryabrata, Op cit, hlm. 91
Tidak ada komentar:
Posting Komentar