Selasa, 21 Oktober 2014

Penelitian Eksperimen

PENELITIAN EKSPERIMEN
(Ditujukan guna memenuhi Tugas Metode Penelitian Pendidikan)

Dosen Pengampu:
Nukhbatul Bidayati Haka, M.pd

Disusun Oleh:
Nama                              : Dwi Retno Wati
NPM                              : 1211060215
Jurusan/Semester            :  Pendidikan Biologi A/V

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2014


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Penelitian merupakan semua kegiatan pencarian, penyelidikan, dan percobaan, secara alamiah dalam suatu bidang tertentu, untuk mendapatkan fakta-fakta atau prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk mendapatkan pengertian baru dan menaikkan tingkat ilmu serta teknologi. Tujuan penelitian secara umum adalah untuk meningkatkan daya imajinasi mengenai masalah-masalah pendidikan. Kemudian meningkatkan daya nalar untuk mencari jawaban permasalahan itu melalui penelitian.[1] melalui penelitian inilah manusia dapat menggunakan hasilnya.
Metode penelitian pendidikan dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan. Berdasarkan dari segi metode penelitian, maka dapat dibedakan menjadi 9 macam penelitian, salah satunya yaitu penelitian Eksperimen.[2] Metode penelitian eksperimen mencakup komponen-komponen eksperimen, baik yang berkaitan dengan pengertian, bentuk desain, kelompok eksperimen, variabel, validitas,  rancangan, maupun etik dalam penelitian eksperimen terhadap diri sendiri.
Oleh karena itu, untuk lebih memahami tentang penelitian eksperimen, maka dalam makalah yang berjudul “Penelitian Eksperimen” ini, penulis akan menjelaskan komponen-komponen eksperimen yang telah penulis sebutkan sebelumnya.




B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.    Apakah pengertian dari penelitian eksperimen?
2.    Karakteristik Penelitian Eksperimen
3.    Bagaimanakah bentuk desain pada penelitian eksperimen?
4.    Apa saja tujuan penelitian eksperimen?
5.    Langkah-langkah Penelitian Eksperimen
6.    Bagaiman kelompok eksperimen dan kontrol?
7.    Apa saja variabel yang terdapat di dalam penelitian eksperimen?
8.    Bagaimana validitas dalam penelitian eksperimen?
9.    Apa saja tujuan validitas internal dan eksternal dalam penelitian eksperimen?
10.              Bagaimana etik dalam penelitian eksperimen terhadap diri manusia?
11.              Bagaiman contoh penelitian eksperimen?

C.  Tujuan Penulisan
1.    Menyebutkan pengertian penelitian eksperimen.
2.    Menjelaskan karakteristik dalam penelitian eksperimen.
3.    Mendeskripsikan bentuk-bentuk desain dalam penelitian eksperimen.
4.    Menjelaskan tujuan yang hendak di capai dalam penelitian eksperimen.
5.    Menyebutkan langkah-langkah dalam penelitian eksperimen.
6.    Menjelaskan kelompok eksperimen dan kontrol.
7.    Menyebutkan variabel yang  ada di dalam penelitian eksperimen.
8.    Menjelaskan validitas eksperimen.
9.    Menjelaskan tujuan validitas inter  nal dan eksternal penelitian eksperimen.
10.              Menjelaskan bagaimana etik dalam penelitian eksperimen.
11.              Memberikan beberapa contoh penelitian eksperimen.

12.               
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Penelitian Eksperimen
Dalam arti kata yang luas, bereksperimen ialah mengadakan kegiatan percobaan untuk melihat sesuatu hasil. Hasil tersebut yang akan menegaskan bagaimanakah kedudukan berhubungan kausal antara variabel-variabel yang diselidiki. Eksperimen di dalam laboratorium lebih “mudah” dilakukan oleh karena adanya fasilitas yang khusus dan adanya situasi yang terpisah dari gangguan luar, sehingga setiap variabel dapat dimanipulasi menurut rencana. Tidak semua penelitian laboratorium memerlukan alat-alat yang khusus dibuat untuk penelitian itu, tetapi adakalanya sebuah penelitian eksperimental tidak mungkin dilakukan tanpa alat yang khusus. Eksperimen di luar laboratorium pada umumnya menghadapi kesulitan dalam pelaksanaanya mengingat lebih banyaknya kemungkinan mendapat gangguan. Menghadapi manusia adalah persoalan yang menimbulakan kesulitan tersendiri. Karena itu dicari cara-cara yang lain daripada yang lazim dipakai di dalam laboratorium, atau dengan jalan menyelidiki makhluk lain seperti kera, tikus, burung di dalam laboratorium. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh seorang eksperimentator tidak hanya dapat bersumber dari kesulitan mengadakan manipulasi berbagai situasi, tetapi juga dari dalam penyusunan metode itu sendiri. Sebuah metode eksperimental yang baik selalu mempergunakan perbandingan dengan satu (atau lebih) situasi lain.[3]
Penelitian eksperimen dilakukan di laboratorium yang dalam penelitiannya terdapat perlakuan (treatment). Dengan demikian metode penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. [4]
Penelitian menggunakan suatu percobaan-percobaan yang dirancang secara khusus guna membangkitkan data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Penelitian yang menggunakan rancangan rancangan percobaan dianggap sebagai jenis penelitian yang paling diinginkan oleh seorang peneliti. Yang dimaksud dengan “percobaan” ialah bagian penelitian yang membandingkan dua kelompok sasaran penelitian. Tampaknya bahwa penelitian eksperimen yang menggunakan percobaan hanya dapat dilakukan untuk pertanyaan-pertanyaan yang meenyangkut hal-hal yang dapat dikerjakan di dalam laboratorium, atau lapangan yang tidak menyangkut masalah kehidupan manusia. Tampak pula bahwa penelitian eksperimental sangat tepat untuk pertanyaan yang diubah menjadi hipotesis yang diungkapkan secara kuantitatif. Pada penelitian eksperimental penentuan setiap satuan percobaan di dalam kelompok perlakuan atau kelompok pembanding selalu dilakukan dengan undian, yang istilahnya penentuan secara acak. Dalam penelitian sosial hal ini sulit dilakukan. Walaupun demikian orang ingin juga mengikuti cara-cara meneliti menggunakan percobaan. Maka timbullah penelitian kuasi-eksperimental. Penelitian kuasi-eksperimental memberikan kesempatan untuk meneliti perlakuan-perlakuan di dalam masyarakat yang tidak di tempatkan dengan sengaja, melainkan terjadi secara alami. Akan tetapi, keampuhannya tidak dapat menyamai penelitian eksperimental yang sebenarnya.
Semua penelitian eksperimental bersifat menguraikan masalah disusun oleh upaya pemahamannya sehingga dikatakan merupakan penelitian analitik. Lain halnya dengan penelitian yang sama-sekali tidak menggunakan percobaan sehingga disebut penelitian non-eksperimental. percobaan kuasi-eksperimental pun sebenarnya lebih dekat ke non-eksperimental karena untuk penelitian itu tidak dilakukan suatu percobaan terkendali. Penelitian seperti ini dapat besifat analitik, tetapi dapat pula bersifat pemeriaan atau deskriptif.[5]

B.  Karakteristik Penelitian Eksperimen
Menurut Ary (1985), ada tiga karakteristik penting dalam penelitian eksperimen, karakteristik yang di maksud adalah:
1. Variabel bebas yang dimanipulasi (manipulasi)
Memanipulasi variabel adalah tindakan yang dilakukan oleh peneliti atas dasar  pertimbangan ilmiah. Perlakuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka untuk memperoleh perbedaan efek dalam variabel yang terkait.

2. Variabel lain yang berpengaruh dikontrol agar tetap konstan (Pengendalian)
Mengontrol merupakan usaha peneliti untuk memindahkan pengaruh variabel lain yang mungkin dapat mempengaruhi variabel terkait. Dalam pelaksanaan eksperimen, group eksperimen dan group kontrol sebaiknya diatur secara intensif agar karakteristik keduanya mendekati sama.
3. Observasi langsung oleh peneliti (Pengamatan)
Tujuan dari kegiatan observasi dalam penelitian eksperimen adalah untuk melihat dan mencatat segala fenomena yang muncul yang menyebabkan adanya perbedaan diantara dua group.[6]

C.  Desain Penelitian Eksperimen
Terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yang dapat digunakan dalam penelitian bisnis, yaitu: Pre-eksperimental design, True eksperimental design, faktorial design, dan Quasi eksperimental design. Macam-macam metode eksperimen tersebut yaitu:[7]
1.    Pre-eksperimental design (nondesigns)
Pre-eksperimental design belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh, karena terdapat variabel luar yang berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Jadi, hasil penelitian yang merupakan variabel-variabel itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen. Hal ini dapat terjadi karena tidak adanya variabel kontrol, dan sampel tidak dipilih secara random. Bentuk eksperimen ini ada beberapa macam, yaitu:
a.    One-shot case study
X         0
Paradigma dalam penelitian eksperimen model ini dapat digambarkan sebagai berikut:

X = treatment yang diberikan (variabel dependen)
0 = observasi (variabel dependen)
Paradigma tersebut dapat dibaca sebagai berikut: terdapat suatu kelompok diberi treatmen/perlakuan, dan selanjudnya diobservasi hasilnya. (Treatmen adalah sebagai variabel independent, dan hasilnya sebagai variabel dependent).
b.    One-group pretest-posttest design
O1 x O2
Pada eksperimen ini terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Desain ini digambarkan sebagai berikut:
Ket:
O1 = nilai pretest (sebelum diberi diklat)
O2 = nilai postest (setelah diberi diklat)
Pengaruh diklat terhadap prestasi kerja pegawai = (O2-O1)

c.    Intanct-group comparison
X         O1
O2
Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi dua, yaitu setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol yang diberi perlakuan. paradigma penelitiannya dapat digambarkan sebagai berikut:
O1 = hasil pengukuran setengah kelompok yang
Perlakuan diberi perlakuan
O2 = hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi perlakuan.
Pengaruh perlakuan = O1 – O2
                Seperti telah dikemukakan bahwa, ketiga bentuk desain eksperiment itu bila diterapkan untuk penelitian, akan banyak variabel-variabel luar yang masih berpengaruh dan sulit dikontrol sehingga validitas internal penelitian menjadi rendah.
2.    True eksperimental design
       Dikatakan true eksperimental (eksperimen yang betul-betul), karena dalam desain ini, peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Ddengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true eksperimental adalah bahwa, sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari populasi tertentu. Jadi, cirinya adalah adanya kelompok kontrol dan sampel dipilih secara random. Bentuk design true eksperimental yaitu:
a.    Posttest-only control design
       Dalam design ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Pengaruh adanya perlakuan (treatment) adalah (O1 : O2). Dalam penelitian yang sesungguhnya, pengaruh treatment dianalisis dengan uji beda, pakai statistik t-test. Desainnya digambarkan sebagai berikut:
R         X         O2
R                     O4
 



b.    pretest-posttest control group design
R         O1        X         O2
R         O3                    O4
       Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random, kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal apakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil pretest yang baik bila nilai kelompok eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Pengaruh perlakuan adalah (O2 – O1) - (O4 – O5). Desainnya digambarkan sebagai berikut:


3.    faktorial design
R         O1        X         Y1       O2
R         O3                    Y1       O4
R         O5        X         Y2       O6
R         O7                    Y2       O8
       Desain faktorial merupakan modifikasi dari design true eksperimental, yaitu dengan memperhatikan kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan (variabel) independen) terhadap hasil (variabel dependen). Paradigma design faktorial dapat digambarkan seperti berikut:





       Pada desain ini semua kelompok dipilih secara random, kemudian masing-masing diberi pretest. Kelompok penelitian dinyatakan baik, bila setiap kelompok nilai pretestnya sama, jadi O1 = O3 = O5 =O7. dalam hal ini variabel moderatornya adalah Y1 dan Y2.
4.    Quasi eksperimental design
       Pada rancangan jenis ini, kontrolnya boleh dikatakan lebih baik daripada rancangan pra-eksperimen. Tapi juga masih terdapat kelemahan-kelemahan karena lazimnya tak mencapai ekuivalensi antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol; akibat tak dilakukannya prosedur perambangan dalam pilihan kelompok.[8] Berikut ini dikemukakan dua bentuk desain quasi eksperimen, yaitu:
a.    Time series design
O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8
Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila dalam hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan kelompok dapat diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment. Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol.

       Hasil pretest yang baik adalah O1 = O2 = O3 = O4 dan hasil perlakuan yang baik adalah O5 = O6 =  O7 = O8. besarnya pengaruh perlakuan adalah = ( O5 + O6 +O7 + O8 ) - (O1 + O2 O3 +O4 )
b.    Nonequivalent control group design
       Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group, hanya saja pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. [9]


D.  Tujuan Penelitian Eksperimen
Tujuan eksperimen bukanlah pada pengumpulan dan deskripsi data, melainkan pada penemuan faktor-faktor penyebab dan faktor-faktor akibat; karena itu, maka di dalam eksperimen orang bertemu dengan dinamik dalam interaksi variabel-variabel.[10] Selain itu, tujuan utama penelitian eksperimen yaitu untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu/lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.[11] Tujuan kedua yaitu eksternal validity yang menanyakan persoalan seberapa reperesentatifkah penemuan-penemuan penelitian ini dan seberapa jauh hasil-hasilnya dapat digeneralisasikan kepada subjek-subjek atau kondisi yang semacam. [12]
Tujuan jangka dekat dari eksperimen, ialah untuk memprediksikan kejadian atau peristiwa di dalam latar eksperimental. Sedangkan tujuan akhirnya, ialah untuk menarik generalisasi hubungan-hubungan antar variabel yang mencangkup juga populasi lebih luas di luar laboratorium.[13]

E.  Langkah-langkah Penelitian Eksperimen
Langkah-langkah pokok penelitian eksperimen meliputi:
1.    Lakukan telaah kepustakaan yang berhubungan dengan permasalahan.
2.    Identifikasi dan definisikan masalahnya.
3.    Rumuskan hipoteisis, tentukan faktor-faktor yang berpengaruh, dan definisikan istilah-istilah pokok dan variabel-varibel penelitiannya.
4.    Susun rencana eksperimennya:
a)    Identifikasi seluruh variabel non-eksperimental yang mungkin mengkontaminasi eksperimen dan tentukan bagaimana untuk mengontrol variabel tersebut.
b)   Pilihlah rancangan penelitiannya.
c)    Pilihlah sampel dari subyek yang representatif bagi populasi, tentukan subyek untuk kelompok kontrol dan tentukan kelompok-kelompok perlakuan eksperimen.
d)   Pilih atau susun dan validasi instrumen yang akan digunakan untuk mengukur hasil eksperimen
e)    Rancangkan prosedur pengumpulan data dan kemungkinan melakukan pilot atau uji coba untuk menyempurnakan instrumen atau rancangan.
f)    Rumuskan hipotesis statistik atau hipotesis nolnya.
5.    Lakukan eksperimen
6.    Aturlah/susun data mentah yang diperoleh, dengan tujuan pengaturan data tersebut akan menghasilkan kesimpulan paling baik terhadap efek yang diperkirakan akan ada.
7.    Terapkan uji signifikansi untuk menentukan taraf kepercayaan terhadap hasil penelitian .
8.    Buatlah interpretasi terhadap hasil pengujian tersebut, berikan diskusi, dan buatlah laporannya.[14]











F.   Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Suatu eksperimen mengandung upaya perbandingan mengenai akibat suatu tritmen tertentu dengan suatu tritmen lainnya yang berbeda, atau dengan yang tanpa tritmen. Di dalam referensi mengenai eksperimen konvensional yang sederhana, biasanya dibuatkan suatu kelompok eksperimen dan suatu kelompk kontrol.
Kelompok eksperimen dan kotrol tadi, sedapat mungkin sama atau mendekati sama ciri-cirinya. Pada kelompok eksperimen diberikan pengaruh atau tritmen tertentu, sedangkan di kelompok kontrol tidak diberikan; kemudian diobservasi untuk melihat atau menentukan perbedaan atau perubahan yang terjadi pada kelompok eksperimen, tentu saja perbedaan atau perubahan sebagai hasil bandingan dengan yang terdapat di kelompok kontrol. Namun bagaimanapun juga, eksperimen tidak selalu ditandai dengan perbandingan suatu kelompok yang diberi tritmen dengan kelompok lainnya yang tak diberi tritmen. Ada banyak tipe, kadar dan tingkatan faktor eksperimental yang bisa ditetapkan pada sejumlah kelompok-kelompok.[15]

G. Variabel dalam Penelitian Eksperimen
1.    Definisi Operasional dari Variabel-variabel eksperimental
Variabel adalah kondisi-kondisi atau karakteristik-karakteristik yang oleh pengeksperimen dimanipulasikan, dikontrol, dan diobservasi. Variabel-variabel seperti bakat, prestasi belajar atau kreativitas, kesemuanya merupakan definisi-definisi konseptual yang pengertian-pengertiannya seperti di kamus-kamus. Tapi karena konsep-konsep tadi tak dapat diobservasi secara langsung, maka rumusan-rumusannya tetap kabur dan membingungkan. Variabel-variabel tadi, perlu didefinisikan ke dalam bentuk rumusan lebih operasional, rumusan yang lebih pasti dan tak membingungkan. Variabel-variabel tadi, perlu didefinisikan ke dalam bentuk rumusan lebih operasional, rumusan yang dapat diobservasi dan diukur. Ketiga contoh tadi, dapat didefinisikan secara operasional, misalnya menunjuk pada biji atau skor dari sesuatu tes tertentu yang relevan. Jika definisinya sudah relevan operasional, maka tak akan ada keraguan (ketakpastian) mengenai apa yang dimaksudkan peneliti.
Supaya berguna tentunya, definisi-definisi operasional mestilah didasarkan pada suatu teori yang secara umum diakui kevaliditasannya. Istilah-istilah operasional yang digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu variabel, bisa jadi tidak relevan setelah dipertimbangkan secara akal sehat.
2.    Variabel dalam penelitian
Macam-macam variabel dalam penelitian yaitu:
a.       Variabel Bebas dan Variabel Tergantung
Variabel bebas (independent variable) ialah kondisi atau karakteristik yang oleh pengeksperimen dimanipulasikan di dalam rangka untuk menerangkan hubungan dengan fenomena yang diobservasi. Sedangkan variabel tergantung (dependent variabel), ialah kondisi atau karakteristik yang berubah, atau muncul, atau yang tidak muncul ketika pengeksperimen mengintroduksi, merubah, atau mengganti variabel bebas.
Pada penelitian pendidikan, variabel bebasnya mungkin suatu metode mengajar tertentu, suatu tipe bahan belajar tertentu, suatu imbalan tetentu, suatu jangka waktu penyajian disuatu kondisi tertentu atau lain-lainnya yang serupa. Sedangkan variabel tergantung, mungkin berupa biji tes, jumlah kesalahan, kecepatan menyelesaikan suatu tugas atau lain-lainnya yang serupa. Dengan demikian, variabel tergantung menunjuk pada akibat atau pengaruh yang dikarenakan variabel bebas.
b.    Variabel Organismik atau Variabel Atribut
Variabel organismik (organismic or attribue vaariable) menunjuk pada karakteristik-karakteristik yang tak dapat diubah oleh pengeksperimen. Variabel-variabel bebas seperti umur, jenis kelamin, suku atau yang lainnya yang serupa, kesemuanya sudah demikian adanya selaku variabel. Meski demikian, variabel-variabel serupa itu dapat juga di dalam study eksperimen. Pertanyaan tentang apakah puteri 8 tahun menunjukkan prestasi membaca lebih tinggi dibandingkan dengan putera usia 8 tahun, merupakan salah satu contoh (jenis kelamin merupakan variabel organismik yang berfungsi sebagai variabel bebas). Dalam hubungan ini, katakanlah masing-masing kelompok tadi berada dalam kondisi dan situasi eksperimental yang sama, kecuali dalah hal jenis kelaminnya. Dengan demikian, jenis kelamin merupakan/manjadi variabel, maka ia tak dapat dimanipulasikan, sebab sudah ditentukan begitu adanya.
c.    Variabel Imbuhan
Variabel imbuhan (extraneous variabel) adalah variabel-variabel yang tak dapat dikontrol (misalnya variabel-variabel yang tak dapat dimanipulasikan oleh pengeksperimen) yang mungkin mempunyai pengaruh berarti pada variabel targantung. Dalam suatu study yang dipublikasikan secara luas, penelitiannya mau melihat perbandingan efektifitas tiga metoda pengajaran study-study (social studies). Dalam hubungan ini, kelas-kelas yang baik digunakan. Kriteria keevektifitasan ialah pretasi belajar, yaitu diukur berdasarkan biji atau skor-tes standard. Dalam penelitian tersebut, penelitiannya tak dapat merambang atau mengontrol variabel-variabel seperti kompetensi dan antusiasme pada guru, juga tak dapat dan mengontrol usia, tingkat sosial ekonomi, serta kesanggupan akademis para pelajar. Dengan demikian, tampak jelas adanya banyak variabel imbuhan yang melemahkan kesakhehan kesimpulan-kesimpilan mengenai efektivitas relatif dari metoda-metoda pengajaran yang menjadi variabel bebas di penelitian bersangkutan.
Memang tak mungkin mengeliminir keseluruhan variabel-variabel imbuhan, terutama pada penelitian di ruang kelas. walau demikian, suatu rancangan eksperimen yang baik, memungkinkan penelitiannya untuk secara luas bisa menetralisir pengaruh variabel-variabel imbuhan.
3.    Pengontrolan variabel imbuhan
            Variabel-variabel yang bukan merupakan perhatian langsung peneliti, dapat ditiadakan, minimal diminimalkan pengaruhnya, yaitu melalui beberapa metode. Metode-metode yang dimaksud adalah meniadakan variabel, menjodohkan kasus, penyeimbangan kasus, dan analisis kovarian.
Pada suatu eksperimen, perbedaan-perbedaan dalam variabel-variabel tergantung yang mungkin dikarenakan pengaruh atau efek variabel-variabel bebas, dikenal sebagai varian eksperimental. Signifikan tidaknya suatu eksperimen diuji dengan membandingkan varian eksperimental dengan varian kesalahan. Jika perbedaan-perbedaan diantara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol begitu besar daripada yang dimungkinkan karena varian kesalahan, maka bisa diperkirakan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut kemungkinannya dikarenakan varian eksperimental.[16]



H.  Validitas Eksperimen
Suatu eksperimen mempunyai kontribusi yang berarti bagi pengembangan pengetahuan, maka mestilah memiliki dua tipe validitas, yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Suatu eksperimen mempunyai validitas internal sepanjang faktor-faktor yang dimanipulasikan (variabel bebas) benar-benar sejati tulen pengaruh atau efeknya pada fenomena-fenomena variabel tergantung yang diobservasi dalam latar eksperimen. Bila peneliti hanya mencapai validitas internal, maka nilai praktis penemunya akan rendah. Sebab penemuannya tidak diberlakukan di luar eksperimentasi bersangkutan. Untuk itu, perlu pula mencapai validitas eksternal. Dikatakan memiliki validitas eksternal, sepanjang hubungan antara variabel yang ditemukan dapat digeneralisasikan pada situasi-situasi non-eksperimental (bisa degeneralisasikan pada latar lain, tritmen lain, pengukuran lain, populasi lain).  
Validitas eksperimen yang ideal, tentunya mencapai kedua tipe validitas tadi. Hal ideal tersebut biasanya tidak dapat dicapai secara sempurna. Pada penelitian tingkah laku, yang pada latar non laboratoris, sangat sukar mencapai validitas internal, sebab begitu banyak variabel imbuhan yang mesti dikontrol; pengontrolannya tak mampu dilakukan sesempurna-sesempurnanya. Susahnya lagi, bila begitu ketat suasana buatan serta pengontrolannya dilakukan, bisa jadi semakin tidak relistiknya situasi sehingga mengurangi validitas eksternal eksperimentasi itu sendiri. Karenanya, tak bisa tidak, meski dikompromikan sehingga ada keseimbangan antara kepentingan validitas eksternal dengan kepentingan validitas internal.
a.    Ancaman terhadap validitas internal
     pada eksperimen pendidikan atau pada eksperimen tingkah laku lainnya yang dilaksanakan di luar laboratorium, ancamannya bisa datang dari banyaknya variabel imbuhan yang hadir disituasi eksperimen; variabel imbuhan tersebut bisa juga dikarenakan rancangan dan prosedur eksperimen itu sendiri. Dengan adanya berbagai kemungkinan variabel imbuhan tadi, tentunya ikut mempengaruhi hasil eksperimen, dan hal demikian itu cukup sukar dievaluasinya. Pengaruh variabel-variabel imbuan tadi, memang sukar dieleminir secara total, tetapi ada banyak di antaranya yang dapat diidentifikasi. Pada penelitian-penelitian tingkah laku, perlu sekali mengantisipasi variabel-variabel imbuhan tadi dan mengupayakan sedemikian rupa guna meminimalkan pengaruhnya terhadap proses dan hasil eksperimen. Ada sejumlah faktor yang jelas membahayakan kekuatan eksperimen di dalam mengevaluasi pengaruh atau efek variabel bebas. Dalam hubungan ini, Donald T campbell and julian C stanley membahas faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor yang dimaksud yaitu faktor kematangan, peristiwa sewaktu-waktu, pengukuran tak stabil, regresi statistik, pilihan yang berbeda, dan menguapnya sampel eksperimen.
b.    Ancaman terhadap validitas eksternal
     Validitas eksternal berurusan dengan kekuatan sesuatu eksperimen untuk digeneralisasikan penemuan-penemuannya (hubungan-hubungan variabel) ke populasi yang lebih luas. Ancaman-ancaman terhadap validitas ekstenal yaitu latar eksperimen yang buatan dan pengaruh placebo hawthorne yang menunjuk pada ancaman yang psikologis sifatnya.[17]

I.     Validitas Internal dan Validitas Eksternal
Peneliti mempunyai dua tujuan besar, yaitu:[18]
1.      Mesti berusaha menentukan apakah faktor-faktor yang telah dimodifikasi benar-benar memberikan/mempunyai pengaruh atau efek sistematis pada latar eksperimen, dan apakah tampakan gejala/peristiwa yang diobservasi benar-benar tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar atau faktor-faktor yang tidak dikontrol. Bila tujuan tersebut dicapai, berarti mencapai validitas internal (internal validity) dari suatu eksperimen. Sepanjang penemuannya mencapai taraf demikian, berarti menggambarkan validitas internal suatu eksperimen. Tapi bila penemuannya itu hanya benar dan berlaku disuatu eksperimen (berarti sekedar mencapai validitas internal), sudah tentu nilai praktis penemuannya akan kecil.
2.      Meski juga menentukan, apakah hubungan-hubungan sistematis yang telah diidentifikasi, dikontrol dan diukur itu dapat digeneralisasikan: dapat digunakan untuk memprediksikan hubungan-hubungan di luar latar eksperimen. Sepanjang hal itu dicapai, berarti suatu ukuran yang menggambarkan validitas eksternal (external validity) suatu eksperimen.



J. Etik Dalam Eksperimen Terhadap Diri Manusia
Eksperimen yang dilakukan terhadap diri manusia, baik dalam dunia medis,psikologis, ataupun lainnya, mestilah tetap berpegang teguh pada prinsip etik yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Suatu eksperimen terhadap diri manusia, sudah terang mengandung implikasi etis, suatu konsekuensi logis dari diakuinya harkat dan martabat manusia. Sejumlah issue dan soal bermunculan mengenai hal ini. Beberapa diantara soal-soal etis dimaksud telah “diamankan” melalui perundang-undangan, beberapa lainnya lagi melalui kode etik profesi. Tapi ada juga soal-soal yang masih tersisa dan belum terpecahkan. Dalam hubungan ini, kiranya perlu dicamkan bahwa tujuan akhir eksperimen-eksperimen itu, pada dasarnya untuk kesejahteraan umat manusia. Tujuan mulia tersebut, penangannya perlu diamankan dari resiko-resiko yang membahayakan/merugikan subyek-subyek yang terkena eksperimen.
Dalam pelaksanaan eksperimen, bisa jadi pengeksperimennya melakukan pengamatan dan pencatatan secara rahasia (tanpa diketahui oleh mereka yang diobservasi; bisa jadi mencari informasi yang bersifat pribadi dan rahasia mengenai diri atau keluarga mereka yang diteliti; bisa jadi menggunakan tipu atau berbohong demi keberhasilan pelaksanaan eksperimennya; bisa jadi eksperimennya itu membawa resiko membahayakan (fisik atau psikis) bagi mereka yang dikenakan eksperimen.
Pengeksperimen yang etis,pada dirinya melekat suatu kewajiban dan tanggungjawab, baik terhadap mereka yang dikenakan eksperimen , maupun terhadap teman-teman seprofessinya serta pada masyarakat luas. Karena itulah, ia mesti senantiasa mengutamakan obyektivitas ilmiah di atas kepentingan pribadi, serta menyadari kewajibannya pada masyarakat untuk mengembangkan/memajukan ilmu pengetahuan di dalam penanganan studynya, senantiasa bersikap ilmiah (obyektif, tidak curang dengan data yang didapatkan, membiarkan datanya berbicara sebagaimana adanya, dan mau mengakui keterbatasan-keterbatasan dari study yang dilakukannya). Pengeksperimenan yang etis, juga tak lupa juga menyampaikan penghargaan dan berterimakasih kepada semua pihak yang ikut membantu terlaksanannya penelitian yang ditangani. Eksperimen-eksperimen yang berarti, kebanyakan berurusan dengan analisis mengenai hubungan antar sejumlah variabel-variabel. [19]

K.  Contoh-Contoh penelitian
Dalam memilih study untuk tinjauan ulang, kita menggunakan ukuran-ukuran berikut:
·         Pembelajaran harus dengan menerangkan contoh yang khas tetapi tidak terkemuka, secara metodologi, dan kritik yang membangun.
·         Pembelajaran harus lebih cukup menjaga perhatian para siswa, meskipun tidak ditunjukkan secara langsung.
·         Pembelajaran harus memiliki laporan singkat.[20]
Contoh-contoh penelitian eksperimen yang khas tersebut yaitu:
1. Menyelidiki pengaruh dua jenis metode mangajar terhadap hasil belajar mata pelajaran tertentu, berdasarkan ukuran kelas (kelas besar dan kecil) dan taraf intelegensi siswa (tinggi, sedang dan rendah) dengan cara menempatkan guru secara random berdasarkan intelegensia, ukuran kelas, dan metode mengajar.
2. Penelitian untuk menyelidiki pengaruh program pencegahan penyalahgunaan obat terhadap sikap para siswa SMP, dengan menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yaitu kelompok yang diperkenalkan dan tidak diperkenalkan dengan program tersebut tersebut dengan menggunakan pretest-posttest design, dimana hanya setengah dari siswa-siswa tersebut diberikan pretest untuk menentukan seberapa banyak perubahan sikap dapat dikatakan disebabkan oleh pretesting atau oleh program pendidikan.
3. Studi untuk menyelidiki perbedaan pemahaman sains di kelas satu Sekolah Dasar, antara siswa yang berasal dari Taman Kanak-Kanak dan yang tidak melalui Taman Kanak-Kanak.
4. Penelitian untuk menyelidiki efek pemberian tambahan makanan disekolah kepada murid-murid SD disuatu daerah yang memperhatikan keadaan sosial ekonomi orangtua dan taraf intelegensi.[21]
BAB III
KESIMPULAN

Bereksperimen ialah mengadakan kegiatan percobaan untuk melihat sesuatu hasil. Hasil tersebut yang akan menegaskan bagaimanakah kedudukan berhubungan kausal antara variabel-variabel yang diselidiki. karakteristik penting dalam penelitian eksperimen yaitu variabel bebas yang dimanipulasi, variabel lain yang berpengaruh dikontrol agar tetap konstan, dan observasi langsung oleh peneliti. desain eksperimen yang dapat digunakan dalam penelitian bisnis, yaitu: Pre-eksperimental design, True eksperimental design, faktorial design, dan Quasi eksperimental design. Di dalam penelitian eksperimen terdapat dua validitas, yaitu validitas internal dan eksternal.
Tujuan utama penelitian eksperimen yaitu untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu/lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan. Langkah penelitian eksperimen dimulai dengan melakukan telaah kepustakaan yang berhubungan dengan permasalahan, dan berakhir dengan membuat interpretasi terhadap hasil pengujian tersebut, memberikan diskusi, dan membuat laporannya. Pengeksperimen yang etis, pada dirinya melekat suatu kewajiban dan tanggungjawab, baik terhadap mereka yang dikenakan eksperimen , maupun terhadap teman-teman seprofessinya serta pada masyarakat luas. Contoh penelitian eksperimen salah satunya yaitu penelitian untuk menyelidiki efek pemberian tambahan makanan disekolah kepada murid-murid SD disuatu daerah yang memperhatikan keadaan sosial ekonomi orangtua dan taraf intelegensi.



DAFTAR PUSTAKA

Emzir. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta : Raja
 Grafindo Persada
Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional
Fraenkel, Wallen. 1932. How to Design and evaluate research in education. New York :
McGraw-Hill
Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta
Surakhmad, W. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito
Sugiyono. 2008. Metode penelitian pendidikan. Bandung : Alfabeta
Suryabrata, S. 2012. Metodologi Penelitian. Jakarta : Rajawali Press




[1] Margono,Metodologi Penelitian Pendidikan,(Jakarta:PT Rineka Cipta,2004),hlm. 1
[2] Sugiyono, Metode penelitian pendidikan, (Bandung:Alfabeta,2008),hlm. 6
[3] Winarno surakhmad,pengantar Penelitian Ilmiah,(Bandung:Tarsito,1994),hlm.149-150
[4] Sugiyono, Op. cit, hlm. 107
[5] Margono, Op. cit, hlm. 110-114
[6] Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), h.180-182
[7] Sugiyono, Op. cit, hlm. 108-113
[8] Sanapiah faisal, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Surabaya:Usaha Nasional,1982)hlm. 103-104
[9] Sugiyono, Op. cit, hlm. 114-116
[10] Winarno surakhmad, Op. cit, hlm. 149
[11] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta : Rajawali Press, 2012), hlm. 88
[12] Ibid, hml. 90
[13] Sanapiah Faisal, Op. cit, hlm. 77
[14] Sumadi Suryabrata,  Op. cit, hlm. 90-91
[15] Sanapiah Faisal, Op. cit, hlm. 80
[16] Sanapiah faisal, Ibid, hlm. 86-88
[17] Sanapiah, ibid, hlm. 89-94
[18] Sanapiah, ibid, hlm. 81-82
[19] Sanapiah, ibid, hlm. 111-115
[20] Fraenkel, Wallen, How to Design and evaluate research in education, (New York : McGraw-Hill,1932), hlm.281
[21] Sumadi Suryabrata,  Op cit, hlm. 91

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah fisiologi hewan)

EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS ( Pterophyllum scalare ) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna m...