PARASITOLOGI
(Fasciolopsis
buski, Fasciola hepatica, Clonorchis sinensis, Paragonimus westermani dan Echinostoma spp)
Oleh
Kelompok 3:
Nama: Npm:
Dwi
Retno Wati 1211060215
Rini
Astuti 1211060077
Umi
Karomah 1211060066
Qori
A’yuna 1211060099
Mira
Mustika Sari 1211060144
Diki
Eka Nuryuli Afip 1211060124
Ida
Julaiha 1211060089
Jurusan : Pendidikan Biologi (A)
Semester : V (lima)
Dosen
pengampu : Suharno Zen, M.Sc
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
2014
KATA PENGANTAR
Assalamu’allaikum.
Wr. Wb.
Dengan
Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT. karena berkat nikmat, ma’unah dan hidayah-Nya, makalah ini
dapat diselesaikan. Shalawat serta salam kami sanjungkan atas keharibaan Nabi
besar Muhammad SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah berjuang
dan berkorban demi tegaknya syi’ar Islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga
kini masih terasa.
Makalah
ini disusun selain sebagai tugas individu juga agar dapat menambah pengetahuan dan pemahaman pembaca
dan penyusun pada khususnya, terhadap materi yang dikaji yaitu mengenai “PARASITOLOGI (Fasciolopsis Buski,
Fasciola Hepatica, Clonorchis Sinensis, Paragonimus Westermani dan Echinostoma
Spp)”. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih
banyak memiliki kekurangan. Oleh sebab itu, saran dan kritik sangat kami
harapkan, agar makalah ini dapat lebih baik untuk kedepannya.
Wassalamu’allaikum.
Wr. Wb.
Bandar
Lampung, Oktober 2014
Penulis
DAFTAR ISI
COVER..................................................................................................................... i
KATA
PENGANTAR............................................................................................. ii
DAFTAR
ISI .......................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................... 2
1.3 Tujuan .......................................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
2.1
Fasciolopsis buski......................................................................................... 3
2.2
Fasciola hepatica.......................................................................................... 5
2.3
Clonorchis sinensis........................................................................................ 9
2.4
Paragonimus westermani............................................................................. 10
2.5 Echinostoma
spp.......................................................................................... 13
BAB
III KESIMPULAN ....................................................................................... 16
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................. 17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hewan yang tidak bertulang belakang
atau invertebrata terdiri atas beberapa jenis dan golongan. Jika ada yang
memiliki rangka, maka rangka itu berbeda dengan rangka biasa yang kita kenal.
Umumnya rangka invertebrata tersebut ada di luar menyelubungi tubuhnya. Hewan-hewan
yang tidak bertulang belakang semuanya memiliki struktur morfologi dan anatomi
lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang belakang. Misalnya
untuk peredaran darahnya bila kita amati, peredaran darah pada hewan bertulang
belakang telah sempurna dengan jantung yang memiliki kamar-kamar dan pembuluh
yang mempunyai tugas masing-masing.
Parasit merupakan hal yang sangat merugikan
bagi tubuh yang di tempatinya, mereka hidup dengan memakan nutrisi pada tubuh
yang di tempatinya, dan dapat memberikan efek negative bagi hospes. Parasit di
bagi beberapa kelompok yaitu mikologi, entologi, protozologi, dan helmintologi.
Pada makalah ini akan di bahas
tentang kelompok helmintologi atau cacing cacing sangat merugikan jika terdapat
dalam tubuh manusia, cacing ada beberapa jenis salah satunya trematoda.
Trematoda adalah cacing yang secara
morfologi berbentuk pipih seperti daun. Pada umumnya cacing ini bersifat
hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Pada dasarnya daur hidup trematoda ini
melampui beberapa beberapa fase kehidupan dimana dalam fase tersebut memerlukan
hospes intermedier untuk perkembangannya.
Menurut lokasi berparasitnya cacing
trematoda dikelompokkan sbagai berikut:
1). Trematoda
paru: Paragonimus westermani
2). Trematoda
usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma
sp, E. ilocanum
3). Trematoda
hati: Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica, F. gigantica.
4).
Trematoda pembuluh darah: Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum
Untuk mengenal lebih jauh tentang
cacing trematoda, maka penulis akan membahas lebih
lanjut beberapa spesies dari yang telah disebutkan di
atas dalam makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Dari
latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa masalah yaitu:
1. Apakah definisi dari masing-masing spesies cacing trematoda dan Morfologi umum?
2. Bagaimana
siklus hidup dari masing-masing spesies cacing trematoda?
3. Bagaimana epidemologis masing-masing dari
spesies cacing trematoda?
4. Bagaimana diagnosis dari masing-masing spesies
trematoda?
1.3
Tujuan
1.
Memahami
tentang definisi dari masing-masing spesies cacing trematoda dan Morfologi umumnya.
2.
Memahami
tentang siklus
hidup dari masing-masing spesies cacing trematoda.
3.
Memahami
epidemologis masing-masing dari spesies cacing trematoda.
4.
Memahami
tentang diagnosis dari masing-masing spesies trematoda.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Fasciolopsis buski
Cacing ini dinamakan juga giante intestinal fluke of man atau ginger worm. Di Asia dinamakan demikian karena bentuknya separti akar
jahe. Penyakit yang ditimbulkan dinamakan fasciopsiapsis. Cacing dewasa
berukuran 2,0 - 7,5 cm dan mekat erat dengan dinding usus halus.
Gambar. Morfologi Fasciolopsis buski
Fasciolopsis buski
merupakan cacing yang endemic di Asia Timur. Sampai saat ini diperkirakan ada
sepuluh juta orang yang terinfeksi. manusia terinfeksi cacing ini bila mengkonsumsi
makanan yang terkonta minasi dengan larvarnya yang dinamakan metacerceria. Larva
ini biasanya melekat pada tanaman air, seperti buah berangan, rebung. Setelah termakan, larva
ini akan berkembang dan menjadi dewasa dalam usus halus dalam waktu 3 bulan dan
akan hanya hidup selama 6 bulan saja. Cacing yang hermafrodit ini menghasilkan
telur yang dikeluarkan bersama-sama tinja dalam keadaan belum berembrio. Jika telur
ini jatuh di air, menetaslah larva pertama yang dinamakan miracidium. Larva ini
mampu berenang dan mencari intermediate
host, yaitu: siput Planorbis spp,
Trochorbis trochoridues, dan Segmentina spp. Dalam tubuh siput,
miracidium ini berkembang menjadi sporocyst, redia dan cercaria. Dari miracidium
sampai cerceria di butuhkan waktu 1 - 2 bulan. Cerceria ini kemudian keluar
dari tubuh siput untuk mencari tanaman air, selanjudnya menjadi metacerceria
yang infeksius bagi manusia. Metacerceria sebenarnya merupakan fluke muda, yang
tidak penetrasi melakukan ke tanaman, tapi hanya menempelkan dirinya saja.
Cacing dewasa berukuran 2,0 - 7,5 x 0,8 - 20 cm,
memiliki oral sucker yang kecil dan
duri-duri kecil. Ovariumnya bercabang di pertengahan tubuh dan testesnya
bercabang di bagian tengah posterior tubuh.
Gambar. Siklus Hidup Cacing Fasciolopsis buski
Fluke pada cacing Fasciolopsis buski menyebabkan peradangan, perlukaan, hipersekresi mukosa usus halus di dekat tempat
menempelnya cacing. Pada infeksi yang berat, cacing dapat di temukan pula di
lambung dan colon dan menyebabkan obstruksi usus.
Pada anak-anak infeksi yang berat menimbulkan oedema
pada wajah dan badan yang sebenarnya di sebabkan oleh proses alergi, anemia difisiensi
B12 dan malabsorsi (yang menyebabkan
hipoalbuminemia sekunder). Sedangkan infeksi ringan umumnya tidak bergejala,
walaupun ada berupa sakit perut, nausea dan muntah. Masa inkubasi di perkirakan
antara 2 - 3 bulan setelah pemaparan dengan metacerceria.
Diagnosa ditegakkan dengan menemukan telur yang beroperculum
pada tinja penderia. Tidak ada tes serologis yang dapat dipergunakan untuk menegakkan
diagnosa, walaupun antibody dapat terbentuk pada infeksi dengan fluke ini.
Seperti yang telah dikatakan diatas, umur cacing ini 6 bulan, dan karena itu
berdasarkan diagnosa penderita tidak pernah didaerah endemis selama 6 bulan
atau lebih, maka diagnosa diragukan.
Tiga macam obat utama yang sering dipakai adalah Niclosamide,
Tetrachlorethylene dan Hexkylresorcinon. Angka penyembuhan dengan obat ini
sekitar 75%. Obat lain adalah Raziquantel yang akhir-akhir ini banyak menjadi
pilihan karena angka penyembuhannya mencapai 90%.
Babi merupakan reserpoir
host utama. Selain manusia, anjing, kelinci dan kerbau dapat pula
terinfeksi. Upaya pencegahan sebenarnya sangat mudah, yaitu dengan menganjurkan
masyarakat untuk selalu memasak sayur atau tanaman air yang biasa dimakan,
minum air yang telah direbus, dan mencegah penggunaan kotaran manusia sebagai
pupuk.
2.2
Fasciola Hepatica
Fasciola
hepatica dapat di temukan hampir diseluruh
dunia, terutama dinegara-negara yang hidup dari perternakan domba, disamping
itu dapat pula ditemukan pada herbivora
lain seperti sapi, onta, rusa ,dan dll. Cacing ini merupakan trematoda endemic didaerah yang beriklim
sedang. Epidemis sering timbul di Kuba,
Francis, dan Jerman, karena kebiasaan penduduk mengonsumsi selada air.
Cacing dewasa yang hidup dalam saluran empedu herbivor menghasikan telur yang belum
berembrio. Telur ini dikeluarkan dari tubuh herbivor
bersama-sama tinjanya. Jika telur ini masuk kedalam air dan menemukan suhu yang
optimal baginya yaitu 230C - 260C, ia akan segera
berkembang menjadi telur berembrio dalam waktu 9 - 15 hari. Miracidiumnya akan
segera keluar dari telur dan mencari siput Lymnea
spp, sebagai intermediate host
pertamanya. Didalam tubuh siput miracidium ini berkembang menjadi sporocyst
kemudian menjadi redia sebelum menjadi cerceria. Cerceria yang telah matang
akan meninggalkan siput dan berenang di air. Cerceria ini biasanya meninggalkan
siput pada malam hari, dengan membentuk white
minute spirules yang memiliki alat pelekat. Pada tanaman air cerceria ini
menjadi metacerceria yang infeksius bagi definitive
host.
Bila herbivora
memakan tanaman air atau minum air yang mengandung metacerceria, maka larva ini
akan menuju ke lambung dan duodenum, kemudian mempenetrasi dinding usus untuk
mencapai cavum peritonii. Dari sini metacerceria mempenetrasi glisson’ capsule untuk masuk ke jaringan
hepar, selanjutnya bermigasi kesaluran empedu. Selain memalui rute tersebut
metacerceria dapat pula melewati aliran lymphe dan menyebar ke organ tubuh
lain. Disaluran empedu metacerceria mencapai kematangan cacing dewasa dalam
waktu 3 - 4 bulan dan siap menghasilkan telur.
Gambar. Siklus Hidup Fasciola Hepatica
Fasciola hepatica
dewasa dapat mencapai ukuran 3 x 1,3 cm dan tubuhnya di tutupi dengan sisik.
Cacing ini memiliki ujung posterior yang tumpul, tetapi ujung anteriornya
membentuk bangunan yang dinamakan conicle
projection. Dapat di temukan dua buah super. System pencernannya terdiri
dari faring yang berlanjut dengan esofagus yang pendek akhir yang menjadi ceca
yang bercabang 2 di dekat acetabulum. Cacing ini hemaprodit dengan alat
reproduksi jantang terdiri dari dua buah testes yang bercabang-cabang di bagian
anterior dan pterior tubuh. Sedangkan alat reproduksi betina terdiri dari satu
ovarium yang terletak di anterior tubuh berbentuk lobus yang di kelilingi
viterallia dan uterus, bermuara di genita
pore .
Gambar. Morfologi Fasciola
Hepatica
Walaupun infeksi cacing ini hanya menimbulkan gejala
ringan, tetapi ada tiga gejala utama yang berbeda, yaitu pada stadium acute, chronic latent, dan chronic obstructive.
Infeksi akut terjadi bersama dengan berpenetrasinya
metacerceria ke parenchym hepar untuk masuk kesaluran empedu. Pada saat itu
timbul pembesaran hepar diikuti rasa sakit, panas tinggi, lekositosis dan
terkadang ikterus, urticaria bahkan anemia.
Infeksi kronis yang latent biasanya tidak
menimbulkan gejala jika ada berupa sakit di daerah hepar, diare, nausea,
tesfungsi hepar menunjukkan kelainan dan terjadinya hepatomegali.
Infeksi kronis yang obstruktif, terjadi sumbatan pada
saluran empedu dengan gejala seperti pada choledocholithiasis. Obstruksi kronis
sering menimbulkan hiperplasi saluran empedu yang di ikuti fribrosis ataupun
kalsifikasi.
Cacing dewasa dapat pula bermigrasi diluar
habitatnya seperti ke otak, paru-paru atau otot. Pada keadaan ini timbul gejala
berupa benjolan dengan rasa sakit. Jika cacing dewasa melekat di faring timbul
rasa sakit ketika menelan, pendarahan, oedema pada leher dan gangguan
pernapasan, keadaan yang dinamakan halzoun. Halzoun sering ditemukan ditimur
tengah pada penduduk yang sering
mengkonsumsi hati mentah.
Pemeriksaan tinja untuk menemukan telur Fasciola hepatica merupakan cara untuk
menegakkan diagnosa pasti, namun harus dapat dibedakan dengan telur Fasciola gigantic dan Fasciolopsis buski. Pemeriksaan
selorogis (IHA) sudah mulai digunakan orang, tetapi baru bermanfat pada keadaan
infeksi akut sebelum telur keluar bersama tinja. Pengobatan cacing ini menggunakan Bithionol
dan Raziquantel.
Pada manusia masalah timbul pada penduduk yang
memiliki kebiasaan mengonsumsi hati sapi atau domba secara mentah, dan mereka
yang biasa makan selada air yang secara tidak higenis dan minum air mentah.
Cara memutus rantai penularan selain dengan pengobatan penderita, penyuluhan
untuk tidak melakukan kebiasan di atas dan mengawasi siput penular.
Cacing ini hidup di saluran empedu. Siklus hidupnya
sama dengan Fasciola hepatica
termasuk juga intermediate host-nya
walaupun demikian definitive host-nya
agak berbeda yaitu kerbau, sapi, dan babi hutan. Manifestsi diagnosa
labolatoris, pengobatan dan epidemiologic acing ini sama dengan Fasciola hepatica.
Infeksi Fasciola
gigantic pada manusia jarang tejadi. Zoonosis ini terutama ditemukan di Afrika
Tengah, Rusia, Vietnam dan Hawai. Kebiasaan mengonsumsi selada air dan meminum
air mentah yang terkontaminasi metacerceria menjadi penyebab utama infeks
cacing ini.
Cacing ini lebih besar dari Faciola hepatica, ukurannya dapat mencapai 3.5 – 5 x 0,7 – 1 cm. Fastiola Gigantic memiliki conical projection yang lebih pendek
pada Fasciola hepatica. Oral sucser-nya lebih kecil dari pada ventral sucker-nya. Intergumennya
memiliki tipe yang sama dengan Fasciola hepatica.
Bentuk alat reproduksinya sama dengan Fasiola
hepatica, hanya saja ovariumnya bercabang dan testesnya lebih banyak
cabangnya. Telurnya sangat mirip dengan Fasciola
hepatica.
2.3
Clonorchis Sinensis
Clonorchis sinensis
merupakan trematoda yang menginfeksi
hepar. Sikus hidupnya sama dengan cacing Opistorchis
viverrini, hanya intermediate host-nya
berbeda.
Siklus hidupnya yaitu cacing dewasa biasa ada di
saluran empedu. Dari tempat ini ia menghasilkan telur yang dikeluarkan
bersama-sama tinja melalui saluran pencernan. Telur yang ada ditinja sudah
berembrio, jadi telah mengandung mirachidium. Telur ini harus jatuh ke air jika
tidak telur akan mati. Dalam air telur ini akan di mangsa oleh intermediate host. Di dalam saluran
cerna intermediate host, meracidium
ini menetas dan berkembang menjadi sporokis yang menghasilkan banyak redia.
Redia ini kemudian menjadi cerceria setela 1 - 1.5 bulan kemudian cerceria yang
sudah cukup tua akan meninggalkan intermediate
host dan berenang di air untuk mencari intermediate
host yang ke dua contohnya ikan.
Bila ia menemukan ikan, cerceria ini menembus sisik
ikan dengan kepalanya dan meninggalkan ekornya di luar. Dalam tubuhikan
cerceria berkembang menjadi metacerceria. Metacerecria yang berumur sekitar 5
minggu merupakan stadium infeksius bagi definitive
host. Bila definitive host memakan ikan yang mengandung metacerceria secara
mentah, maka metacerceria akan masuk ke lambung. Larva yang diaktifkan oleh empedu
akan bergerak sampai di duodenum dan akhirnya bermigrasi kesaluran empedu
melalui ampula pateri. Dari ampula ini ia bergerak ke saluaran empedu sebelah
distal di bawah capsula hepatis dan menjadi cacing dewasa di tempat ini. Cacing
dewasa mampu hidup selama 20 tahun. Keseluruhan pertumbuhan cacing ini perlu
waktu 2 bulan.
Gambar. Siklus Hidup dan Morfologi Clonorchis
Sinensis
Habitat
cacing ini juga di hepar, saluran empedu dan duo denum dan menimbulkan
manifestasi klinis yang sama dengan Opistrochi
viverrini. Cacing ini sering ditemukan di cina, mongol, jepang dan korea.
2.4
Paragonimus westermani
Paragonimus
westermani banyak di temukan di Asia Tenggara, America
Selatan, Mexico dan Afrika Tengah. Penyakit yang ditimbulkan dinamakan
paragonimiasis.
Siklus hidup cacing ini yaitu cacing dewasa yang ada
di paru bertelur, dan telurnya di keluarkan dari tubuh bersama tinja bila telur
tersebut jatuh ke air dalam waktu 3 menit, kemudian keluarlah miracidiumnya
untuk mencari intermediate host yaitu
siput. Dalam tubuh siput, miracidium ini berkembang menjdi sporokist, redia,
daughter media dan akhirnya menjadi cerceria. Cerceria cacing ini kemudian
berenang mencari intermediate host ke
dua, berupa ketam sejenis udang karang dll. Cerceria dari cacing ini berekor
pendek sehingga lebih senang hidup di dasar air. Pada intermediate host dua,
cerceria ini berubah menjadi metacerceria yang infeksius bagi definitive host.
Dalam tubuh definitive host yang
memakan intermediate host dua secara mentah, metacerceria ini masuk ke
duodenum, kerongga perut dan bermigrasi keparu melaluai media diagfragma untuk
menjadi dewasa disitu. Migrasi ini butuh waktu 3 minggu. Cacing dewasa mampu
menghasilkan telur 5 – 6 minggu dan berumur 6 - 7 tahun.
Fluke ini merupakan cacing yang tebal dan berotot,
berwarna coklat dan integumennya di tutupi spine. Ukuran cacing dewasa
berukuran antara 7 - 12 x 4 – 6 x 3 – 5
mm, kedua ujungnya baik anterior maupun posterior membulat. Cacing ini memiliki
dua buah sucker. Faringnya melanjutkan diri menjadi esophagus dan dua buah
ceca. Testesnya berjumlah dua buah bercabang-cabang dan overiumnya berlobus.
Karakteristik yang penting adalah villaterianya yang terdistribusi secara padat
mulai dari anterior dan posterior tubuhnya.
Gambar. Siklus Hidup dan
Morfologi Cacing Paragonimus westermani
Infeksi ringan atau sedang cacing ini, pada umumnya
tidak menimbulkan gejala. Gejala berat yang mungkin timbul berupa batuk
berdahak, sakit dada, sesak napas, berkeringat waktu malam hari, bahkan hingga
batuk berdarah. Gejala ini menyerupai gejala Tuberkulosis.
Cacing dapat ditemukan dibanyak tempat lain selain
paru seperti misalnya otak. Secara histologist, ditempat-tempat tadi ditemukan
infiltrate disekeliling cacing yang diikuti pembentukan jaringan fibrious dan
granuloma. Granuloma ini dapat mencapai diameter lebih dari 2 cm. bila cacing
ini terdapat diotak maka akan menimbukkan kejang-kejang dan gangguan
pengelihatan. Cacing yang berada diabdomen hanya memberikan gejala minimal
berupa rasa sakit perut ringan. Telur cacing ini dapat mengikuti aliran darah
dan dapat menimbulkan granuloma ditempat telur yang tadi terdampar.
Dengan menemukan cacing ini di sputum, tinja atau
cairan pleura, maka diagnose dapat ditegakkan. Selain pemeriksaan untuk
menemukan telur, dapat pula dilakukan pemeriksaan radiologis untuk menemukan
adanya cyste di paru, otak dan tempat lain.
Bithionol dan Praziquantel sering dipergunakan
dengan angka penyembuhan mencapai 95%. Cara pengobatan lain adalah pembedahan
untuk membuang cacingdan granuloma yang ada.
Dikenal banyak mamalia yang menjadi reservoir host, oleh karena itu
pengawasan terhadap penyakit ini menjadi lebih sulit. Penyuluhan kesehatan
yaitu dengan meyakinkan masyarakat tentang bahaya mengkonsumsi ketam atau udang
karang mentah.
2.5
Echinostoma spp
Echinostoma spp sendiri
sebenarnya parasit bagi anjing, kucing dan mamalia lain. Infeksi yang
disebabkan trematoda ini disebut echinostomiasis. Sering dilaporkan adanya
kasus di Jepang, Filipina, Indinesia, Malaysia, Thailand, Cina dan Taiwan.
Sedangkan infeksi pada hewan ini sering dilaporkan di Eropa Timur
Infeksi pada manusia dimualai dengan
mengkonsumsi siput atau kerang mentah yang mengandung metacercaria cacing ini.
Dilaporkan juga adanya metacercaria pada tubuh ikan dan tanaman air yang
menjadi sarana penularan bagi manusia. Metacercaria yang termakan akan
berkembang menjadi dewasa dan melekat pada mukosa usus halus.
Cacing dewasa menghasilkan telur yang belum berembrio
dan dikeluarkan bersama tinja. Dari telur yang matang dihasilkan telur yang matang dihasilkan miracidium yang
yang kamudian berenang untuk mencari intermediant host (siput). Miracidium ini
menembus jaringan siput dan berkembang menjadi sporocist, redia dan akhirnya
mwnjadi cercaria. Cercaria ini keluar dari tubuh siput dan memasuki
intermediated host kedua untuk menjadi metacercaria.
Gambar. Siklus Hidup dan Morfologi Cacing Echinostoma spp
Echinostoma
malayanum berukuran 9 x 2 -2,5 mm. berbentuk memanjang dengan
ujung posteriornya tumpul. Pada bagian kepalanya yer dapat spine berjumlah 43 –
54 buah. Cacing ini memiliki oral dan ventral sucker. Ventral sucker-nya
berbentuk mangkuk dan berkembang dengan sempurna dibandingkan dengan oral
sucker-nya. Cacing ini juga memilii pharink, esophagus, dan ceca yang sederhana
sebanyak 2 buah. Testesnya ada 2 buah dan berlobus- lubus, sedangkan ovariumnya
hanya satu berbentuk ovoid dan terletak disebelah anterior testes dibagian
tengah tubuh. Uterus cacing ini berbentuk spiral dengan genital pore didepan
ventral sucker. Villateria-nya tersebar mulai dari oral sucker sampai kebagian
posterior tubuh. Telurnya berukuran 120 – 130 mm berdinding tipis dan
ber-opperculum.
Pada Echinostoma
revolutum memiliki ukuran 8 x 1 – 2 mm, bentuknya mirip dengan Echinostoma malayanum, namun spine-nya berjumlah 37 buah. Disamping itu integumennya
mempunyai spine mulai dari kepala sampai setinggi oral sucker. Sedangkan pada Hypoderaeum conoideum berukuran 8 – 1,5
– 2 mm, berbentuk memanjang. Memiliki 2 baris spine yang masing-masing
berjumlah 45 – 53 buah. Diantara oral sucker dan ventral sucker-nya terdapat
integument yang tidak ber-spine. Testesnya berbentuk sosis dan sebuah ovarium
terletak di anterior testes. Uterusnya sama seperti Echinostoma malayanum, yaitu berbentuk spiral dan terletak dibagian
anterior tubuh. Telurnya berukuran 92 - 108
x 52 – 60 yang sulit dibedakan dengan telur Echinostoma
spp.
Infeksi dengan spesies-spesies ini kebanyakan tidak
menimbulkan gejala, namun pada infeksi berat dapat menimbulkan diere dan sakit
perut. Adanya spine pada cacing dewasa sering menimbulkan iritasi, truma dan
inflamasi pada mukosa usus. Untuk menegakkan diagonosa satu-satunya cara yang dapat
dilakukan adalah pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing ini. pengobatan dengan Tetrachlorethylene
dan Hexyrescorly.
Kasus pertama cacing ini di Singapura pada tahun 1911,
kemudian di di Chiangmai (Thailand) pada tahum 1915, di laporkan juga kasus di
India dan Sumatera. Saat ini cacing ini endemic di Thailand dan Filipina.
Pemberantasan cacaing ini dapat dilakukan dengan cara memutus siklus hiidupnya
melalui diagnose yang tepat, pengobatan dan pencegahan. Upaya pencegahan yang
penting adalh penyuluhan kesehatan agar masyarakat tidak mengkonsumsi kerang
dan siput mentah. Eradikasi reservoir host
dianggap tidak praktis, meskipun pernah terjadi secara tidak sengaja di Cina
dan Taiwan dan ternyata dapat memutus siklus hidup cacing ini. di Cina dan
Taiwan pembuangan air limbah industry yang mencemarkan sungai ternyata kemudian
membunuh tanaman air yang ikut dalam siklus hidup cacing ini.
BAB III
KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.
Penyakit
yang ditimbulkan Fasciolopsis buski dinamakan fasciopsiapsis. Cacing dewasa
berukuran 2,0 - 7,5 cm dan mekat erat dengan dinding usus halus. Diagnosa
ditegakkan dengan menemukan telur yang beroperculum pada tinja penderita. Babi merupakan reserpoir host utama Selain manusia,
anjing, kelinci dan kerbau yang dapat
terinfeksi. Upaya pencegahan yaitu dengan menganjurkan masyarakat untuk selalu
memasak sayur yang biasa
dimakan, dan mencegah penggunaan kotaran manusia sebagai pupuk.
2.
Fasciola hepatica dewasa
dapat mencapai ukuran 3 x 1,3 cm dan tubuhnya di tutupi dengan sisik. cacing
ini hanya menimbulkan gejala ringan, tetapi ada tiga gejala utama yang berbeda,
yaitu pada stadium acute, chronic latent,
dan chronic obstructive.
3.
Clonorchis
Sinensis merupakan trematoda yang menginfeksi hepar. Siklus hidupnya yaitu cacing
dewasa biasa ada di saluran empedu. Cacing ini sering ditemukan di cina,
mongol, jepang dan korea.
4.
Paragonimus westermani
banyak di temukan di Asia Tenggara, America Selatan, Mexico dan Afrika Tengah.
Penyakit yang ditimbulkan dinamakan paragonimiasis. banyak mamalia yang menjadi
reservoir host. Ukuran
cacing dewasa berukuran antara 7 - 12 x 4 – 6
x 3 – 5 mm, kedua ujungnya baik anterior maupun posterior membulat.
5.
Echinostoma spp
parasit bagi anjing, kucing dan mamalia lain. Infeksi yang disebabkan trematoda
ini disebut echinostomiasis. Echinostoma
malayanum berukuran 9 x 2 -2,5 mm.
berbentuk memanjang dengan ujung posteriornya tumpul. pengobatan dengan Tetrachlorethylene
dan Hexyrescorly.
DAFTAR PUSTAKA
Gandahusada, Srisasi.dkk. 1998. Parasitologi Kedokteran. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta.
Sandjaja,
Bernandus. 2007. Parasitologi Kedokteran Buku II Helminthologi
Kedokteran. Prestasi Pustaka Publisher: Jakarta