Senin, 08 Desember 2014

PARASITOLOGI (Fasciolopsis buski, Fasciola hepatica, Clonorchis sinensis, Paragonimus westermani dan Echinostoma spp)

PARASITOLOGI
(Fasciolopsis buski, Fasciola hepatica, Clonorchis sinensis, Paragonimus westermani dan Echinostoma spp)
Oleh Kelompok 3:
Nama:                                      Npm:
Dwi Retno Wati                      1211060215
Rini Astuti                              1211060077
Umi Karomah                         1211060066
Qori A’yuna                            1211060099
Mira Mustika Sari                   1211060144
Diki Eka Nuryuli Afip            1211060124
Ida Julaiha                               1211060089
Jurusan                        : Pendidikan Biologi (A)
Semester                      : V (lima)
Dosen pengampu        :  Suharno Zen, M.Sc

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
2014
KATA PENGANTAR

            Assalamu’allaikum. Wr. Wb.
            Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. karena berkat nikmat, ma’unah dan hidayah-Nya, makalah ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam kami sanjungkan atas keharibaan Nabi besar Muhammad SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah berjuang dan berkorban demi tegaknya syi’ar Islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga kini masih terasa.
            Makalah ini disusun selain sebagai tugas individu juga agar dapat  menambah pengetahuan dan pemahaman pembaca dan penyusun pada khususnya, terhadap materi yang dikaji yaitu mengenai PARASITOLOGI (Fasciolopsis Buski, Fasciola Hepatica, Clonorchis Sinensis, Paragonimus Westermani dan Echinostoma Spp)”. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh sebab itu, saran dan kritik sangat kami harapkan, agar makalah ini dapat lebih baik untuk kedepannya.          
Wassalamu’allaikum. Wr. Wb.


 Bandar Lampung, Oktober 2014


Penulis


DAFTAR ISI

COVER..................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR............................................................................................. ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1  Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2  Rumusan Masalah......................................................................................... 2
1.3  Tujuan .......................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
2.1  Fasciolopsis buski......................................................................................... 3
2.2  Fasciola hepatica.......................................................................................... 5
2.3  Clonorchis sinensis........................................................................................ 9
2.4  Paragonimus westermani............................................................................. 10
2.5  Echinostoma spp.......................................................................................... 13

BAB III KESIMPULAN ....................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 17



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hewan yang tidak bertulang belakang atau invertebrata terdiri atas beberapa jenis dan golongan. Jika ada yang memiliki rangka, maka rangka itu berbeda dengan rangka biasa yang kita kenal. Umumnya rangka invertebrata tersebut ada di luar menyelubungi tubuhnya. Hewan-hewan yang tidak bertulang belakang semuanya memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang belakang. Misalnya untuk peredaran darahnya bila kita amati, peredaran darah pada hewan bertulang belakang telah sempurna dengan jantung yang memiliki kamar-kamar dan pembuluh yang mempunyai tugas masing-masing.
Parasit merupakan hal yang sangat merugikan bagi tubuh yang di tempatinya, mereka hidup dengan memakan nutrisi pada tubuh yang di tempatinya, dan dapat memberikan efek negative bagi hospes. Parasit di bagi beberapa kelompok yaitu mikologi, entologi, protozologi, dan helmintologi. Pada makalah ini akan di bahas tentang kelompok helmintologi atau cacing cacing sangat merugikan jika terdapat dalam tubuh manusia, cacing ada beberapa jenis salah satunya trematoda.
Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti daun. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Pada dasarnya daur hidup trematoda ini melampui beberapa beberapa fase kehidupan dimana dalam fase tersebut memerlukan hospes intermedier untuk perkembangannya.
Menurut lokasi berparasitnya cacing trematoda dikelompokkan sbagai berikut:
1). Trematoda paru: Paragonimus westermani
2). Trematoda usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma sp, E. ilocanum
3). Trematoda hati: Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica, F. gigantica.
4). Trematoda pembuluh darah: Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum
Untuk mengenal lebih jauh tentang cacing trematoda, maka penulis akan membahas lebih lanjut beberapa spesies dari yang telah disebutkan di atas dalam makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa masalah yaitu:
1.    Apakah definisi dari masing-masing spesies cacing trematoda dan Morfologi umum?
2.    Bagaimana siklus hidup dari masing-masing spesies cacing trematoda?
3.    Bagaimana epidemologis masing-masing dari spesies  cacing trematoda?
4.    Bagaimana diagnosis dari masing-masing spesies trematoda?
1.3 Tujuan
1.    Memahami tentang definisi dari masing-masing spesies cacing trematoda dan Morfologi umumnya.
2.    Memahami tentang siklus hidup dari masing-masing spesies cacing trematoda.
3.    Memahami epidemologis masing-masing dari spesies  cacing trematoda.
4.    Memahami tentang diagnosis dari masing-masing spesies trematoda.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Fasciolopsis buski  
Cacing ini dinamakan juga giante intestinal fluke of man atau ginger worm. Di Asia dinamakan demikian karena bentuknya separti akar jahe. Penyakit yang ditimbulkan dinamakan fasciopsiapsis. Cacing dewasa berukuran 2,0 - 7,5 cm dan mekat erat dengan dinding usus halus.
     
Gambar. Morfologi Fasciolopsis buski
Fasciolopsis buski merupakan cacing yang endemic di Asia Timur. Sampai saat ini diperkirakan ada sepuluh juta orang yang terinfeksi. manusia terinfeksi cacing ini bila mengkonsumsi makanan yang terkonta minasi dengan larvarnya yang dinamakan metacerceria. Larva ini biasanya melekat pada tanaman air, seperti buah berangan, rebung. Setelah termakan, larva ini akan berkembang dan menjadi dewasa dalam usus halus dalam waktu 3 bulan dan akan hanya hidup selama 6 bulan saja. Cacing yang hermafrodit ini menghasilkan telur yang dikeluarkan bersama-sama tinja dalam keadaan belum berembrio. Jika telur ini jatuh di air, menetaslah larva pertama yang dinamakan miracidium. Larva ini mampu berenang dan mencari intermediate host, yaitu: siput Planorbis spp, Trochorbis trochoridues, dan Segmentina spp. Dalam tubuh siput, miracidium ini berkembang menjadi sporocyst, redia dan cercaria. Dari miracidium sampai cerceria di butuhkan waktu 1 - 2 bulan. Cerceria ini kemudian keluar dari tubuh siput untuk mencari tanaman air, selanjudnya menjadi metacerceria yang infeksius bagi manusia. Metacerceria sebenarnya merupakan fluke muda, yang tidak penetrasi melakukan ke tanaman, tapi hanya menempelkan dirinya saja.
Cacing dewasa berukuran 2,0 - 7,5 x 0,8 - 20 cm, memiliki oral sucker yang kecil dan duri-duri kecil. Ovariumnya bercabang di pertengahan tubuh dan testesnya bercabang di bagian tengah posterior tubuh.
Gambar. Siklus Hidup Cacing Fasciolopsis buski     
Fluke pada cacing Fasciolopsis buski menyebabkan peradangan, perlukaan, hipersekresi mukosa usus halus di dekat tempat menempelnya cacing. Pada infeksi yang berat, cacing dapat di temukan pula di lambung dan colon dan menyebabkan obstruksi usus.
Pada anak-anak infeksi yang berat menimbulkan oedema pada wajah dan badan yang sebenarnya di sebabkan oleh proses alergi, anemia difisiensi B12 dan malabsorsi  (yang menyebabkan hipoalbuminemia sekunder). Sedangkan infeksi ringan umumnya tidak bergejala, walaupun ada berupa sakit perut, nausea dan muntah. Masa inkubasi di perkirakan antara 2 - 3 bulan setelah pemaparan dengan metacerceria.
Diagnosa ditegakkan dengan menemukan telur yang beroperculum pada tinja penderia. Tidak ada tes serologis yang dapat dipergunakan untuk menegakkan diagnosa, walaupun antibody dapat terbentuk pada infeksi dengan fluke ini. Seperti yang telah dikatakan diatas, umur cacing ini 6 bulan, dan karena itu berdasarkan diagnosa penderita tidak pernah didaerah endemis selama 6 bulan atau lebih, maka diagnosa diragukan.
Tiga macam obat utama yang sering dipakai adalah Niclosamide, Tetrachlorethylene dan Hexkylresorcinon. Angka penyembuhan dengan obat ini sekitar 75%. Obat lain adalah Raziquantel yang akhir-akhir ini banyak menjadi pilihan karena angka penyembuhannya mencapai 90%.
Babi merupakan reserpoir host utama. Selain manusia, anjing, kelinci dan kerbau dapat pula terinfeksi. Upaya pencegahan sebenarnya sangat mudah, yaitu dengan menganjurkan masyarakat untuk selalu memasak sayur atau tanaman air yang biasa dimakan, minum air yang telah direbus, dan mencegah penggunaan kotaran manusia sebagai pupuk.

2.2 Fasciola Hepatica
Fasciola hepatica dapat di temukan hampir diseluruh dunia, terutama dinegara-negara yang hidup dari perternakan domba, disamping itu dapat pula ditemukan pada herbivora lain seperti sapi, onta, rusa ,dan dll. Cacing ini merupakan trematoda endemic didaerah yang beriklim sedang.  Epidemis sering timbul di Kuba, Francis, dan Jerman, karena kebiasaan penduduk mengonsumsi selada air.
Cacing dewasa yang hidup dalam saluran empedu herbivor menghasikan telur yang belum berembrio. Telur ini dikeluarkan dari tubuh herbivor bersama-sama tinjanya. Jika telur ini masuk kedalam air dan menemukan suhu yang optimal baginya yaitu 230C - 260C, ia akan segera berkembang menjadi telur berembrio dalam waktu 9 - 15 hari. Miracidiumnya akan segera keluar dari telur dan mencari siput Lymnea spp, sebagai intermediate host pertamanya. Didalam tubuh siput miracidium ini berkembang menjadi sporocyst kemudian menjadi redia sebelum menjadi cerceria. Cerceria yang telah matang akan meninggalkan siput dan berenang di air. Cerceria ini biasanya meninggalkan siput pada malam hari, dengan membentuk white minute spirules yang memiliki alat pelekat. Pada tanaman air cerceria ini menjadi metacerceria yang infeksius bagi definitive host.
Bila herbivora memakan tanaman air atau minum air yang mengandung metacerceria, maka larva ini akan menuju ke lambung dan duodenum, kemudian mempenetrasi dinding usus untuk mencapai cavum peritonii. Dari sini metacerceria mempenetrasi glisson’ capsule untuk masuk ke jaringan hepar, selanjutnya bermigasi kesaluran empedu. Selain memalui rute tersebut metacerceria dapat pula melewati aliran lymphe dan menyebar ke organ tubuh lain. Disaluran empedu metacerceria mencapai kematangan cacing dewasa dalam waktu 3 - 4 bulan dan siap menghasilkan telur.
Gambar. Siklus Hidup Fasciola Hepatica

Fasciola hepatica dewasa dapat mencapai ukuran 3 x 1,3 cm dan tubuhnya di tutupi dengan sisik. Cacing ini memiliki ujung posterior yang tumpul, tetapi ujung anteriornya membentuk bangunan yang dinamakan conicle projection. Dapat di temukan dua buah super. System pencernannya terdiri dari faring yang berlanjut dengan esofagus yang pendek akhir yang menjadi ceca yang bercabang 2 di dekat acetabulum. Cacing ini hemaprodit dengan alat reproduksi jantang terdiri dari dua buah testes yang bercabang-cabang di bagian anterior dan pterior tubuh. Sedangkan alat reproduksi betina terdiri dari satu ovarium yang terletak di anterior tubuh berbentuk lobus yang di kelilingi viterallia dan uterus, bermuara di genita pore .
Gambar. Morfologi Fasciola Hepatica
Walaupun infeksi cacing ini hanya menimbulkan gejala ringan, tetapi ada tiga gejala utama yang berbeda, yaitu pada stadium acute, chronic latent, dan chronic obstructive.
Infeksi akut terjadi bersama dengan berpenetrasinya metacerceria ke parenchym hepar untuk masuk kesaluran empedu. Pada saat itu timbul pembesaran hepar diikuti rasa sakit, panas tinggi, lekositosis dan terkadang ikterus, urticaria bahkan anemia.
Infeksi kronis yang latent biasanya tidak menimbulkan gejala jika ada berupa sakit di daerah hepar, diare, nausea, tesfungsi hepar menunjukkan kelainan dan terjadinya hepatomegali.
Infeksi kronis yang obstruktif, terjadi sumbatan pada saluran empedu dengan gejala seperti pada choledocholithiasis. Obstruksi kronis sering menimbulkan hiperplasi saluran empedu yang di ikuti fribrosis ataupun kalsifikasi.
Cacing dewasa dapat pula bermigrasi diluar habitatnya seperti ke otak, paru-paru atau otot. Pada keadaan ini timbul gejala berupa benjolan dengan rasa sakit. Jika cacing dewasa melekat di faring timbul rasa sakit ketika menelan, pendarahan, oedema pada leher dan gangguan pernapasan, keadaan yang dinamakan halzoun. Halzoun sering ditemukan ditimur tengah  pada penduduk yang sering mengkonsumsi hati mentah.
Pemeriksaan tinja untuk menemukan telur Fasciola hepatica merupakan cara untuk menegakkan diagnosa pasti, namun harus dapat dibedakan dengan telur Fasciola gigantic dan Fasciolopsis buski. Pemeriksaan selorogis (IHA) sudah mulai digunakan orang, tetapi baru bermanfat pada keadaan infeksi akut sebelum telur keluar bersama tinja.  Pengobatan cacing ini menggunakan Bithionol dan Raziquantel.
Pada manusia masalah timbul pada penduduk yang memiliki kebiasaan mengonsumsi hati sapi atau domba secara mentah, dan mereka yang biasa makan selada air yang secara tidak higenis dan minum air mentah. Cara memutus rantai penularan selain dengan pengobatan penderita, penyuluhan untuk tidak melakukan kebiasan di atas dan mengawasi siput penular.
Cacing ini hidup di saluran empedu. Siklus hidupnya sama dengan Fasciola hepatica termasuk juga intermediate host-nya walaupun demikian definitive host-nya agak berbeda yaitu kerbau, sapi, dan babi hutan. Manifestsi diagnosa labolatoris, pengobatan dan epidemiologic acing ini sama dengan Fasciola hepatica.
Infeksi Fasciola gigantic pada manusia jarang tejadi. Zoonosis ini terutama ditemukan di Afrika Tengah, Rusia, Vietnam dan Hawai. Kebiasaan mengonsumsi selada air dan meminum air mentah yang terkontaminasi metacerceria menjadi penyebab utama infeks cacing ini.
Cacing ini lebih besar dari Faciola hepatica, ukurannya dapat mencapai 3.5 – 5 x 0,7 – 1 cm. Fastiola Gigantic memiliki conical projection yang lebih pendek pada Fasciola hepatica. Oral sucser-nya lebih kecil dari pada ventral sucker-nya. Intergumennya memiliki tipe yang sama dengan Fasciola hepatica. Bentuk alat reproduksinya sama dengan Fasiola hepatica, hanya saja ovariumnya bercabang dan testesnya lebih banyak cabangnya. Telurnya sangat mirip dengan Fasciola hepatica.

2.3 Clonorchis Sinensis
Clonorchis  sinensis merupakan trematoda yang menginfeksi hepar. Sikus hidupnya sama dengan cacing Opistorchis viverrini, hanya intermediate host-nya berbeda.
Siklus hidupnya yaitu cacing dewasa biasa ada di saluran empedu. Dari tempat ini ia menghasilkan telur yang dikeluarkan bersama-sama tinja melalui saluran pencernan. Telur yang ada ditinja sudah berembrio, jadi telah mengandung mirachidium. Telur ini harus jatuh ke air jika tidak telur akan mati. Dalam air telur ini akan di mangsa oleh intermediate host. Di dalam saluran cerna intermediate host, meracidium ini menetas dan berkembang menjadi sporokis yang menghasilkan banyak redia. Redia ini kemudian menjadi cerceria setela 1 - 1.5 bulan kemudian cerceria yang sudah cukup tua akan meninggalkan intermediate host dan berenang di air untuk mencari intermediate host yang ke dua contohnya ikan.
Bila ia menemukan ikan, cerceria ini menembus sisik ikan dengan kepalanya dan meninggalkan ekornya di luar. Dalam tubuhikan cerceria berkembang menjadi metacerceria. Metacerecria yang berumur sekitar 5 minggu merupakan stadium infeksius bagi definitive host. Bila definitive host memakan ikan yang mengandung metacerceria secara mentah, maka metacerceria akan masuk ke lambung. Larva yang diaktifkan oleh empedu akan bergerak sampai di duodenum dan akhirnya bermigrasi kesaluran empedu melalui ampula pateri. Dari ampula ini ia bergerak ke saluaran empedu sebelah distal di bawah capsula hepatis dan menjadi cacing dewasa di tempat ini. Cacing dewasa mampu hidup selama 20 tahun. Keseluruhan pertumbuhan cacing ini perlu waktu 2 bulan.
 
Gambar. Siklus Hidup dan Morfologi Clonorchis Sinensis
 Habitat cacing ini juga di hepar, saluran empedu dan duo denum dan menimbulkan manifestasi klinis yang sama dengan Opistrochi viverrini. Cacing ini sering ditemukan di cina, mongol, jepang dan korea.

2.4 Paragonimus westermani
Paragonimus westermani banyak di temukan di Asia Tenggara, America Selatan, Mexico dan Afrika Tengah. Penyakit yang ditimbulkan dinamakan paragonimiasis.
Siklus hidup cacing ini yaitu cacing dewasa yang ada di paru bertelur, dan telurnya di keluarkan dari tubuh bersama tinja bila telur tersebut jatuh ke air dalam waktu 3 menit, kemudian keluarlah miracidiumnya untuk mencari intermediate host yaitu siput. Dalam tubuh siput, miracidium ini berkembang menjdi sporokist, redia, daughter media dan akhirnya menjadi cerceria. Cerceria cacing ini kemudian berenang mencari intermediate host ke dua, berupa ketam sejenis udang karang dll. Cerceria dari cacing ini berekor pendek sehingga lebih senang hidup di dasar air. Pada intermediate host dua, cerceria ini berubah menjadi metacerceria yang infeksius bagi definitive host. Dalam tubuh definitive host yang memakan intermediate host dua secara mentah, metacerceria ini masuk ke duodenum, kerongga perut dan bermigrasi keparu melaluai media diagfragma untuk menjadi dewasa disitu. Migrasi ini butuh waktu 3 minggu. Cacing dewasa mampu menghasilkan telur 5 – 6 minggu dan berumur 6 - 7 tahun.
Fluke ini merupakan cacing yang tebal dan berotot, berwarna coklat dan integumennya di tutupi spine. Ukuran cacing dewasa berukuran antara 7 - 12 x 4 – 6  x 3 – 5 mm, kedua ujungnya baik anterior maupun posterior membulat. Cacing ini memiliki dua buah sucker. Faringnya melanjutkan diri menjadi esophagus dan dua buah ceca. Testesnya berjumlah dua buah bercabang-cabang dan overiumnya berlobus. Karakteristik yang penting adalah villaterianya yang terdistribusi secara padat mulai dari anterior dan posterior tubuhnya.
 
Gambar. Siklus Hidup dan Morfologi Cacing Paragonimus westermani
Infeksi ringan atau sedang cacing ini, pada umumnya tidak menimbulkan gejala. Gejala berat yang mungkin timbul berupa batuk berdahak, sakit dada, sesak napas, berkeringat waktu malam hari, bahkan hingga batuk berdarah. Gejala ini menyerupai gejala Tuberkulosis.
Cacing dapat ditemukan dibanyak tempat lain selain paru seperti misalnya otak. Secara histologist, ditempat-tempat tadi ditemukan infiltrate disekeliling cacing yang diikuti pembentukan jaringan fibrious dan granuloma. Granuloma ini dapat mencapai diameter lebih dari 2 cm. bila cacing ini terdapat diotak maka akan menimbukkan kejang-kejang dan gangguan pengelihatan. Cacing yang berada diabdomen hanya memberikan gejala minimal berupa rasa sakit perut ringan. Telur cacing ini dapat mengikuti aliran darah dan dapat menimbulkan granuloma ditempat telur yang tadi terdampar.
Dengan menemukan cacing ini di sputum, tinja atau cairan pleura, maka diagnose dapat ditegakkan. Selain pemeriksaan untuk menemukan telur, dapat pula dilakukan pemeriksaan radiologis untuk menemukan adanya cyste di paru, otak dan tempat lain.
Bithionol dan Praziquantel sering dipergunakan dengan angka penyembuhan mencapai 95%. Cara pengobatan lain adalah pembedahan untuk membuang cacingdan granuloma yang ada.
Dikenal banyak mamalia yang menjadi reservoir host, oleh karena itu pengawasan terhadap penyakit ini menjadi lebih sulit. Penyuluhan kesehatan yaitu dengan meyakinkan masyarakat tentang bahaya mengkonsumsi ketam atau udang karang mentah.



2.5 Echinostoma spp
Echinostoma spp sendiri sebenarnya parasit bagi anjing, kucing dan mamalia lain. Infeksi yang disebabkan trematoda ini disebut echinostomiasis. Sering dilaporkan adanya kasus di Jepang, Filipina, Indinesia, Malaysia, Thailand, Cina dan Taiwan. Sedangkan infeksi pada hewan ini sering dilaporkan di Eropa Timur
            Infeksi pada manusia dimualai dengan mengkonsumsi siput atau kerang mentah yang mengandung metacercaria cacing ini. Dilaporkan juga adanya metacercaria pada tubuh ikan dan tanaman air yang menjadi sarana penularan bagi manusia. Metacercaria yang termakan akan berkembang menjadi dewasa dan melekat pada mukosa usus halus.
Cacing dewasa menghasilkan telur yang belum berembrio dan dikeluarkan bersama tinja. Dari telur yang matang dihasilkan  telur yang matang dihasilkan miracidium yang yang kamudian berenang untuk mencari intermediant host (siput). Miracidium ini menembus jaringan siput dan berkembang menjadi sporocist, redia dan akhirnya mwnjadi cercaria. Cercaria ini keluar dari tubuh siput dan memasuki intermediated host kedua untuk menjadi metacercaria.
 
Gambar. Siklus Hidup dan Morfologi Cacing Echinostoma spp
Echinostoma malayanum berukuran  9 x 2 -2,5 mm. berbentuk memanjang dengan ujung posteriornya tumpul. Pada bagian kepalanya yer dapat spine berjumlah 43 – 54 buah. Cacing ini memiliki oral dan ventral sucker. Ventral sucker-nya berbentuk mangkuk dan berkembang dengan sempurna dibandingkan dengan oral sucker-nya. Cacing ini juga memilii pharink, esophagus, dan ceca yang sederhana sebanyak 2 buah. Testesnya ada 2 buah dan berlobus- lubus, sedangkan ovariumnya hanya satu berbentuk ovoid dan terletak disebelah anterior testes dibagian tengah tubuh. Uterus cacing ini berbentuk spiral dengan genital pore didepan ventral sucker. Villateria-nya tersebar mulai dari oral sucker sampai kebagian posterior tubuh. Telurnya berukuran 120 – 130 mm berdinding tipis dan ber-opperculum.
Pada Echinostoma revolutum memiliki ukuran 8 x 1 – 2 mm, bentuknya mirip dengan Echinostoma malayanum,  namun spine-nya  berjumlah 37 buah. Disamping itu integumennya mempunyai spine mulai dari kepala sampai setinggi oral sucker. Sedangkan pada Hypoderaeum conoideum berukuran 8 – 1,5 – 2 mm, berbentuk memanjang. Memiliki 2 baris spine yang masing-masing berjumlah 45 – 53 buah. Diantara oral sucker dan ventral sucker-nya terdapat integument yang tidak ber-spine. Testesnya berbentuk sosis dan sebuah ovarium terletak di anterior testes. Uterusnya sama seperti Echinostoma malayanum, yaitu berbentuk spiral dan terletak dibagian anterior tubuh. Telurnya berukuran 92 -  108 x 52 – 60 yang sulit dibedakan dengan telur Echinostoma spp.
Infeksi dengan spesies-spesies ini kebanyakan tidak menimbulkan gejala, namun pada infeksi berat dapat menimbulkan diere dan sakit perut. Adanya spine pada cacing dewasa sering menimbulkan iritasi, truma dan inflamasi pada mukosa usus. Untuk menegakkan diagonosa satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing ini. pengobatan dengan Tetrachlorethylene dan Hexyrescorly.
Kasus pertama cacing ini di Singapura pada tahun 1911, kemudian di di Chiangmai (Thailand) pada tahum 1915, di laporkan juga kasus di India dan Sumatera. Saat ini cacing ini endemic di Thailand dan Filipina. Pemberantasan cacaing ini dapat dilakukan dengan cara memutus siklus hiidupnya melalui diagnose yang tepat, pengobatan dan pencegahan. Upaya pencegahan yang penting adalh penyuluhan kesehatan agar masyarakat tidak mengkonsumsi kerang dan siput mentah. Eradikasi reservoir  host dianggap tidak praktis, meskipun pernah terjadi secara tidak sengaja di Cina dan Taiwan dan ternyata dapat memutus siklus hidup cacing ini. di Cina dan Taiwan pembuangan air limbah industry yang mencemarkan sungai ternyata kemudian membunuh tanaman air yang ikut dalam siklus hidup cacing ini.
                                               













BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.    Penyakit yang ditimbulkan Fasciolopsis buski dinamakan fasciopsiapsis. Cacing dewasa berukuran 2,0 - 7,5 cm dan mekat erat dengan dinding usus halus. Diagnosa ditegakkan dengan menemukan telur yang beroperculum pada tinja penderita. Babi merupakan reserpoir host utama Selain manusia, anjing, kelinci dan kerbau yang dapat terinfeksi. Upaya pencegahan yaitu dengan menganjurkan masyarakat untuk selalu memasak sayur yang biasa dimakan, dan mencegah penggunaan kotaran manusia sebagai pupuk.
2.    Fasciola hepatica dewasa dapat mencapai ukuran 3 x 1,3 cm dan tubuhnya di tutupi dengan sisik. cacing ini hanya menimbulkan gejala ringan, tetapi ada tiga gejala utama yang berbeda, yaitu pada stadium acute, chronic latent, dan chronic obstructive.
3.    Clonorchis Sinensis merupakan trematoda yang menginfeksi hepar. Siklus hidupnya yaitu cacing dewasa biasa ada di saluran empedu. Cacing ini sering ditemukan di cina, mongol, jepang dan korea.
4.    Paragonimus westermani banyak di temukan di Asia Tenggara, America Selatan, Mexico dan Afrika Tengah. Penyakit yang ditimbulkan dinamakan paragonimiasis. banyak mamalia yang menjadi reservoir host. Ukuran cacing dewasa berukuran antara 7 - 12 x 4 – 6  x 3 – 5 mm, kedua ujungnya baik anterior maupun posterior membulat.
5.    Echinostoma spp parasit bagi anjing, kucing dan mamalia lain. Infeksi yang disebabkan trematoda ini disebut echinostomiasis. Echinostoma malayanum berukuran  9 x 2 -2,5 mm. berbentuk memanjang dengan ujung posteriornya tumpul. pengobatan dengan Tetrachlorethylene dan Hexyrescorly.
DAFTAR PUSTAKA

Gandahusada, Srisasi.dkk. 1998. Parasitologi Kedokteran. Fakultas Kedokteran
 Universitas Indonesia. Jakarta.

Sandjaja, Bernandus. 2007. Parasitologi Kedokteran Buku II Helminthologi
Kedokteran. Prestasi Pustaka Publisher: Jakarta

http://www.scribd.com/doc/27508812/43/FASCIOLOPSIS-BUSKI

FISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah fisiologi hewan)

EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS ( Pterophyllum scalare ) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna m...