EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum
scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA
(Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah fisiologi hewan)
Dosen Pengampu:
Lora Purnama Sari, S.Pd, M.Si
Disusun Oleh:
Nama :
Dwi Retno Wati
NPM : 1211060215
Jurusan/Semester : Biologi A/V
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2014
KATA
PENGANTAR
Assalamu’allaikum.
Wr. Wb.
Dengan
Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT. karena berkat nikmat, ma’unah dan hidayah-Nya, makalah ini
dapat diselesaikan. Shalawat serta salam kami sanjungkan atas keharibaan Nabi
besar Muhammad SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah berjuang
dan berkorban demi tegaknya syi’ar Islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga
kini masih terasa.
Karya
tulis Ilmiah ini disusun selain sebagai tugas individu, juga agar dapat menambah pengetahuan dan pemahaman pembaca
dan penyusun pada kh/ususnya, terhadap materi yang dikaji yaitu pada mata
kuliah “FISIOLOGI HEWAN mengenai EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum
scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA”. Harapan yang
paling besar dari penyusunan karya tulis ilmiah ini ialah mudah-mudahan apa
yang penulis susun ini penuh manfaat baik untuk pribadi, teman-teman serta
orang lain
Wassalamu’allaikum. Wr. Wb.
Bandar
Lampung, 13 Desember 2014
Penulis
DAFTAR ISI
COVER............................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
ABSTRAK.......................................................................................................................... 1
BAB I LATAR BELAKANG
1.1
Latar
Belakang.............................................................................................................. 2
1.2
Rumusan
Masalah.......................................................................................................... 3
1.3
Tujuan
Penulisan............................................................................................................ 3
BAB
II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Ikan Maanvis............................................................................................... 4
2.2 Morfologi dan Anatomi Ikan Maanvis.......................................................................... 5
2.3 Reproduksi Ikan Maanvis.............................................................................................. 6
2.4 Suhu............................................................................................................................... 6
2.5 Laju Penyerapan Kuning Telur...................................................................................... 7
BAB III METODE PENELITIAN.................................................................................... 8
3.1 Waktu dan Tempat........................................................................................................ 8
3.2 Alat dan Bahan.............................................................................................................. 8
3.3 Prosedur Kerja............................................................................................................... 8
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................... 9
BAB V KESIMPULAN..................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 13
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efisiensi pemanfaatan
kuning telur pada embrio dan larva, derajat penetasan, lama inkubasi telur
hingga menetas, dan laju pertumbuhan serta kelangsungan hidup larva ikan
maanvis (Pterophyllum scalare) yang diinkubasi pada suhu ruang, 27oC dan
30oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai efisiensi pemanfaatan kuning
telur bila diinkubasi pada suhu 30oCsebesar 73,70% pada fase embrio dan 0,18%
pada fase larva, dan tidak berbeda dengan suhu ruang dan 27oC. Demikian juga
dengan derajat penetasan telur (84,75%) tidak berbeda dengan perlakuan lainnya.
Sementara itu, lama inkubasi telur hingga menetas (27,41 jam) lebih cepat
dibandingkan dengan suhu inkubasi perlakuan lainnya. Demikian juga dengan laju
pertumbuhan panjang (2,16%) dan kelangsungan hidup larva (75,28%) lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dengan demikian, secara umum suhu
optimal untuk penetasan dan pemeliharaan larva ikan maanvis adalah 30°C.
Kata kunci: ikan maanvis, Pterophyllum scalare, kuning
telur, larva, embrio, suhu
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang
Ikan manfish termasuk jenis ikan hias yang mudah stress dan
terserang penyakit serta mempunyai masa kritis terutama pada masa larva.
Periode kritis larva ikan maanvis terjadi antara umur 6-15 hari yang merupakan
masa peralihan antara endogenous
feeding dengan exogenous Kematian diduga karena kemampuan
larva untuk mengambil pakan dari
luar rendah yang berkaitan dengan pembentukkan organ-organ pemangsaan yang
rendah sebagai akibat dari penggunaan kuning telur yang tidak
efisien. Efisiensi pemanfaatan dilihat dari pemanfaatan kuning telur yang dikonversikan menjadi jaringan tubuh dan akan
bernilai maksimal pada suhu normal. Meningkatnya suhu akan
mempercepat kelangsungan
metabolisme sehingga nutrient dan
energi yang dibutuhkan menjadi lebih besar. Suhu yang melewati batas optimal
menyebabkan nutrient dan energi akan lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan
akan menurun. Embrio yang
diinkubasi pada suhu
optimal menghasilkan larva yang berukuran besar,
porsi kuning telur menjadi
jaringan lebih tinggi kemampuan makan dan berenang lebih besar, kuat dan
tidak mudah sakit. Hal tersebut menyebabkan
daya tahan larva tinggi sehingga diharapkan akan
meningkatkan kelangsungan hidup. (Budiardi et al., 2005)
Usaha
perdagangan ikan hias laut sudah berjalan cukup lama lebih dari 30 tahun.
Sebagian besar dijual untuk pasar dunia sebagai produk ekspor dan sebagian lagi
untuk pasar domestik, namun demikian issu cara tangkap yang illegal yaitu
menggunakan potasium sianida dan cara-cara yang tidak ramah lingkungan
mengakibatkan populasi ikan menurun dan banyaknya luasan terumbu karang yang
rusak oleh karenanya. Adapula issu yang berkembang bahwa pasar Eropa hanya
menerima ikan hias dari hasil budidaya ditahun mendatang. Oleh sebab itu perlu
dilakukan upaya perbenihan ikan hias laut khususnya ikan maanvis.
Tujuan dari
penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh suhu terhadap perkembangan embrio,
daya tetas telur dan penyerapan kuning telur ikan Maanvis (Pterophyllum
scalare). Manfaat penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi
mengenai suhu optimal untuk memperoleh perkembangan embrio, daya tetas telur
tinggi dan penyerapan kuning telur ikan maanvis serta dapat digunakan sebagai
acuan penelitian lebih lanjut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah yang
bisa penulis rumuskan adalah sebagai berikut :
a.
Bagaimana hubungan antara suhu inkubasi dengan laju penyerapan
kuning telur ?
b.
Bagaimana peran kuning telur dalam penetasan telur ikan maanvis ?
c.
Mengapa kuning telur dapat menjadi faktor kegagalan penetasan
telur ikan hias ?
1.3 Tujuan Penulisan
Dalam
karya tulis ini, penyusun memiliki berbagai tujuan yaitu sebagai berikut :
a.
Untuk mengetahui hubungan
antara suhu inkubasi dengan laju penyerapan kuning telur.
b.
Untuk mengetahui peran kuning telur dalam penetasan telur ikan
maanvis.
c.
Untuk mengetahui hal yang membuat kuning telur dapat menjadi
faktor kegagalan dalam penetasan telur ikan hias.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Klasifikasi Ikan Maanvis
Klasifikasi ikan manfish sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Sub Kingdom : Metazoa
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata
Superclass : Osteichthyes
Class : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Family : Cichlidae
Genus : Pterophyllum
Species : Pterophyllum scalare
Ikan maanvis bersifat
omnifora di lingkungan alaminya. Makanannya terdiri dari plankton, larva dari
serangga, tumbuhan, dan cacing. Karena
bentuk dan warnanya yang menarik, serta gerakan yang tenang, sehingga minat
masyarakat terhadap ikan manfish (Angle Fish) cukup besar. Harga ikan Manfish
pun cukup tinggi, sehingga pembudidayaannya dapat dijadikan sebagai usaha
sambilan yang dapat menambah penghasilan keluarga. (Tarwiyah, 2001)
Dari keindahan
morfologi yang dimiliki oleh ikan maaanvis, mengakibatkan masyarakat banyak
yang membudidayakan ikan maanvis, sebagai usaha sampingan karena harga ikan
maanvis yang tinggi, maupun hanya untuk hiasan di rumah. Selain itu,
Pemeliharaan ikan maanvis tidak terlalu rumit, pakan ikan ini mudah didapatkan.
Namun, terdapat kelemahan dalam membudidayakan ikan maanvis, yaitu kegagalan
dalam penetasan telur yang dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya
yaitu suhu, kualitas air, kualitas kuning telur, dan lain sebagainya.
2.1 Morfologi dan Anatomi Ikan Maanfish
Ikan manfish (Angle Fish) berasal dari Amerika Selatan, tetapi
telah banyak dibudidayakan di Indonesia. Ikan manfish disebut Angle Fish (Ikan
Bidadari), karena bentuk dan warnanya menarik serta gerakkannya yang tenang.
Secara umum budidaya ikan manfish tidak membutuhkan lahan yang luas, bahkan
dapat dilakukan dalam aquarium atau paso dari tanah, sehingga tidak membutuhkan
investasi besar untuk budidayanya. (Tarwiyah, 2001)
Ikan maanvis merupakan salah satu
ikan hias air tawar yang dikenal secara luas di dunia. Ikan maanvis berbentuk
cakram yang mempunyai bentuk sirip yang sangat indah. Sirip dorsal, dan sirip
anal memiliki ukuran yang sangat panjang dan melebihi panjang tubuh ikan. Warna
tubuh keperakan dengan garis hitam vertikal. perbedaan jenis kelamin pada ikan
ini sangat susah dibedakan pada fase juvenil, ikan maanvis bisa dibedakan
antara jantan dan betina ketika sudah memasuki masa pemijahan.
Ketika mulai memasuki masa
pemijahan, maka perbedaan antara induk jantan dan betina dapat dilihat yaitu induk
jantan ikan maanvis ukurannya relatif lebih besar dari induk betina pada umur
yang sama; jika dilihat dari atas perut
pipih atau ramping sedangkan induk betina perut terlihat lebih besar dan
menonjol; bentuk kepala agak besar daripada kepala induk betina; dan antara
mulut dan sirip punggung berbentuk cembung, sedangkan pada induk betina sirip
punggung berbentuk garis lurus kadang menonjol sedikit. (Tarwiyah, 2001)
(a) (b) (c)
(d) (e) (f)
(g) (h) (i)
Gambar Fenotipe ikan maanvis Pterophyllum scalare: (a) Smokey,(b)
DarkBlack, (c)Marble Ghost, (d) Halfback, (e) Zebra
Lace, (f) Black Clown, (g) Leopard, (h) Goldpearlscale,(i)
Blue Koi
2.4 Reproduksi Ikan Maanvis
Reproduksi ikan maanvis merupakan reproduksi seksual, yaitu penyatuan
gamet haploid membentuk sebuah sel diploid, zigot. Indivisu yang berkembang
dari zigot nantinya akan memunculkan gamet melalui meiosis. Gamet betina atau
telur adalah sel non motil yang berukuran besar. Gamet jantan atau sperma,
umumnya merupakan sel motil yang berukuran jauh lebih kecil. fertilisasi
merupakan penyatuan sperma dan sel telur yang dapat berlangsung secara
eksternal maupun internal. Pada fertilisasi internal, betina melepaskan sel-sel
telur ke lingkungan, tempat jantan kemudian memfertilisasinya. Seperti yang lain
melaksanakan fertilisasi internal yaitu sperma diletakkan di dalam atau di
dekat saluran reproduktif betina, dan fertilisasi terjadi di dalam saluran
tersebut.
Ikan
maanvis tergolong dalam fertilisasi eksternal. Kebanyakan invertebrata akuatik
hanya melepaskan sel-sel telur dan sperma ke lingkungan, dan fertilisasi
terjadi tanpa kontak fisik kedua induk. Akan tetapi, penetapan waktu sangat
penting untuk memastikan bahwa sperma dan sel-sel telur yang matang saling
jumpa. Diantara beberapa spesies dengan fertilisasi eksternal, individu-individu
yang menggugus pada area yang sama melepaskan gamet-gametnya ke dalam air pada
waktu yang sama, suatu proses yang di kenal sebagai pemijahan (spawning). Pada
beberapa kasus, sinyal-sinyal kimiawi yang dihasilkan oleh salah satu individu
saat melepaskan gamet memicu individu-individu yang lain untuk melepaskan
gamet. Pada kasus-kasus yang lain, petunjuk-petunjuk lingkungan, misalnya suhu
atau panjang hari, menyebabkan seluruh populasi melepaskan gamet-gamet pada
saat yang bersamaan. Ikan maanvis, menyesuaikan waktu pemijahannya dengan musim
maupun siklus bulan. Ketika fertilisasi tidak singkron diseluruh populasi,
individu bisa menunjukkan perilaku kawin spesifik yang menyebabkan fertilisasi
sel-sel telur seekor betina oleh seekor jantan. Perilaku ‘percumbuan’ semacam
itu memiliki dua keuntungan yang penting, hal itu memungkinkan seleksi pasangan
kawin dan meningkatkan probabilitas fertilisasi yang berhasil dengan memicu
pelepasan sperma maupun sel telur. (Campbell, 2008)
2.5 Suhu
Kondisi suhu pada wadah pemijahan
atau aquarium haruslah dijaga dalam kondisi yang optimum bagi ikan maanvis.
Suhu yang optimum akan memberikan pertumbuhan ikan yang cepat, konversi pakan
yang efisien, dan relatif lebih tahan kepada beberapa jenis penyakit.
Hubungan antara suhu inkubasi dengan laju penyerapan kuning telur
berbanding lurus pada kisaran suhu optimal. Suhu berpengaruh terhadap laju
metabolisme hewan akuatik yang bersifat poikilotermal Aktivitas metabolisme
yang tinggi memerlukan energi yang besar sehingga laju penyerapan kuning telur
menjadi lebih cepat. Suhu yang rendah menghalangi perkembangan dan produksi
enzim sehingga dapat mengakibatkan kegagalan penetasan telur walaupun embrio
dapat mentolerir air yang dingin (Budiardi et al., 2005)
Ikan akan tumbuh apa bila nutrisi
pakan yang dicerna dan diserap oleh tubuh ikan lebih besar dari jumlah yang
diperlukan untuk memelihara tubuhnya. Hal ini akan terjadi apabila faktor
pendukungnya dalam keadaan optimal, berbeda halnya apabila faktor pendukung
misalnya suhu dibawah batas yang dapat ditolerir oleh ikan maka pakan yang
dimakan hanya digunakan untuk mempertahankan diri untuk hidup tidak untuk
tumbuh dan berkembang. tidak semua makanan yang dimakan oleh ikan digunakan
untuk pertumbuhan. Sebagian besar energi dari makanan digunakan untuk
metabolisme (pemeliharaan), sisanya digunakan untuk aktivitas, pertumbuhan dan
reproduksi. (Yunaidi, 2013)
Lama inkubasi telur tergantung jenis spesies dan suhu. Lama
pengeraman ikan tidak sama tergantung pada spesies ikannya dan beberapa faktor
luar. Faktor luar yang terutama mempengaruhi pengeraman adalah suhu perairan.
Ikan-ikan tropis tumbuh dengan baik pada suhu antara 25-320 C.
Kualitas (jumlah dan derajat tetas telur) sangat dipengaruhi oleh makanan,
ukuran induk, genetik, dan lingkungan serta konsentrasi asam lemak dalam
telurnya.
2.6 Laju
penyerapan kuning telur (LPKT)
Laju Penyerapan kuning telur dihitung dari awal
telur dikeluarkan sampai menetas dengan pengamatan setiap 1 jam sekali selama
10 jam, kemudian setiap 3 jam hingga menetas. Volume kuning telur dapat
dihitung dengan persamaan (Utomo, 2006) :
Volume
KT =
x L x H2
Keterangan
:
L = panjang kuning telur (mm)
H =
lebar kuning telur (mm)
Laju penyerapan kuning telur (LPKT) dihitung dengan persamaan
berikut :
VT =
Vo x e-gt
Dari
persamaan di atas dapat dihitung laju penyerapan kuning telur:
g =
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Waktu dan Tempat
Penelitian
dilakukan di Laboratorium Sistem dan Teknologi Akuakultur, Jurusan Budidaya
Perairan,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.
3.2
Alat dan Bahan
Sepasang
induk ikan manfish jenis three colour
dipelihara sampai memijah pada akuarium 60×28×35 cm yang dilengkapi dengan pipa
paralon sebagai substrat telurnya.
3.3
Prosedur Kerja
Telur yang dihasilkan ditetaskan
pada kepadatan 80 butir/akuarium. Pada prosespenetasan sampai
larva mencapai bentuk definitif (24 hari),
dilakukan pemeliharaan pada suhu
normal sebagai kontrol, 27°C dan 30°C sebagai perlakuan. Pengamatan embrio dimulai
1 jam setelah pembuahan dengan
mengukur panjang dan lebar
kuning telur setiap 1 jam pada 10 jam pertama kemudian setiap 3 jam
sampai kuning telur habis.
Waktu awal pengukuran panjang embrio didasarkan pada saat 50%
blastopor sudah tertutup embrio
Pemberian pakan dimulai pada hari ke-4 secara ad
libitum dengan frekuensi 2kali/hari pada pagi dan sore hari.
Pakan yang diberikan berupa infusoria
pada minggu pertama, Artemia pada minggu kedua dan dilanjutkan dengan cacahan cacing sutera(Tubifex) sampai
akhir pemeliharaan Paremeter yang
diukur selama penelitian antara
lain laju penyerapan kuning telur, pertumbuhan panjang relatif,
efisiensi pemanfaatan kuning Telur, derajat pembuahan,lama inkubasi,derajat
penetasan, , panjang embrio saat menetas. volume kuning telur saat
menetas, tingkat kelangsungan
hidup dan kualitas air.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hubungan antara suhu
inkubasi dengan laju
penyerapan kuning telur berbanding lurus pada kisaran suhu optimal. Suhu
berpengaruh terhadap
laju metabolisme hewan akuatik yang
bersifat poikilotermal. Aktivitas metabolisme yang tinggi memerlukan energi yang besar sehingga laju
penyerapan kuning telur menjadi lebih cepat. Pada suhu yang lebih rendah
aktifitas metabolik berjalan lebih lambat sehingga laju penyerapan kuning telurnya lebih kecil. Hal ini terbukti
dengan laju penyerapan
kuning telur embrio terbesar
yang dicapai oleh perlakuan suhu 300 C sebesar 2,92% per jam dengan laju pertumbuhan panjang embrio sebesar 2,16%
per jam. Kuning telur merupakan cadangan
pakan serta sebagai nutrien dan
energi untuk tumbuh dan berkembang. Laju
penyerapan kuning telur yang
lebih tinggi memungkinkan tersedianya energi
yang lebih tinggi. Efisiensi
merupakan banyaknya/besarnya
jaringan tubuh yang terbentuk dari penyerapan kuning telur.
Nilai efisiensi pemanfaatan kuning
telur embrio pada beberapa tingkat suhu
yang berbeda relatif sama yang
berkisar antara 70,91% sampai 81,21%.(Budiardi et al., 2005)
Panjang embrio
meningkat apabila telur ikan diinkubasi pada suhu
rendah. Suhu telur inkubasi yg lama akan memberikan kesempatan pada embrio untuk tumbuh lebih lama sebelum menetas.
Akibatnya, pada saat embrio menetas akan menghasilkan larva yang lebih panjang. Panjang larva
terbesar berada pada suhu alami sebesar
2,65 mm. Penetasan akan terjadi apabila panjang embrio melebihi kapasitas pembungkusnya. Telur lebih
cepat menetas pada suhu inkubasi 30°C
yaitu 27,41 jam setelah
pembuahan. Telur yang diinkubasi pada suhu tinggi akan menghasilkan
larva yang lebih cepat menetas. Suhu yang rendah menghalangi perkembangan dan
produksi enzim sehingga dapat mengakibatkan kegagalan penetasan telur walaupun embrio
dapat mentolerir air yang dingin.
Volume kuning telur yang meyertai larva
saat menetas sama pada semua suhu,
berkisar antara 0,39 sampai 0,45 mm. Volume kuning telur yang sama menyebabkan
derajat penetasan telur tidak berbeda nyata yang berkisar antara 84,75 sampai 90,91%.
Volume kuning telur yang sama
saat penetasan menunjukkan ketersediaan
energi yang sama sehingga
menghasilkan derajat penetasan yang sama. (Budiardi
et al., 2005)
Sebelum memasuki masa oxegenous feeding, sumber
energi larva berasal dari kuning telur yang laju penyerapannya
sejalan dengan peningkatan suhu sehingga suhu inkubasi
30°C menghasilkan laju penyerapan kuning telur larva tertinggi(3,29% perjam)
tingginya laju kecepatan metabolisme yang memanfaatkan kuning telur sebagai sumber nutrien dan energinya sehinga kuning
telur lebih cepat habis pada suhu 30°C
dibandingkan dengan suhu 27°C dan
suhu alami. (Budiardi et al., 2005)
Efisiensi pemanfaatan
kuning telur larva pada suhu 30°C
yang berarti bahwa jumlah energi yang digunakan untuk pertumbuhan
lebih tinggi dibandingkan
untuk aktivitas dan pemeliharaan
karena diduga larva lebih bisa beradaptasi pada suhu 300C dibandingkan
pada suhu lainnya. Perkembangan dan laju
pertumbuhan relatif panjang larva
setelah kuning telur habis juga
meningkat dengan peningkatan suhu sampai 30°C. Hal ini diduga karena kenaikan
suhu masih dapat ditolerir ikan untuk kebutuhan pemeliharaan
(maintance) dan
ikan akan lebih
aktif mencari makan. Indikasi
perkembangan tersebut antara lain pembentukan mata, mulut membuka, mata
berwarna hitam, gelembung renang terbentuk, gelembung renang terisi, dan usus
berlekuk Perkembangan itu sangat menentukan kesiapan larva untuk mencari dan
menerima pakan dari luar.
Kematian larva
pada suhu 30° C mulai terjadi pada hari ke-6, namun
tidak terjadi pada hari ke-8 sampai akhir percobaan. Pada suhu 27°C
kematian larva mulai terjadi pada hari ke-5 dan pada hari ke-12 larva tidak ada
yang mati lagi sampai akhir percobaan, Kematian
terbanyak pada suhu alami yang dimulai pada hari ke-7
sampai hari ke-15. Kematian larva pada masing-masing perlakuan berawal
ketika kuning telur mulai habis.
Braum (1978) menyatakan
bahwa kematian sangat mungkin terjadi pada fase larva sebagai akibat dari kualitas air yang tidak optimal. Namun nilai kualitas air
antara lain nilai oksigen terlarut,
karbon dioksida, amoniak dan pH
selama penelitian masih bisa mendukung ikan maanvis untuk
hidup. (Budiardi et al., 2005)
Laju penyerapan
kuning telur sangat berhubungan dengan perkembangan embrio dimana proses ini
memerlukan energi. Sumber energi yang digunakan adalah lemak, terutama asam
lemak jenuh. Sedangkan asam lemak tak jenuh lebih berperan dalam permeabilitas
membran sel bukan sebagai sumber energi utama. Begitu juga dengan protein yang
merupakan penyusun dominan kuning telur (Utomo, 2006)
Menurut Effendi
(1997), fase larva ini merupakan fase kritis yang terletak pada saat sebelum
dan sesudah penghisapan kuning telur dan masa transisi mulai mengambil pakan
dari luar.Sehingga pada fase ini tingkat kematian cukup tinggi. Sedangkan
menurut Woynarovich dan Horvath (1980), penyebab utama kematian larva karena
kekurangan ketersediaan makanan yang cocok. Larva akan mencapai stadia juvenil
bila sudah mempunyai sirip yang lengkap dan berdiferensiasi. Di tambahkan oleh
Effendi (1997), pertumbuhan dalam individu adalah pertambahan jaringan-jaringan
akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Hal ini terjadi apabila ada
kelebihan input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari makanan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan embrio dan larva adalah suhu, cahaya
mempengaruhi masa pemeliharaan larva, gas-gas terlarut seperti oksigen, karbon dioksida
dan amonia, dan salinitas tinggi dapat merusak telur ikan ait tawar.
Menurut Iqbal (2007), keterlambatan penetasan telur yang terjadi
pada telur yang diinkubasi disebabkan karena suhu di dalam wadah inkubasi
terlalu rendah. Telur yang ditetaskan di daerah yang bersuhu tinggi, waktu
penetasannya lebih cepat dibanding telur yang ditetaskan di daerah bersuhu
rendah. Telur yang diinkubasi pada suhu tinggi akan menghasilkan larva yang
lebih cepat menetas. Hal ini sesuai dengan Satyani (2007), suhu merupakan
faktor penting dalam mempengaruhi proses perkembangan embrio, daya tetas telur
dan kecepatan penyerapan kuning telur. Suhu yang rendah membuat enzim (chorion)
tidak bekerja dengan baik pada kulit telur dan membuat embrio akan lama dalam
melarutkan kulit, sehingga embrio akan menetas lebih lama. Sebaliknya pada suhu
tinggi dapat menyebabkan penetasan prematur sehingga larva atau embrio yang
menetas akan tidak lama hidup. Hal ini sesuai dengan Masrizal et al. (2001)
Kerja kelenjar pensekresi enzim pereduksi lapisan chorion telur sangat
peka terhadap kondisi lingkungan terutama suhu. (Dimas Nugroho, 2012)
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian,
maka dapat disimpulkan bahwa Hubungan antara suhu
inkubasi dengan laju
penyerapan kuning telur berbanding lurus pada kisaran suhu optimal. Sebelum
memasuki masa oxegenous feeding,
sumber energi larva adalah kuning telur yang laju penyerapannya sejalan
dengan peningkatan suhu. Jadi, Kuning telur merupakan
cadangan pakan serta sebagai nutrien dan energi untuk tumbuh
dan berkembang. Suhu yang
rendah menghalangi perkembangan dan produksi enzim sehingga dapat mengakibatkan
kegagalan penetasan telur walaupun embrio dapat mentolerir air yang dingin. Sebaliknya
pada suhu tinggi dapat menyebabkan penetasan prematur sehingga larva atau
embrio yang menetas tidak akan lama hidup. Sehingga, secara
umum dibutuhkan suhu optimal untuk penetasan dan pemeliharaan larva, yakni 30°C
dengan nilai efisiensi pemanfaatan kuning telur pada fase embrio sebesar 73,70% dan 0,18%. pada fase larva penyerapan
kuning telur dan laju pertumbuhan
relatif panjang serta tingkat kelangsungan hidup tinggi. Aktivitas
metabolisme yang tinggi memerlukan energi yang besar sehingga laju penyerapan
kuning telur menjadi lebih cepat. Penetasan akan
terjadi apabila panjang embrio melebihi
kapasitas pembungkusnya, dan Panjang embrio
meningkat ketika telur ikan diinkubasi pada suhu
rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell. 2008. Bilogi Jilid 3
Edisi Kedelapan. Erlangga : Jakarta
Budiardi, T., W. Cahyaningrum dan I.
Effendi. 2005. Efisiensi Pemanfaatan Kuning Telur
Embrio dan Larva Ikan Maanvis (Pterophyllum scalare) Pada Suhu
Inkubasi Yang berbeda. Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor : Bogor.
Dimas Nugraha, Mustofa Niti Supardjo dan
Subiyanto. 2012. Pengaruh Perbedaan Suhu Terhadap Perkembangan Embrio, Daya
Tetas Telur, dan Kecepatan Penyerapan Kuning telur Ikan Black Ghost
(Apteronotus albifrons) Pada Skala Laboratorium, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Universitas Diponegoro : Semarang.
N.B.P.
Utomo, N. Nurjanah dan M. Setiawati. 2006. Pengaruh Pemberian Pakan Dengan
Kadar Vitamin E Berbeda dan Asam Lemak n-3/n-1:2 Tetap Terhadap Penampilan
Reproduksi Ikan Zebra Betina Brachydanio rerio Pra Salin . IPB :
Bogor
Rabiati,
Yunaeidi Basri, dan Azrita. 2013. Pemberian Pakan Alami Yang Berbeda
Terhadap Laju Sintasan dan Pertumbuhan Larva Ikan Bujuk (Channa
lucius Civier). Universitas Bung Hatta : Padang
Tarwiyah.
2001. Budidaya Ikan Manfish (Pterophyllum scalare). Dinas
Perikanan : Jakarta
Mina,surya.2013, “Mengenal Manfish / Angel Fish (Pterophyllum scalare)”,
(online),
(http://www.bibitikan.net/ikan-hias-mengenal-manfish-angel-fish-pterophyllum-scalare/)di
akses tanggal 29 oktober 2014
