Kamis, 15 Januari 2015

FISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah fisiologi hewan)

EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA
(Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah fisiologi hewan)

 

Dosen Pengampu:
Lora Purnama Sari, S.Pd, M.Si

Disusun Oleh:
Nama                          :           Dwi Retno Wati
NPM                           :           1211060215
Jurusan/Semester      :           Biologi A/V

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2014


KATA PENGANTAR

            Assalamu’allaikum. Wr. Wb.
            Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. karena berkat nikmat, ma’unah dan hidayah-Nya, makalah ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam kami sanjungkan atas keharibaan Nabi besar Muhammad SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah berjuang dan berkorban demi tegaknya syi’ar Islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga kini masih terasa.
            Karya tulis Ilmiah ini disusun selain sebagai tugas individu, juga agar dapat  menambah pengetahuan dan pemahaman pembaca dan penyusun pada kh/ususnya, terhadap materi yang dikaji yaitu pada mata kuliah “FISIOLOGI HEWAN mengenai EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA”. Harapan yang paling besar dari penyusunan karya tulis ilmiah ini ialah mudah-mudahan apa yang penulis susun ini penuh manfaat baik untuk pribadi, teman-teman serta orang lain 
Wassalamu’allaikum. Wr. Wb.


 Bandar Lampung, 13 Desember 2014



Penulis


DAFTAR ISI

COVER...............................................................................................................................      i
KATA PENGANTAR........................................................................................................      ii
DAFTAR ISI......................................................................................................................      iii
ABSTRAK..........................................................................................................................      1
BAB I LATAR BELAKANG
1.1  Latar Belakang..............................................................................................................      2
1.2  Rumusan Masalah..........................................................................................................      3
1.3  Tujuan Penulisan............................................................................................................      3
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Ikan Maanvis...............................................................................................      4
2.2 Morfologi dan Anatomi Ikan Maanvis..........................................................................      5
2.3 Reproduksi Ikan Maanvis..............................................................................................      6
2.4 Suhu...............................................................................................................................      6
2.5 Laju Penyerapan Kuning Telur......................................................................................      7
BAB III METODE PENELITIAN....................................................................................      8
3.1 Waktu dan Tempat........................................................................................................      8
3.2 Alat dan Bahan..............................................................................................................      8
3.3 Prosedur Kerja...............................................................................................................      8
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................................      9
BAB V KESIMPULAN.....................................................................................................     12
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................     13




ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efisiensi pemanfaatan kuning telur pada embrio dan larva, derajat penetasan, lama inkubasi telur hingga menetas, dan laju pertumbuhan serta kelangsungan hidup larva ikan maanvis (Pterophyllum scalare) yang diinkubasi pada suhu ruang, 27oC dan 30oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai efisiensi pemanfaatan kuning telur bila diinkubasi pada suhu 30oCsebesar 73,70% pada fase embrio dan 0,18% pada fase larva, dan tidak berbeda dengan suhu ruang dan 27oC. Demikian juga dengan derajat penetasan telur (84,75%) tidak berbeda dengan perlakuan lainnya. Sementara itu, lama inkubasi telur hingga menetas (27,41 jam) lebih cepat dibandingkan dengan suhu inkubasi perlakuan lainnya. Demikian juga dengan laju pertumbuhan panjang (2,16%) dan kelangsungan hidup larva (75,28%) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dengan demikian, secara umum suhu optimal untuk penetasan dan pemeliharaan larva ikan maanvis adalah 30°C.
Kata kunci: ikan maanvis, Pterophyllum scalare, kuning telur, larva, embrio, suhu



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Ikan  manfish termasuk  jenis ikan hias yang mudah  stress dan  terserang penyakit serta mempunyai masa kritis terutama pada masa larva. Periode kritis larva ikan maanvis terjadi antara umur 6-15 hari yang merupakan masa  peralihan antara endogenous feeding dengan exogenous Kematian diduga karena kemampuan  larva untuk  mengambil pakan dari luar rendah yang berkaitan dengan pembentukkan organ-organ pemangsaan yang rendah sebagai akibat dari penggunaan kuning telur  yang tidak  efisien. Efisiensi pemanfaatan dilihat dari pemanfaatan kuning telur  yang dikonversikan  menjadi jaringan tubuh  dan akan  bernilai  maksimal pada suhu  normal. Meningkatnya suhu  akan  mempercepat kelangsungan  metabolisme sehingga nutrient  dan energi yang dibutuhkan menjadi lebih besar. Suhu yang melewati batas optimal menyebabkan nutrient dan energi akan lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan akan menurun. Embrio  yang diinkubasi  pada  suhu  optimal  menghasilkan larva yang berukuran  besar,  porsi  kuning telur menjadi jaringan lebih tinggi kemampuan makan dan berenang lebih besar, kuat dan tidak  mudah sakit. Hal tersebut  menyebabkan  daya  tahan  larva tinggi sehingga diharapkan akan meningkatkan kelangsungan hidup. (Budiardi et al., 2005)
Usaha perdagangan ikan hias laut sudah berjalan cukup lama lebih dari 30 tahun. Sebagian besar dijual untuk pasar dunia sebagai produk ekspor dan sebagian lagi untuk pasar domestik, namun demikian issu cara tangkap yang illegal yaitu menggunakan potasium sianida dan cara-cara yang tidak ramah lingkungan mengakibatkan populasi ikan menurun dan banyaknya luasan terumbu karang yang rusak oleh karenanya. Adapula issu yang berkembang bahwa pasar Eropa hanya menerima ikan hias dari hasil budidaya ditahun mendatang. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya perbenihan ikan hias laut khususnya ikan maanvis.
Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh suhu terhadap perkembangan embrio, daya tetas telur dan penyerapan kuning telur ikan Maanvis (Pterophyllum scalare). Manfaat penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai suhu optimal untuk memperoleh perkembangan embrio, daya tetas telur tinggi dan penyerapan kuning telur ikan maanvis serta dapat digunakan sebagai acuan penelitian lebih lanjut.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah yang bisa penulis rumuskan adalah sebagai berikut :
a.       Bagaimana hubungan antara suhu inkubasi dengan laju penyerapan kuning telur ?
b.      Bagaimana peran kuning telur dalam penetasan telur ikan maanvis ?
c.       Mengapa kuning telur dapat menjadi faktor kegagalan penetasan telur ikan hias ?

1.3  Tujuan Penulisan
Dalam karya tulis ini, penyusun memiliki berbagai tujuan yaitu sebagai berikut :
a.       Untuk mengetahui  hubungan antara suhu inkubasi dengan laju penyerapan kuning telur.
b.      Untuk mengetahui peran kuning telur dalam penetasan telur ikan maanvis.
c.       Untuk mengetahui hal yang membuat kuning telur dapat menjadi faktor kegagalan dalam penetasan telur ikan hias.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Ikan Maanvis
            Klasifikasi ikan manfish sebagai berikut:
Kingdom         : Animalia
Sub Kingdom  : Metazoa
Phylum            : Chordata
Sub phylum      : Vertebrata
Superclass       : Osteichthyes
Class                : Actinopterygii
Ordo                 : Perciformes
Family              : Cichlidae
Genus               : Pterophyllum
Species             : Pterophyllum scalare
            Ikan maanvis bersifat omnifora di lingkungan alaminya. Makanannya terdiri dari plankton, larva dari serangga, tumbuhan, dan cacing. Karena bentuk dan warnanya yang menarik, serta gerakan yang tenang, sehingga minat masyarakat terhadap ikan manfish (Angle Fish) cukup besar. Harga ikan Manfish pun cukup tinggi, sehingga pembudidayaannya dapat dijadikan sebagai usaha sambilan yang dapat menambah penghasilan keluarga. (Tarwiyah, 2001)
            Dari keindahan morfologi yang dimiliki oleh ikan maaanvis, mengakibatkan masyarakat banyak yang membudidayakan ikan maanvis, sebagai usaha sampingan karena harga ikan maanvis yang tinggi, maupun hanya untuk hiasan di rumah. Selain itu, Pemeliharaan ikan maanvis tidak terlalu rumit, pakan ikan ini mudah didapatkan. Namun, terdapat kelemahan dalam membudidayakan ikan maanvis, yaitu kegagalan dalam penetasan telur yang dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu suhu, kualitas air, kualitas kuning telur, dan lain sebagainya.

2.1 Morfologi dan Anatomi Ikan Maanfish
            Ikan manfish (Angle Fish) berasal dari Amerika Selatan, tetapi telah banyak dibudidayakan di Indonesia. Ikan manfish disebut Angle Fish (Ikan Bidadari), karena bentuk dan warnanya menarik serta gerakkannya yang tenang. Secara umum budidaya ikan manfish tidak membutuhkan lahan yang luas, bahkan dapat dilakukan dalam aquarium atau paso dari tanah, sehingga tidak membutuhkan investasi besar untuk budidayanya. (Tarwiyah, 2001)
Ikan maanvis merupakan salah satu ikan hias air tawar yang dikenal secara luas di dunia. Ikan maanvis berbentuk cakram yang mempunyai bentuk sirip yang sangat indah. Sirip dorsal, dan sirip anal memiliki ukuran yang sangat panjang dan melebihi panjang tubuh ikan. Warna tubuh keperakan dengan garis hitam vertikal. perbedaan jenis kelamin pada ikan ini sangat susah dibedakan pada fase juvenil, ikan maanvis bisa dibedakan antara jantan dan betina ketika sudah memasuki masa pemijahan.
Ketika mulai memasuki masa pemijahan, maka perbedaan antara induk jantan dan betina dapat dilihat yaitu induk jantan ikan maanvis ukurannya relatif lebih besar dari induk betina pada umur yang sama;  jika dilihat dari atas perut pipih atau ramping sedangkan induk betina perut terlihat lebih besar dan menonjol; bentuk kepala agak besar daripada kepala induk betina; dan antara mulut dan sirip punggung berbentuk cembung, sedangkan pada induk betina sirip punggung berbentuk garis lurus kadang menonjol sedikit. (Tarwiyah, 2001)
(a)                                            (b)                                           (c)
(d)                                           (e)                                            (f)
(g)                                            (h)                                           (i)
Gambar Fenotipe ikan maanvis Pterophyllum scalare: (a) Smokey,(b) DarkBlack, (c)Marble Ghost, (d) Halfback, (e) Zebra Lace, (f) Black Clown, (g) Leopard, (h) Goldpearlscale,(i) Blue Koi
2.4 Reproduksi Ikan Maanvis
       Reproduksi ikan maanvis merupakan reproduksi seksual, yaitu penyatuan gamet haploid membentuk sebuah sel diploid, zigot. Indivisu yang berkembang dari zigot nantinya akan memunculkan gamet melalui meiosis. Gamet betina atau telur adalah sel non motil yang berukuran besar. Gamet jantan atau sperma, umumnya merupakan sel motil yang berukuran jauh lebih kecil. fertilisasi merupakan penyatuan sperma dan sel telur yang dapat berlangsung secara eksternal maupun internal. Pada fertilisasi internal, betina melepaskan sel-sel telur ke lingkungan, tempat jantan kemudian memfertilisasinya. Seperti yang lain melaksanakan fertilisasi internal yaitu sperma diletakkan di dalam atau di dekat saluran reproduktif betina, dan fertilisasi terjadi di dalam saluran tersebut.
       Ikan maanvis tergolong dalam fertilisasi eksternal. Kebanyakan invertebrata akuatik hanya melepaskan sel-sel telur dan sperma ke lingkungan, dan fertilisasi terjadi tanpa kontak fisik kedua induk. Akan tetapi, penetapan waktu sangat penting untuk memastikan bahwa sperma dan sel-sel telur yang matang saling jumpa. Diantara beberapa spesies dengan fertilisasi eksternal, individu-individu yang menggugus pada area yang sama melepaskan gamet-gametnya ke dalam air pada waktu yang sama, suatu proses yang di kenal sebagai pemijahan (spawning). Pada beberapa kasus, sinyal-sinyal kimiawi yang dihasilkan oleh salah satu individu saat melepaskan gamet memicu individu-individu yang lain untuk melepaskan gamet. Pada kasus-kasus yang lain, petunjuk-petunjuk lingkungan, misalnya suhu atau panjang hari, menyebabkan seluruh populasi melepaskan gamet-gamet pada saat yang bersamaan. Ikan maanvis, menyesuaikan waktu pemijahannya dengan musim maupun siklus bulan. Ketika fertilisasi tidak singkron diseluruh populasi, individu bisa menunjukkan perilaku kawin spesifik yang menyebabkan fertilisasi sel-sel telur seekor betina oleh seekor jantan. Perilaku ‘percumbuan’ semacam itu memiliki dua keuntungan yang penting, hal itu memungkinkan seleksi pasangan kawin dan meningkatkan probabilitas fertilisasi yang berhasil dengan memicu pelepasan sperma maupun sel telur. (Campbell, 2008)
2.5 Suhu
Kondisi suhu pada wadah pemijahan atau aquarium haruslah dijaga dalam kondisi yang optimum bagi ikan maanvis. Suhu yang optimum akan memberikan pertumbuhan ikan yang cepat, konversi pakan yang efisien, dan relatif lebih tahan kepada beberapa jenis penyakit.  
Hubungan antara suhu inkubasi dengan laju penyerapan kuning telur berbanding lurus pada kisaran suhu optimal. Suhu berpengaruh terhadap laju metabolisme hewan akuatik yang bersifat poikilotermal Aktivitas metabolisme yang tinggi memerlukan energi yang besar sehingga laju penyerapan kuning telur menjadi lebih cepat. Suhu yang rendah menghalangi perkembangan dan produksi enzim sehingga dapat mengakibatkan kegagalan penetasan telur walaupun embrio dapat mentolerir air yang dingin (Budiardi et al., 2005)
Ikan akan tumbuh apa bila nutrisi pakan yang dicerna dan diserap oleh tubuh ikan lebih besar dari jumlah yang diperlukan untuk memelihara tubuhnya. Hal ini akan terjadi apabila faktor pendukungnya dalam keadaan optimal, berbeda halnya apabila faktor pendukung misalnya suhu dibawah batas yang dapat ditolerir oleh ikan maka pakan yang dimakan hanya digunakan untuk mempertahankan diri untuk hidup tidak untuk tumbuh dan berkembang. tidak semua makanan yang dimakan oleh ikan digunakan untuk pertumbuhan. Sebagian besar energi dari makanan digunakan untuk metabolisme (pemeliharaan), sisanya digunakan untuk aktivitas, pertumbuhan dan reproduksi. (Yunaidi, 2013)
Lama inkubasi telur tergantung jenis spesies dan suhu. Lama pengeraman ikan tidak sama tergantung pada spesies ikannya dan beberapa faktor luar. Faktor luar yang terutama mempengaruhi pengeraman adalah suhu perairan. Ikan-ikan tropis tumbuh dengan baik pada suhu antara 25-320 C. Kualitas (jumlah dan derajat tetas telur) sangat dipengaruhi oleh makanan, ukuran induk, genetik, dan lingkungan serta konsentrasi asam lemak dalam telurnya.

2.6 Laju penyerapan kuning telur (LPKT)
Laju Penyerapan kuning telur dihitung dari awal telur dikeluarkan sampai menetas dengan pengamatan setiap 1 jam sekali selama 10 jam, kemudian setiap 3 jam hingga menetas. Volume kuning telur dapat dihitung dengan persamaan (Utomo, 2006) :
Volume KT =  x L x H2
Keterangan :
 L = panjang kuning telur (mm)
H = lebar kuning telur (mm)
Laju penyerapan kuning telur (LPKT) dihitung dengan persamaan berikut :
VT = Vo x e-gt
Dari persamaan di atas dapat dihitung laju penyerapan kuning telur:
g =
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan di Laboratorium Sistem dan Teknologi Akuakultur, Jurusan Budidaya Perairan,Fakultas Perikanan  dan Ilmu  Kelautan IPB.

3.2 Alat dan Bahan
Sepasang induk  ikan manfish jenis three colour dipelihara sampai memijah pada akuarium 60×28×35 cm yang dilengkapi dengan pipa paralon sebagai substrat telurnya.

3.3 Prosedur Kerja
              Telur yang dihasilkan ditetaskan pada kepadatan  80  butir/akuarium. Pada prosespenetasan sampai larva mencapai bentuk definitif  (24  hari),  dilakukan  pemeliharaan pada suhu normal sebagai kontrol, 27°C dan 30°C sebagai perlakuan. Pengamatan embrio dimulai 1  jam setelah pembuahan dengan mengukur  panjang dan  lebar  kuning telur setiap 1 jam pada 10 jam pertama kemudian setiap  3 jam  sampai kuning telur  habis. Waktu  awal pengukuran  panjang embrio didasarkan  pada saat 50%  blastopor  sudah tertutup embrio
            Pemberian pakan dimulai pada hari ke-4 secara ad libitum dengan frekuensi 2kali/hari pada pagi dan  sore hari.  Pakan  yang diberikan berupa infusoria pada minggu pertama,  Artemia  pada minggu  kedua dan dilanjutkan  dengan cacahan cacing sutera(Tubifex) sampai akhir pemeliharaan Paremeter  yang diukur  selama penelitian antara lain  laju penyerapan  kuning telur, pertumbuhan panjang relatif, efisiensi pemanfaatan kuning Telur, derajat pembuahan,lama inkubasi,derajat penetasan, , panjang embrio saat menetas. volume kuning telur  saat  menetas,  tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air.









BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
    
             Hubungan  antara suhu  inkubasi dengan laju  penyerapan  kuning telur  berbanding lurus pada kisaran suhu optimal. Suhu  berpengaruh  terhadap  laju metabolisme hewan  akuatik  yang  bersifat poikilotermal. Aktivitas metabolisme yang tinggi  memerlukan energi yang besar sehingga laju penyerapan kuning telur menjadi lebih cepat. Pada suhu yang lebih rendah aktifitas metabolik berjalan lebih lambat sehingga laju penyerapan  kuning telurnya lebih  kecil. Hal ini  terbukti  dengan  laju  penyerapan  kuning telur  embrio  terbesar  yang dicapai oleh perlakuan suhu 300  C sebesar 2,92% per jam dengan  laju pertumbuhan panjang embrio sebesar  2,16%  per  jam.  Kuning telur merupakan  cadangan  pakan  serta sebagai nutrien dan energi untuk tumbuh dan berkembang. Laju  penyerapan  kuning telur yang lebih tinggi memungkinkan tersedianya energi  yang lebih  tinggi. Efisiensi merupakan banyaknya/besarnya  jaringan  tubuh  yang terbentuk dari penyerapan kuning telur. Nilai efisiensi pemanfaatan  kuning telur  embrio pada beberapa  tingkat suhu  yang berbeda relatif  sama yang berkisar  antara 70,91% sampai 81,21%.(Budiardi et al., 2005)
            Panjang embrio  meningkat apabila telur ikan  diinkubasi pada  suhu  rendah. Suhu telur inkubasi yg lama akan memberikan  kesempatan pada embrio  untuk tumbuh lebih lama sebelum menetas. Akibatnya,  pada saat embrio  menetas akan menghasilkan  larva yang lebih panjang. Panjang larva terbesar  berada pada suhu alami sebesar 2,65 mm. Penetasan akan terjadi apabila panjang embrio  melebihi kapasitas pembungkusnya. Telur lebih cepat menetas pada suhu inkubasi 30°C  yaitu  27,41  jam setelah  pembuahan.  Telur  yang diinkubasi pada suhu tinggi akan  menghasilkan  larva  yang lebih cepat menetas. Suhu  yang rendah menghalangi perkembangan dan produksi enzim sehingga dapat mengakibatkan kegagalan  penetasan telur walaupun  embrio  dapat mentolerir  air yang dingin. Volume kuning telur  yang meyertai larva saat menetas sama  pada semua suhu, berkisar antara 0,39 sampai 0,45 mm. Volume kuning telur yang sama menyebabkan derajat penetasan telur tidak berbeda nyata yang berkisar  antara 84,75 sampai  90,91%.  Volume kuning telur  yang sama saat penetasan menunjukkan ketersediaan  energi  yang sama sehingga menghasilkan derajat penetasan yang sama. (Budiardi et al., 2005)
            Sebelum memasuki masa oxegenous feeding,  sumber  energi  larva berasal  dari kuning telur yang laju penyerapannya sejalan dengan  peningkatan  suhu sehingga suhu  inkubasi  30°C  menghasilkan  laju penyerapan  kuning telur larva tertinggi(3,29% perjam) tingginya laju  kecepatan  metabolisme yang  memanfaatkan kuning telur  sebagai sumber  nutrien dan energinya sehinga kuning telur  lebih  cepat habis pada suhu  30°C  dibandingkan  dengan suhu 27°C dan suhu alami. (Budiardi et al., 2005)
            Efisiensi pemanfaatan  kuning telur  larva pada suhu  30°C  yang berarti bahwa jumlah energi yang digunakan  untuk  pertumbuhan lebih  tinggi  dibandingkan  untuk  aktivitas dan  pemeliharaan  karena diduga larva lebih bisa beradaptasi pada suhu 300C dibandingkan pada suhu lainnya. Perkembangan  dan  laju  pertumbuhan relatif  panjang larva setelah  kuning telur habis juga meningkat dengan  peningkatan suhu  sampai 30°C. Hal ini diduga karena kenaikan suhu  masih  dapat ditolerir ikan untuk  kebutuhan  pemeliharaan  (maintance) dan  ikan  akan  lebih  aktif  mencari makan. Indikasi perkembangan tersebut antara lain pembentukan mata, mulut membuka, mata berwarna hitam, gelembung renang terbentuk, gelembung renang terisi, dan usus berlekuk Perkembangan itu sangat menentukan kesiapan larva untuk mencari dan menerima pakan dari luar.
            Kematian  larva pada suhu  30° C  mulai terjadi pada hari ke-6,  namun  tidak terjadi pada hari ke-8 sampai akhir percobaan. Pada suhu 27°C kematian larva mulai terjadi pada hari ke-5 dan pada hari ke-12 larva tidak ada yang mati lagi sampai akhir percobaan, Kematian  terbanyak  pada  suhu alami  yang dimulai pada hari  ke-7  sampai hari ke-15. Kematian larva pada masing-masing perlakuan berawal ketika kuning telur mulai habis.  Braum  (1978)  menyatakan  bahwa kematian  sangat mungkin  terjadi pada fase larva  sebagai akibat  dari kualitas air  yang tidak optimal. Namun nilai kualitas air antara lain  nilai oksigen  terlarut,  karbon  dioksida, amoniak  dan  pH selama penelitian  masih bisa  mendukung ikan  maanvis untuk  hidup. (Budiardi et al., 2005)
Laju penyerapan kuning telur sangat berhubungan dengan perkembangan embrio dimana proses ini memerlukan energi. Sumber energi yang digunakan adalah lemak, terutama asam lemak jenuh. Sedangkan asam lemak tak jenuh lebih berperan dalam permeabilitas membran sel bukan sebagai sumber energi utama. Begitu juga dengan protein yang merupakan penyusun dominan kuning telur (Utomo, 2006)
Menurut Effendi (1997), fase larva ini merupakan fase kritis yang terletak pada saat sebelum dan sesudah penghisapan kuning telur dan masa transisi mulai mengambil pakan dari luar.Sehingga pada fase ini tingkat kematian cukup tinggi. Sedangkan menurut Woynarovich dan Horvath (1980), penyebab utama kematian larva karena kekurangan ketersediaan makanan yang cocok. Larva akan mencapai stadia juvenil bila sudah mempunyai sirip yang lengkap dan berdiferensiasi. Di tambahkan oleh Effendi (1997), pertumbuhan dalam individu adalah pertambahan jaringan-jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Hal ini terjadi apabila ada kelebihan input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari makanan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan embrio dan larva adalah suhu, cahaya mempengaruhi masa pemeliharaan larva, gas-gas terlarut seperti oksigen, karbon dioksida dan amonia, dan salinitas tinggi dapat merusak telur ikan ait tawar.
Menurut Iqbal (2007), keterlambatan penetasan telur yang terjadi pada telur yang diinkubasi disebabkan karena suhu di dalam wadah inkubasi terlalu rendah. Telur yang ditetaskan di daerah yang bersuhu tinggi, waktu penetasannya lebih cepat dibanding telur yang ditetaskan di daerah bersuhu rendah. Telur yang diinkubasi pada suhu tinggi akan menghasilkan larva yang lebih cepat menetas. Hal ini sesuai dengan Satyani (2007), suhu merupakan faktor penting dalam mempengaruhi proses perkembangan embrio, daya tetas telur dan kecepatan penyerapan kuning telur. Suhu yang rendah membuat enzim (chorion) tidak bekerja dengan baik pada kulit telur dan membuat embrio akan lama dalam melarutkan kulit, sehingga embrio akan menetas lebih lama. Sebaliknya pada suhu tinggi dapat menyebabkan penetasan prematur sehingga larva atau embrio yang menetas akan tidak lama hidup. Hal ini sesuai dengan Masrizal et al. (2001) Kerja kelenjar pensekresi enzim pereduksi lapisan chorion telur sangat peka terhadap kondisi lingkungan terutama suhu. (Dimas Nugroho, 2012)


















BAB IV
KESIMPULAN

            Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa Hubungan  antara suhu  inkubasi dengan laju  penyerapan  kuning telur  berbanding lurus pada kisaran suhu optimal. Sebelum memasuki masa oxegenous feeding,  sumber  energi  larva adalah  kuning telur yang laju penyerapannya sejalan dengan  peningkatan  suhu. Jadi, Kuning telur merupakan  cadangan  pakan  serta sebagai nutrien dan energi untuk tumbuh dan berkembang. Suhu yang rendah menghalangi perkembangan dan produksi enzim sehingga dapat mengakibatkan kegagalan penetasan telur walaupun embrio dapat mentolerir air yang dingin. Sebaliknya pada suhu tinggi dapat menyebabkan penetasan prematur sehingga larva atau embrio yang menetas tidak akan lama hidup. Sehingga, secara umum dibutuhkan suhu optimal untuk penetasan dan pemeliharaan larva, yakni 30°C dengan nilai efisiensi pemanfaatan kuning telur pada fase embrio sebesar  73,70% dan 0,18%. pada fase larva penyerapan kuning  telur dan laju pertumbuhan relatif panjang serta tingkat kelangsungan hidup tinggi. Aktivitas metabolisme yang tinggi memerlukan energi yang besar sehingga laju penyerapan kuning telur menjadi lebih cepat. Penetasan akan terjadi apabila panjang embrio  melebihi kapasitas pembungkusnya, dan Panjang embrio  meningkat ketika telur ikan  diinkubasi pada  suhu  rendah.















DAFTAR PUSTAKA

Campbell. 2008. Bilogi Jilid 3 Edisi Kedelapan. Erlangga : Jakarta
Budiardi, T., W. Cahyaningrum dan I. Effendi. 2005. Efisiensi Pemanfaatan Kuning Telur
Embrio dan Larva Ikan Maanvis (Pterophyllum scalare) Pada Suhu Inkubasi Yang berbeda. Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor : Bogor.
Dimas Nugraha, Mustofa Niti Supardjo dan Subiyanto. 2012. Pengaruh Perbedaan Suhu Terhadap Perkembangan Embrio, Daya Tetas Telur, dan Kecepatan Penyerapan Kuning telur Ikan Black Ghost (Apteronotus albifrons) Pada Skala Laboratorium, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro : Semarang.
N.B.P. Utomo, N. Nurjanah dan M. Setiawati. 2006. Pengaruh Pemberian Pakan Dengan Kadar Vitamin E Berbeda dan Asam Lemak n-3/n-1:2 Tetap Terhadap Penampilan Reproduksi Ikan Zebra Betina Brachydanio rerio Pra Salin . IPB : Bogor
Rabiati, Yunaeidi Basri, dan Azrita. 2013. Pemberian Pakan Alami Yang Berbeda Terhadap Laju Sintasan dan Pertumbuhan Larva Ikan Bujuk (Channa lucius Civier). Universitas Bung Hatta : Padang
Tarwiyah. 2001. Budidaya Ikan Manfish (Pterophyllum scalare). Dinas Perikanan : Jakarta
Mina,surya.2013,Mengenal Manfish / Angel Fish (Pterophyllum scalare)”, (online), (http://www.bibitikan.net/ikan-hias-mengenal-manfish-angel-fish-pterophyllum-scalare/)di akses tanggal 29 oktober 2014



FISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah fisiologi hewan)

EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS ( Pterophyllum scalare ) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna m...