Rabu, 25 Juni 2014

Amphibia (taksonomi vertebrata)

AMPHIBI
(ORDO URODELA, ANURA, dan APODA)

DOSEN:
GRESS MARETTA,M.Si

KELOMPOK 3

DWI RETNO WATI                        (1211060215)
NINING FAUZIATUZ ZAHRA     (1211060072)
NOVIA USWATUNKHASANAH (1211060018)
SITI  NURUL AMANAH               (1211060002)
SLAMET HARIYANTO                 (1211060095)
 








FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN)
RADEN INTAN LAMPUNG
2014


Amphibian adalah kelas tetrapoda yang paling tua.
            Vertebrata di darat pertama adalah anggota kelas amphibian pertama. Saat ini kelas tersebut diwakili oleh kurang lebih 4000 spesies katak, salamander, dan caecilian (mahkluk tak bertungkai yang membuat lubang untuk sarang di hutan tropis dan danau air tawar).
Amphibi Awal
Seperti sekarang, beberapa bagian dunia saat masa Devon juga mengalami siklus pergantian musim kemarau, yang diikuti dengan curah hujan yang lebat dan kemudian musim kemarau lagi, dan seterusnya. Pada daerah seperti itu, beberapa ikan bersirip lobus yang memiliki paru-paru mungkin telah berkembangbiak. Struktur kerangka siripnya menunjukkan bahwa anggota badan yang berpasangan ini mungkin membantu pergerakan hewan tersebut di darat. Beberapa fosil ikan bersirip lobus, termasuk hewan rhipidistian yang bernama Eusthenopteron, menunjukkan banyak kemiripan anatomis lainnya dengan amphibi yang paling awal. Suatu hipotesis lama berlaku yang menyatakan bahwa ikan bersirip lobus dari masa Devon sangat dekat hubungannya dengan leluhur tetrapoda. Namun demikian, beberapa bukti molekuler menyarankan bahwa lungfish secara filogenetik lebih dekat dengan amfibia dibandingkan dengan ikan bersirip lobus.
Fosil amfibia tertua di simpulkan berasal dari akhir masa Devon, sekita 365 juta tahun silam. Kemungkinan sebagian besar hewan-hewan amphibian pertama merupakan hewan akuatik yang kadang-kadang mengembara ke darat untuk menghindari ikan karnivora atau mengeksploitasi makanan yang berlimpah (serangga dan invertebrate lain), yang mendahului amfibi hidup di darat. Radiasi adaptive tetrapoda paling awal menghasilkan suatu keanekaragaman bentuk-bentuk baru. Banyak amfibia masa Karboniferus sangat menyerupai reptilian. Beberapa diantaranya mencapai 4 m. karena amfibia merupakan satu-satunya vertebrata di darat pada akhir masa Devon dan awal masa Karboniferus, era amfibia merupakan nama yang tepat untuk masa Karboniferus. Jumlah amfibia mulai menyusut menjelang akhir masa karboniferus. Setelah zaman Mesozoikum dimulai dara masa Trias, sekitar 245 juta tahun silam, sebagian besar hewan yang selamat dari garis keturunan amfibia menyerupai spesies modern.
Amfibia Modern
Terdapat tiga ordo kelas Amphibia yang masih hidup saat ini : Urodela (“berekor” - salamander ) ; Anura (“tidak berekor” - katak, termasuk bangkong) ; dan Apoda (“tak berkaki” – caecilian).
            Hanya ada sekitar 400 spesies dari ordo Urodela. Beberapa diantaranya hanya hidup di air, tetapi yang lain hidup di darat sebagai hewan dewasa atau bahkan sepanjang masa kehidupan. Sebagian besar salamander yang hidup didarat berjalan dengan pembengkoan badan dari sisi kesisi yang mirip dengan cara berjalan tetrapoda awal. 
Ordo Urodela
            Anura, yang beranggotakan hamper 3500 spesies, lebih terspealisasi dibandingkan dibandingkan dengan Urodela untuk pergerakan di darat. Katak dewasa menggunakan kaki belakangnya yang kuat itu untuk melompat di tanah. Seekor katak menangkap lalat dengan cara menjulurkan lidah panjangnya yang lengket, yang bertaut kebagian depan mulut. Katak memperlihatkan beranekaragam adaptasiyang membantu mereka untuk menghindari serangan pemangsa yang lebih besar. Sama dengan amfibia lain, banyak katak memperlihatkan pola warna yang menyamarkan. Kelenjar kulit katak menghasilkan mucus, yang tidak enak, bahkan beracun. Banyak spesies beracun memiliki pola warna itu dengan bahaya.
Ordo Anura
            Apoda, disebut juga caecilian (sekitar 150 spesies), tidak bertungkai dan hamper buta, dan sangat menyerupai cacing tanah. Caecilian hidup di daerah tropis yang dimana sebagian besar spesies ini bersarang dalam lubang di dalam tanah hutan yang lembap;beberapa anggota ordo Apoda di Amerika Selatan hidup dalam kolam dan aliran air tawar.
Ordo Apoda
            Amphibian berati “dua kehidupan” , yang mengacu kepada metamorfosis banyak jenis katak. Kecebong, yang merupakan tahapan larva dari seekor katak, umumnya adalah herbivore akuatik dengan insang, system gurat sisi yang mirip dengan ikan, dan ekor panjang bersirip. Kecebong tidak memiliki kaki dan berenang dengan cara menggeliat seperti leluhurnya yang mirip ikan. Selama metamorfosis yang berakhir denga “kehidupan kedua”, kaki berkembang, dan system gurat sisi menghilang. Tetrapoda muda dengan paru-paru untuk bernapas, sepasang gendang telinga eksternal, dan system pencernaan yang diadaptasikan untuk mengkonsumsi makanan sebagai hewan karnivora, merangkak ketepian dan memulai kehidupan di darat. Namun demikian, meskipun menyandang nama amfibia, banyak jenis katak tidak melalui tahapan kecebong akuatik, dan banyak amfibia tidak hidup di dua kehidupan akuatik dan terrestrial. Beberapa katak, salamander, dan caecilian ada yang hanya hidup di air dan ada yang hanya hidup di darat. Selain itu, larva salamander dan caecilian sangat menyerupai bentuk hewan dewasa, dan baik larva maupun hewan dewasa itu adalah hewan karnivora. Paedogenesis sangat umum terjadi pada beberapa kelompok salamander; mudpuppy (Necturus), misalnya, mempertahankan insang dan ciri larva lainnya ketika mencapai kematangan seksual.
            Sebagian besar amfibia tetap hidup di dekat air, dan paling belimpah adalah di habitat yang lembab seperti rawa dan hutan hujan tropis. Bahkan katak yang beradaptasi dengan habitat yang lebih kering menghabiskan banyak waktunya didalam lubang sarang atau dibawah daun yang lembap, dimana kelembapan sangat tinggi. Sebagian besar amfibia sangat bergantung pada kulitnya yang lembap untuk melakukan pertukaran gas dengan lingkungannya. Beberapa spesies darat tidak memiliki paru-paru dan bernapas hanya dengan melalui kulit dan rongga mulutnya.
            Telur amfibia tidak memiliki cangkang dan akan kehilangan air dengan cepat di udara kering. Fertilisasi terjadi secara eksternal pada sebagian besar spesies dengan jantan mendekap betina dan menumpahkan spermanya diatas telur-telur yang dikeluarkan betina. Amfibia umumnya bertelur di kolam, rawa, atau paling tidak di lingkungan yang lembap. Beberapa spesies bertelur sangat banyak di dalam kolam sementara, dan angka kematiannya sangat tinggi. Sebaliknya, beberapa spesies memperlihatkan berbagai macam pemeliharaan anak dan menelurkan telur dalam jumlah yang relative sedikit. Bergantung pada spesies, baik jantan atau betina bisa mengerami telur di punggungnya, dalam mulut, atau bahkan dalam perutnya. Katak pohon tropis tertentu menyimpan masa telurnya di dalam sarang lembap dan berbusa yang tahan terhadap kekeringan. Ada juga beberapa spesies ovovivivar dan vivivar yang menyimpan telur di dalam saluran reproduksi betina, dimana embrio dapat berkembang tanpa harus mengalami kekeringan.
Banyak amphibi memperlihatkan  perilaku sosial yang kompleks dan beraneka ragam, khususnya selama musim kawin. Katak umumnya merupakan makhluk yang diam, tetapi banyak spesies yang mengeluarkan suara-suara untuk memanggil pasangan kawin selama musim kawin. Jantan bisa bersuara keras untuk mempertahankan daerah kawin, atau untuk menarik betina. Pada beberapa spesies darat, migrasi ketempat kawin yang spesifik bisa melibatkan komunikasi suara, navigasi angkasa, atau sinyal kimia.    
Siklus hidup




DAFTAR PUSTAKA

Reece. Campbell. 2008. Biologi Edisi ke Delapan Jilid Dua. Jakarta : ERLANGGA
Http://gambar-anura/ac.id Diakses pada tanggal 24 Maret 2014
Http://gambar-ordo-urodela// Diakses pada tanggal 24 Maret 2014
Http://gambar-ordo-apoda// Diakses pada tanggal 24 Maret 2014


Rabu, 11 Juni 2014

Potensi Diri

Tugas Kelompok
POTENSI DIRI, MACAM-MACAM KECERDASAN
SERTA MINAT DAN BAKAT
( Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Pengembangan Kepribadian )
Di Susun Oleh :
Dwi Retno wati                         : 1211060215
Diki Eka Nur Yuliafip               : 1211060124
Edi Rahmanda                           : 1211060067
Ema Fitriani                               : 1211060059
Kelas/semester                           : Biologi A/IV
Dosen Pengampu                       : Drs. H. Alinis ilyas, M.Ag
IAIN.jpeg
 



                                                                                                                                   


PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat, sehingga aktivitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik kehidupan dialam dunia ini lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada dosen, serta teman-teman sekalian yang telah membantu bantuan berupa moril maupun materil, sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangaannya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian, yang kadang kala hanya menuruti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang bersifst membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makalah kami dilain waktu.
            Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah mudah-mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat baik untuk pribadi, teman-teman serta orang lain  yang ingin mengambil atau menyemurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul ini  POTENSI DIRI, MACAM-MACAM KECERDASAN SERTA MINAT DAN BAKAT  sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.                                              
Bandar Lmpung, 12 Juni 2014
           

Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL......................................................................................... i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
A.    Latar Belakang........................................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah.................................................................................... 2
C.     Tujuan Makalah....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 3
A.    Pengembangan Diri................................................................................. 3
B.     Potensi Diri.............................................................................................. 5
a.       Pengertian Potensi Diri ...................................................................... 5
b.      Macam- Macam Potensi Diri............................................................... 6
c.       Cara Mengembangkan Potensi Diri.................................................... 7
C.     Kecerdasan ............................................................................................. 8
a.       Pengertian Kecerdasan...................................................................... 8
b.      Teori Kecerdasan............................................................................... 8
c.       Kecerdasan Menurut Howard Gradner’s Theory.............................. 9
d.      Alat Ukur Kecerdasan....................................................................... 11
e.       Indikasi Kecerdasan.......................................................................... 12
D.    Minat dan Bakat ..................................................................................... 14
a.       Minat................................................................................................. 14
b.      Bakat ................................................................................................ 16
BAB III PENUTUP.......................................................................................... 19
A.    Kesimpulan.............................................................................................. 19
B.     Saran........................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Potensi, bakat, dan minat merupakan modal yang dimiliki setiap individu untuk dapat mencapai apa yang diinginkannya. Karena faktor itu pula seseirang menjadi dirinya sendiri. Potensi yang merupakan kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan menjadi kan manusia selalu ingin berkembang. Bakat yang merupakan merupakan suatu kemampuan lebih yang ada pada diri manusia akan membuat manusia tersebut menjadi apa yang diinginkan dengan melatih bakat tersebut. Adapun minat yang merupakan sesuatu yang benar-benar diinginkan oleh seseorang. Ketiga hal ini yang ada pada setiap individu yang merupakan pemberian atau bawaan dari lahirnya. Permasalahnnya sekarang adalah, apakah kita telah melakukan hal-hal yang menopang potensi, bakat, dan minat kita untuk berkembang atau belum.
Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis. Terdapat beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir.
Penulis dalam makalah ini akan menulis tentang pengembangan potensi, bakat, dan minat melalui pengembangan diri. Dalam makalah ini akan penulis cantumkan beberapa hal terkait pengembangan diri antara lain; landasan, pengertian, tujuan, ruang lingkup, dan bentuk-bentuk pelaksanaannya.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan letar belakang di atas, maka perlu adanya beberapa hal yang menjati titik tekan dalam pembahasan ini. Karena itu penulis menuliskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut.
1.      Apakah pengertian potensi diri?
2.      Apa saja Macam – macam kecerdasan menurut teori dari Howard Gardner ?
3.      Bagaimana pentingnya minat dan bakat dalam penentuan karier dimasa depan ?

C.    Tujuan Makalah
Meneyesuaikan rumusan masalah di atas, maka tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah.
1.       Untuk mendeskripsikan pengertian potensi  diri
2.        Untuk mengetahui landasan pengembangan diri.
3.       Untuk mengetahui macam- macam kecerdasan  
4.       Memahami pentingnya minat dan bakat dlam penentuan karier dimasa depan. 






BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengembangan Diri
Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar kegiatan mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah atau madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler. Di samping itu, untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan konseling ditujukan  guna pengembangan kreativitas dan karir. Untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik.[1]
Melihat pengertian di atas, menurut hemat penulis, pengembangan diri ini dimaksudkan untuk memposisikan individu sebagaimana yang dikehendaki individu tersebut dengan melihat bakat dan minat yang dimilikinya supaya menjadi pribadi yang sempurna. Di setiap sekolah yang memiliki visi dan misi tersendiri tentu akan mengarahkan peserta didiknya untuk mencapai apa yang menjadi impian sekolah tersebut. Hal ini tentu berbeda antara sekolah yang satu dengan lainnya, sehingga dalam perencaan dalam melakukan pengembangan diri pun akan berbeda.  Namun jika yang menjadi tujuan dari pengembangan diri ini adalah untuk mencapai apa yang dikehendaki oleh sekolah tersebut sepertinya kurang bijak, karena setiap peserta didik memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda.
Kegiatan pengembangan diri berupa palayanan konseling difasilitasi dan dilaksanakan oleh konselor, dan kegiatan ekstra kurikuler dapat dibina oleh konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler dapat mengembangakan kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.[2]
Dalah hal ini, orang tua juga diharapkan memperhatikan minat dan bakat anaknya sehingga tidak salah mengambil keputusan untuk anaknya. Pandangan yang bijak menurut penulis adalah dengan membiarkan anak memilih sendiri apa yang diinginkannya. Contohnya dalam memilih jurusan bagi calon mahasiswa baru, hendaknya ia dibebaskan untuk mengambil apa yang menjadi minat dan ketertarikannya. Sehingga nanti pengembangan diri dari anak tersebut menjadi lebih mudah dan matang.
Tujuan umum pengembangan diri adalah untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi, dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah atau madrasah.
Adapun tujuan khusus pengembangan diri adalah menunjang pendidikan peserta didik untuk mengembangkan beberapa hal, antara lain: (1) bakat, (2)  minat, (3)  kreativitas, (4) kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan, (5) kemampuan kehidupan keagamaan, (6) kemampuan sosial, (7) kemampuan belajar, (8) wawasan dan perencanaan karir, (9) kemampuan pemecahan masalah, dan (10)  kemandirian.[3]
Pada dasarnya tujuan dari pengembangan diri ini adalah satu yaitu menjadi manusia yang apa adanya. Apa adanya di sini adalah sebagai manusia yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Sehingga manusia itu tidak berbuat dholim kepada dirinya sendiri dan orang lain.




B.     Potensi diri
a.      Pengertian Potensi diri
Setiap individu memiliki potensi diri,dan tentu berbeda setiap apa yang dimiliki antara satu orang dengan oarang lain. Potensi diri dibedaan menjadi dua bentuk yaitu potensi fisik dan potensi mental atau psikis. Potensi fisik yang dimaksud dalam kesempatan kali ini adalah menyangkut dengan kesdaan dan kesehatan tubuh ,wajah, dan ketahanan tubuh,sedangkan potensi psikis berhubungan dengan IQ(Intelegensi Quotient),EQ ( Emotional Quotient), AQ ( Addversity quotient) dan SQ ( Spiritual Quotient ).[4]
Potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang baik fisik maupun mental yang dimiliki seseorang dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik,sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri proses fisik, prilaku dan psikologis yang dimiliki.[5]
Kekhasan potensi diri yang dimiliki oleh seseorang berpengaruh besar pada pembentukan pemahaman diri dan konsep diri. Ini juga terkait erat dengan prestasi yang hendak diraih didalam hidupnya kelak. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki dalam konstek potensi diri adalah jika terolah dengan baik akan memperkembangkan baik secara fisik maaupun mental. Aspek diri yang dimiliki seseorang yang patut untuk diperkembangkan antara lain:
a.   Diri fisik :meliputi tubuh dan anggotanya besrta prosesnya.
b.   Proses diri: merupakan alur atau arus pikiran,emosi dan tingkah laku yang konstan.
c.    Diri sosial : adalah bentuk fikiran dan perilaku yang diadopsi saat merespon orang lain dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang utuh.
d.   Konsep diri: adalah gambaran mental atau keseluruhan pandangan seseorang tentang dirinya.
Potensi pada diri manusia merupakan salah satu pembeda antara individu yang satu dengan lainnya. Adapun potensi tersebut dapat diklasifikasikan sebagai: 1) kemampuan dasar, seperti tingkat intelegensia, logika, kemampuan abstraksi dan daya tangkap; 2) sikap kerja, seperti ketekunan, ketelitian, tempo kerja dan daya tahan terhadap stres; 3) kepribadian, yaitu pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmaniah, mental, rohani, emosional maupun sosial, yang semuanya telah ditata dalam cara khas dibawah aneka pengaruh dari luar. Beberapa contoh potensi diri manusia tersebut antara lain kejujuran, keimanan, kesetiaan, kerapian, ketegasan, kematangan, kedewasaan, kecerdikan, kebijakan, keramahtamahan dan sebagainya.[6]

b.       Macam-macam potensi diri
Secara umum, manusia memiliki potensi diri yang dapat dibedakan menjadi 5 macam, yaitu:

1.         Potensi Fisik (Phychomotoric)
Potensi diri ini dapat diberdayakan sesuai fungsinya untuk saling membagi kepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Contohnya hidung untuk mencium bau, tangan untuk menulis, kaki untuk berjalan, telinga untuk mendengar, dan mata untuk melihat.
2.         Potensi Mental Intelektual (Intellectual Quotient)
Potensi diri ini adalah potensi kecerdasan yang terdapat di otak manusia (terutama otak bagian kiri). Fungsi dari potensi ini yaitu untuk merencanakan sesuatu, menghitung dan menganalisis.
3.         Potensi Sosial Emosional (Emotional Quotient)
Potensi diri ini sama dengan potensi mental intelektual, tetapi potensi ini terdapat di otak manusia bagian kanan. Fungsinya yaitu untuk bertanggung jawab, mengendalikan amarah, motivasi, dan kesadaran diri.
4.        Potensi Mental Spiritual (Spiritual Quotient)
          
Potensi ini merupakan potensi kecerdasan yang berasal dari dalam diri manusia yang berhubungan dengan kesadaran jiwa, bukan hanya untuk mengetahui norma, tapi untuk menemukan norma. 
5.         Potensi Daya Juang (Adversity Quetient)
Sama seperti potensi mental spiritual, potensi daya juang juga berasal dari dalam diri manusia dan berhubungan dengan keuletan, ketangguhan, dan daya juang yang tinggi.[7]

c.       Cara-cara mengembangkan potensi diri

Jika berbicara tentang potensi diri, maka harus kembali pada masing-masing individu. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari kekurangan pada masing-masing individu tersebut perlu dikembangkan potensi yang ada dalam diri untuk menutupi kekurangan tersebut.[8]
Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengembangkan potensi diri adalah sebagai berikut.
1.      Setiap kegiatan harus diawali dengan niat
2.      Harus selalu berfikir positif dalam setiap hal
3.      Harus memiliki komintmen
4.      Jangan mengganggap remeh orang lain
5.      Mencerna selaga saran, kritik & masukan yang bersifat membangun dari orang lain
6.      Konsisten terhadap apa yang kita lakukan
7.   Yakin lah bahwa kita pasti bisa[9]




C.    Kecerdasan
a.       Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis. Terdapat beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir.[10]

b.      Teori Kecerdasan
                                                                             
Menurut Alfred Binet (1857-1911) kecerdasan intelektual adalah kecerdasan dilihat hanya dari sisi kekuatan verbal dan logika seseorang yang menganut konsep eugenic yaitu berdasarkan faktor keturunan dan akhirnya cenderung dapat dinilai dengan angka konstan.
Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai, “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”[11]
Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya, melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
Stephen R. Covey adalah pusat paling mendasar di antara kecerdasan yang lain, karena dia menjadi sumber bimbingan bagi kecerdasan lainnya.
Zohar dan Marshal mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dari pada yang lain.

c.       Kecerdasan menurut Howard Gradner’s Theory
9        Macam Kecerdasan Menurut Howard Gardner
1.      Kecerdasan linguistik (Linguistic intelligence)
Kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata – kata secara efektif baik secara oral maupun secara tertulis contohnya pencipta puisi, editor, jurnalis, dramawan, sastrawan, orator Tokoh terkenal seperti : Sukarno, Paus Yohanes Paulus II, Winston Churhill.
                                                                                                                       
2.      Kecerdasan matematis-logis (Logical – mthematical intelligence)
Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika . Jalan pikiran bernalar dengan mudah mengembangkan pola sebab akibat .
contohnya matematikus, programer, logikus.Tokoh terkenal seperti : Einstein (ahli fisika), Habibie (ahli pesawat)

3.      Kecerdasan ruang(Spatial intelligence)
Kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta mempunyai daya imaginasi secara tepat.
contohnya pemburu, arsitek, dekorator. Tokoh terkenal seperti Sidharta (pemahat), Pablo Pacasso (pelukis)
4.      Kecerdasan kinestetic-badani (bodily- kinesthetic intelligence)
Kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan .
contohnya aktor, atlet, penari ahli bedah. Tokoh terkenal seperti : Charlie Chaplin (pemain pantonim yang ulung), Steven Seagal (actor)

5.      Kecerdasan musikal (Musical intelligence)
Kemampuan untuk mengembangkan , mengekspresikan dan menikmati bentuk – bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi, dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik.
contohnya komponis .Tokoh terkenal seperti Beethoven, Mozart.

6.      Kecerdasan interpersonal (Interpersonal intelligence)
Kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan , intensi, motivasi, watak, temperamen orang lain.
Kemampuan yang menonjol dalam berelasi dan berkomunikasi  dengan berbagai orang.
contohnya komunikator, fasilitator. Tokoh terkenal Mahatma Gandhi (tokoh perdamaian India), Ibu Teresa (Pejuang kaum miskin)

7.      Kecerdasan intrapersonal (Intrapersonal intelligence)
Kemampuan berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi dan keseimbangan diri, kesadaran tinggi akan gagasan – gagasan . Mereka mudah berkonsentrasi  dengan baik, suka bekerja sendiri dan cenderung pendiam
contohnya para pendoa batin.

8.      Kecerdasan lingkungan/aturalis (Naturalist intlligence)
Kemampuan untuk mengerti flora dan fauna dengan baik, menikmati alam, mengenal tanaman dan binatang dengan baik.
Tokoh terkenal Charles Darwin

9.      Kecerdasan eksistensial (Exixtential  intlligence)
Kemampuan menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan – persoalan terdalam keberadaan atau eksistensi manusia.
contohnya persoalan mengapa ada, apa makna hidup ini. Tokoh terkenal seperti Plato, Sokrates, Thomas Aquina.[12]

Menurut Wechler ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan adalah Biologis, Lingkungan, Budaya, Bahasa dan Masalah etika. Berdasarkan teori yang dicetuskan oleh Alferd Binet faktor keturunan juga sangat mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang. [13]

d.      Alat Ukur Kecerdasan
Pengukuran taraf kecerdasan Salah satu uji kecerdasan yang diterima luas ialah berdasarkan pada uji psikometrik atau IQ. Pengukuran kecerdasan dilakukan dengan menggunakan tes tertulis atau tes tampilan (performance test) atau saat ini berkembang pengukuran dengan alat bantu komputer. Alat uji kecerdasan yang biasa di pergunakan adalah :
·         Stanford-Binnet intelligence scale
·         Wechsler scales yang terbagi menjadi beberapa turunan alat uji seperti :
WB (untuk dewasa)
WAIS (untuk dewasa versi lebih baru)
WISC (untuk anak usia sekolah)
WPPSI (untuk anak pra sekolah)
·         IST
·         TIKI (alat uji kecerdasan Khas Indonesia)
·         FRT
·          PM-60, PM Advance. [14]


e.       Indikasi kecerdasan kenabian
1.      Adversity Intelligence
Kemampuan yang terpadu antara jiwa dan fisik (psikomotorik). Dengan kecerdasan ini seseorang akan terhindar dari sikap berputus asa, pengecut, mudah menyerah, tidak bisa menerima apa adanya, takut miskin, malas, berburuk sangka.
2.      Kecerdasan Intelektual
Menurut Alfred Binet (1857-1911) kecerdasan intelektual adalah kecerdasan dilihat hanya dari sisi kekuatan verbal dan logika seseorang yang Menganut konsep eugenic artinya pengendalian sistematis dari keturunan dan akhirnya cenderung dapat dinilai dengan angka konstan.
3.      Kecerdasan Emosional
Beberapa tokoh mengemukakan tentang teori kecerdasan emosional antara lain, Mayer & Salovey dan Daniel Goleman. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai, “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.
4.      Kecerdasan Spiritual
Sementara itu, kecerdasan spiritual menurut Stephen R. Covey adalah pusat paling mendasar di antara kecerdasan yang lain, karena dia menjadi sumber bimbingan bagi kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas (Tuhan).
5.      Kecerdasan Linguistik : Word Smart
Adalah kecerdasan menggunakan kata-kata secara efektif. Kecerdasan ini sangat berguna bagi para penulis, aktor, pelawak, selebriti, radio dan para pembicara hebat. Kecerdasan juga membantu kesuksesan kariernya di bidang pemasaran dan politik.
6.      Kecerdasan Logis- Matematis : Number Smart
Kecerdasan yang satu ini adalah ketrampilan mengolah angka dan kemahiran menggunakan logika dan akal sehat. Ini adalah kecerdasan yang digunakan ilmuwan untuk membuat hipotesa dan dengan tekun mengujinya dengan eksperimen. Ini juga kecerdasan yang digunakan oleh Akuntan pajak, pemrogaman komputer dan ahli matematika.
7.      Kecerdasan Spasial : Picture Smart
Ini adalah kecerdasan gambar dan bervisualisasi. Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk menvisualisasikan gambar di dalam kepala seseorang atau menciptakannya dalam bentuk 2 atau 3 dimensi. Seniman atau pemahat serta pelukis memiliki kecerdasan ini dalam tingkat tinggi.
8.      Kecerdasan Kinestetik- Jasmani : Body Smart
Kecerdasan jasmani adalah kecerdasan seluruh tubuh (atlet, penari, seniman, pantomim aktor) dan juga kecerdasan tangan (montir, penjahit, tukang kay, ahli bedah)
9.      Kecerdasan Musikal: Music Smart
Kecerdasan musical melibatkan kemampuan menyanyikan sebuah lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan irama atau sekedar menikmati musik. Dalam bentuknya yang lebih canggih, kecerdasan ini mencakup para diva dan virtuoso piano di dunia seni dan budaya.
10.  Kecerdasan Antar Pribadi: People Smart
Kecedasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami dan bekerj untuk orang lain. Kecerdasan ini melibatkan banyak hal, mulai dari kemampuan berempati, kemampuan memimpin, dan kemampuan mengorganisir orang lain.
11.  Kecerdasan Intra Pribadi: Self Smart
Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami diri sendiri, kecerdasan untuk mengetahui siapa sebenarnya diri kita sendiri. Kecerdasan ini sangat penting bagi para wira usahawan dan individu lain yang harus memiliki persyaratan disiplin diri, keyakinan, dan pengetahuan diri untuk mengetahui bidang atau bisnis baru.
12.   Kecerdasan Naturalis: Nature Smart
Kecerdasan naturalis melibatkan kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk alam di sekitar kita: Bunga, burung, pohon, hewan serta flora dan fauna lainny. Kecerdasan ini dibutuhkan di banyak profesi seperti ahli biologi, penjaga hutan, dokter, hewan dan holtikulturalis. [15]


D.    Minat dan bakat
a.      Minat

Minat mempunyai peranan penting bila dikaitkan dalam lembaga dan kurikulum pembelajarannya, karena minat mempunyai kecenderungan pada siswa untuk aktif dan respon terhadap sasarannya. Apabila sebuah kurikulum pembelajaran sekolah sudah tidak diminati, maka siswa akan cenderung pasif  dan tidak memperdulikan segala usaha yang telah dilakukan oleh sekolah tersebut, sebalikanya jika kurikulum yang dilaksanakan diminati oleh siswa, maka siswa akan cenderung melakukan kegiatan yang berguna dan berjalan sesuai apa yang diharapkan oleh sekolah.
Minat secara bahasa diartikan dengan kesukaan, kecenderungan hati terhadap suatu keinginan. Sedangkan arti minat menurut istilah diartikan oleh sebagian tokoh sebagai berikut : Menurut Slamito, minat adalah  suatu perasaan cenderung lebih cenderung atau suka kepada sesuatu hak atau aktifitas tanpa ada yang menyuruh.[16] Menurut Mahfud Shalahuddin, mengemukakan minat secara sederhana, minat adalah perhatian yang mengandung unsur- unsur perasaan. Andi Mappiare berpendapat bahwa, minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka takut atau kecenderungan- kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.[17]
Dari pemaparan mengenai definisi-definisi minat diatas dapat disimpulkan bahwa, minat adalah gejala psikis yang muncul dalam diri seseorang dan direalisasikan dengan perasaan senang dan menimbulkan perhatian yang khusus terhadap sasaran, sehingga seseorang cenderung berupaya untuk mencapai sasaran tersebut. Jadi untuk melihat reaksi dari gejala psikis tersebut dapat  di pastikan dari sikap, prilaku, atau motivasi yang dimiliki oleh seseorang dalam beraktifitas.
Minat mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik, karena itu guru berkewajiban untuk menumbuhkan minat belajar siswanya. Yang dapat dilakukan guru adalah sebagai berikut:
1.      Memahami kebutuhan anak didik dan berupaya melayani kebutuhan mereka.
2.      Jangan memaksa anak didik untuk tunduk pada kemauan guru
3.      Memberikan informasi pada anak didik mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu.
4.      Menjelaskan kegunaan materi pelajaran untuk masa yang akan datang.
5.      Menghubungkan materi pelajaran dengan peristiwa yang kontektual. [18]

Minat yang muncul dalam pikologis siswa merupakan sebuah gejala, sehingga munculnya minat tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor yang menjadi penyebabnya. Faktor tersebut diantaraya; (a). Faktor Individu dan (b). Faktor Sosial.
1.        Faktor individu 
Merupakan pengaruh yang muncul dalam diri siswa secara alami, misalnya diakibatkan karena ; kematangan, kecerdasan, latihan, motivasi dan sifat pribadi. Setiap individu mempunyai tingkat kematangan serta kecerdasan yang berbeda sehingga minat yang muncul juga tidak sama antara individu satu dengan yang lain. Misalnya, seseorang yang mempunyai kecerdasan dibidang mata pelajaran ekonomi maka akan cenderung melakukan aktifitas dibidang kerja atau koperasi. Sebaliknya sesorang yang mempunyai kecerdasan dibidang perikanan maka akan cenderung melakukan aktivitas di sawah/tambak.
2.        Faktor sosial  
Merupakan pengaruh yang muncul diluar individu, misalnya diakibatkan karena kondisi keluarga, lingkungan, pendidikan dan motivasi sosial. Minat yang dipengaruhi oleh faktor sosial misalnya; ketika siswa hidup dalam masyarakat yang kesehariannya bersentuhan dengan padi (mayoritar petani padi), maka siswa cenderung ingin tahu dan mengenal kegiatan tersebut karena merasa menjadi bagian darinya, sebaliknya jika kesehariannya bersentuhan dengan ikan (mayoritar pekerja tambak), maka siswa cenderung ingin tahu dan mengenal lebih dalam mengenai perikanan.[19]
Jadi, Peran minat sangat besar jika dikaitkan dalam pelaksanaan pembelajaran, karena dengan adanya minat siswa untuk belajar, proses pembelajaran akan dapat efektif. Jika murid telah berminat dalam kegiatan belajar mengajar, maka hampir dapat dipastikan proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik dan hasil belajar juga optimal.
b.      Bakat
Bakat atau aptitude merupakan kecakapan potensial yang bersifat khusus, yaitu khusus dalam sesuatu bidang atau kemampuan tertentu. Seseorang lebih berbakat dalam bidang bahasa sedang yang lain dalam matematika, yang lain lagi lebih menunjukkan bakatnya dalam sejarah, dan sebagainya.[20]
Banyak para ahli mengemukakan tentang definisi bakat. Diantaranya adalah menurut W. B Michael bakat merupakan suatu kapasitas atau potensi yang belum dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar, bakat berkenaan dengan kemungkinan menguasai sesuatu pola tingkah laku dalam aspek kehidupan tertentu.
Guillford memberikan definisi sedikit berbeda, menurutnya bakat banyak sekali, sebanyak perbuatan atau aktivitas individu. Ada tiga komponen dari bakat menurut Guillford, yaitu komponen: Intelektual, perseptual dan psikomotor. Komponen intelektual terdiri atas beberapa aspek, yaitu aspek pengenalan, ingatan, dan evaluasi. Komponen perseptual juga meliputi beberapa aspek, yaitu pemusatan perhatian, ketajaman indra, orientasi ruang dan waktu, keluasan dan dan kecepatan mempersepsi. Komponen psikomotor terdiri atas aspek-aspek rangsangan, kekuatan dan kecepatan gerak, ketepatan, koordinasi gerak dan kelenturan.[21]
Bakat dapat diartikan sebagi kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang.[22]
Bakat memungkinkan seseorang mencapai prestasi tertentu dalam bidang tertentu. Akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman dan dorongan atau motivasi agar dapat tersebut dapat terwujud. Misalnya seseorang memiliki bakat menggambar, jika ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengembangkan, maka bakat tersebut tidak akan tampak. Jika orang tuanya menyadari bahwa ia mempunyai bakat menggambar dan mengusahakan agar ia dapat pengalaman yang sebaik-baiknya untuk mengembangkan bakatnya, dan anak itu juga menunjukkan minat yang besar untuk mengikuti pendidikan menggambar, maka ia akan dapat mencapai prestasi unggul untuk bidang tersebut.[23]
Dalam kehidupan di sekolah sering tampak bahwa seseorang yang bakat dalam olah raga, umumnya prestasi mata pelajarannya juga baik, tetapi sebaliknya dapat terjadi prestasi semua mata pelajarannya tidak baik. Keunggulan dalam salah satu bidang apakah bidang sastra, seni atau matematika, merupakan hasil interaksi dari bakat yang dibawa sejak lahir dan faktor lingkungan yang menunjang, termasuk minat dan motivasi.
Adapun sebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat pada anak terletak pada anak itu sendiri dan lingkungan.
1)      anak itu sendiri. Misalnya anak tersebut tidak atau kurang berminat untuk mengembangakn bakat-bakat yang ia miliki, atau kurang termotivasi untuk mencapai prestasi yang tinggi, atau mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia mengalami hambatan dalam pengembangan diri dan berprestasi sesuai dengan bakatnya.
2)      Lingkungana anak. Misalnya orang tua si anak kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan, atau ekonominya cukup tinggi tetapi kurang memberi perhatian terhadap pendidikan anak.[24]
Pada dasarnya setiap orang memiliki bakat-bakat tertentu. Dua anak bisa sama-sama mempunyai bakat melukis, tetapi yang satu lebih menonjol daripada yang lain bahkan saudara sekandung dalam satu keluarga bisa memiliki bakat yang berbeda-beda. Anak yang satu berbakat untuk bekerja dengan angka-angka, anak yang lain dalam bidang olah raga, serta yang lainnya lagi berbakat menulis (mengarang).



BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar kegiatan mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah atau madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler.
Potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang baik fisik maupun mental yang dimiliki seseorang dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik,sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri proses fisik, prilaku dan psikologis yang dimiliki.
Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu.
Minat secara bahasa diartikan dengan kesukaan, kecenderungan hati terhadap suatu keinginan. Bakat atau aptitude merupakan kecakapan potensial yang bersifat khusus, yaitu khusus dalam sesuatu bidang atau kemampuan tertentu. Seseorang lebih berbakat dalam bidang bahasa sedang yang lain dalam matematika, yang lain lagi lebih menunjukkan bakatnya dalam sejarah, dan sebagainya.



B.     Saran

Saran dan kritik dari pembaca sungguh penulis harapkan dalam pembahasan ini. Penulis menyadari kekurangan penulis sehingga makalah ini masih jauh dari sempurna. Sejauh kejian penulis, dalam pembahasan ini, penulis belum menemukan cara-cara yang dapat digunakan untuk mengembangkan diri dari pandangan Islam. Oleh karena itu, inilah tugas para pembaca sebagai ilmuan untuk mencari dan merumuskan hal tersebut. Akhirnya semoga kemanfaatan diberikan untuk kita semua dari tulisan yang singkat ini. Amin.























DAFTAR PUSTAKA


Atkinso, Rita L. 1999. Pengantar Psikologi . Jakarta : Interaksara

Hartono, Ny. B. Agung dan Sunarto. Perkembangan Peserta Didik. 2006. Jakarta: Rineka Cipta

Hutagalung, Inge. 2007 . PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN; Tinjuan Praktis Menuju Pribadi Positif. Jakarta : PT. Macanan Jaya Cemerlang

Mujib, Abdul. 2005. Kepribadian dalam Psikologi Islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada

Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. 2005. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sunarto dan B. Agung Hartono. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Rineka Cipta

Suryabrata ,Sumadi. 1982. Psikologi Kepribadian. Jakarta : PT RajaGrafindo  Persada

Tim Pustaka Yustisia. 2007. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta: Pustaka Yustisia

Zalyana. Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab. 2010. Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press.

 



[1].Tim Pustaka Yustisia, Panduan Lengkap KTSP, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2007), hal. 207
[2] . Tim Pustaka Yustisia, Panduan Lengkap KTSP, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2007), hal. 207
[3] Ibid , hal. 207
[4]. Hutaglung,  PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN ; Tinjauan praktis menuju pribadi yang positif.  (Jakarta :PT. Macanan Gaya Cemerlang, 2007) hlm. 145
[5]. Ibid, hlm 145
[6] Ibid. hlm 145
[7] Suryabrata, sumadi. Psikologi Kepribadian. ( Jakarta : PT. RajaGrafindo. 1982 ) hlm. 133
[8]. Ibid . 135
[9] Mujib, Abdul. Kepribadian dalam Psikologi Islam ( Jakarta : PT RajaGrafindo . 2005 ) hlm. 187
[10] Ibid. 188
[11] Ibid. hlm 189
[12] Ibid. 189
[13] Ibid 190
[14] Atkinso, Rita L. Pengantar Psikologi ( Jakarta : Interaksara . 1999 ) hlm 173
[15] Ibid 175
[16]. Zalyana, Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab (Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press, 2010) hlm. 196
[17]. Shaleh, Abdul Rahman. Psikologi. (Jakarta: Kencana. 2008. ) hlm 195
[18] . ibid, hlm 197
[19]Zalyana, Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab (Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press, 2010) hlm. 197
[20] . Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005) hlm. 101
[21] .Ibid, hlm. 101
[22]Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006) hlm. 120
[23] Ibid, hlm .121
[24] . Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006) hlm. 122

FISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah fisiologi hewan)

EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS ( Pterophyllum scalare ) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna m...