Rabu, 25 Juni 2014

Amphibia (taksonomi vertebrata)

AMPHIBI
(ORDO URODELA, ANURA, dan APODA)

DOSEN:
GRESS MARETTA,M.Si

KELOMPOK 3

DWI RETNO WATI                        (1211060215)
NINING FAUZIATUZ ZAHRA     (1211060072)
NOVIA USWATUNKHASANAH (1211060018)
SITI  NURUL AMANAH               (1211060002)
SLAMET HARIYANTO                 (1211060095)
 








FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN)
RADEN INTAN LAMPUNG
2014


Amphibian adalah kelas tetrapoda yang paling tua.
            Vertebrata di darat pertama adalah anggota kelas amphibian pertama. Saat ini kelas tersebut diwakili oleh kurang lebih 4000 spesies katak, salamander, dan caecilian (mahkluk tak bertungkai yang membuat lubang untuk sarang di hutan tropis dan danau air tawar).
Amphibi Awal
Seperti sekarang, beberapa bagian dunia saat masa Devon juga mengalami siklus pergantian musim kemarau, yang diikuti dengan curah hujan yang lebat dan kemudian musim kemarau lagi, dan seterusnya. Pada daerah seperti itu, beberapa ikan bersirip lobus yang memiliki paru-paru mungkin telah berkembangbiak. Struktur kerangka siripnya menunjukkan bahwa anggota badan yang berpasangan ini mungkin membantu pergerakan hewan tersebut di darat. Beberapa fosil ikan bersirip lobus, termasuk hewan rhipidistian yang bernama Eusthenopteron, menunjukkan banyak kemiripan anatomis lainnya dengan amphibi yang paling awal. Suatu hipotesis lama berlaku yang menyatakan bahwa ikan bersirip lobus dari masa Devon sangat dekat hubungannya dengan leluhur tetrapoda. Namun demikian, beberapa bukti molekuler menyarankan bahwa lungfish secara filogenetik lebih dekat dengan amfibia dibandingkan dengan ikan bersirip lobus.
Fosil amfibia tertua di simpulkan berasal dari akhir masa Devon, sekita 365 juta tahun silam. Kemungkinan sebagian besar hewan-hewan amphibian pertama merupakan hewan akuatik yang kadang-kadang mengembara ke darat untuk menghindari ikan karnivora atau mengeksploitasi makanan yang berlimpah (serangga dan invertebrate lain), yang mendahului amfibi hidup di darat. Radiasi adaptive tetrapoda paling awal menghasilkan suatu keanekaragaman bentuk-bentuk baru. Banyak amfibia masa Karboniferus sangat menyerupai reptilian. Beberapa diantaranya mencapai 4 m. karena amfibia merupakan satu-satunya vertebrata di darat pada akhir masa Devon dan awal masa Karboniferus, era amfibia merupakan nama yang tepat untuk masa Karboniferus. Jumlah amfibia mulai menyusut menjelang akhir masa karboniferus. Setelah zaman Mesozoikum dimulai dara masa Trias, sekitar 245 juta tahun silam, sebagian besar hewan yang selamat dari garis keturunan amfibia menyerupai spesies modern.
Amfibia Modern
Terdapat tiga ordo kelas Amphibia yang masih hidup saat ini : Urodela (“berekor” - salamander ) ; Anura (“tidak berekor” - katak, termasuk bangkong) ; dan Apoda (“tak berkaki” – caecilian).
            Hanya ada sekitar 400 spesies dari ordo Urodela. Beberapa diantaranya hanya hidup di air, tetapi yang lain hidup di darat sebagai hewan dewasa atau bahkan sepanjang masa kehidupan. Sebagian besar salamander yang hidup didarat berjalan dengan pembengkoan badan dari sisi kesisi yang mirip dengan cara berjalan tetrapoda awal. 
Ordo Urodela
            Anura, yang beranggotakan hamper 3500 spesies, lebih terspealisasi dibandingkan dibandingkan dengan Urodela untuk pergerakan di darat. Katak dewasa menggunakan kaki belakangnya yang kuat itu untuk melompat di tanah. Seekor katak menangkap lalat dengan cara menjulurkan lidah panjangnya yang lengket, yang bertaut kebagian depan mulut. Katak memperlihatkan beranekaragam adaptasiyang membantu mereka untuk menghindari serangan pemangsa yang lebih besar. Sama dengan amfibia lain, banyak katak memperlihatkan pola warna yang menyamarkan. Kelenjar kulit katak menghasilkan mucus, yang tidak enak, bahkan beracun. Banyak spesies beracun memiliki pola warna itu dengan bahaya.
Ordo Anura
            Apoda, disebut juga caecilian (sekitar 150 spesies), tidak bertungkai dan hamper buta, dan sangat menyerupai cacing tanah. Caecilian hidup di daerah tropis yang dimana sebagian besar spesies ini bersarang dalam lubang di dalam tanah hutan yang lembap;beberapa anggota ordo Apoda di Amerika Selatan hidup dalam kolam dan aliran air tawar.
Ordo Apoda
            Amphibian berati “dua kehidupan” , yang mengacu kepada metamorfosis banyak jenis katak. Kecebong, yang merupakan tahapan larva dari seekor katak, umumnya adalah herbivore akuatik dengan insang, system gurat sisi yang mirip dengan ikan, dan ekor panjang bersirip. Kecebong tidak memiliki kaki dan berenang dengan cara menggeliat seperti leluhurnya yang mirip ikan. Selama metamorfosis yang berakhir denga “kehidupan kedua”, kaki berkembang, dan system gurat sisi menghilang. Tetrapoda muda dengan paru-paru untuk bernapas, sepasang gendang telinga eksternal, dan system pencernaan yang diadaptasikan untuk mengkonsumsi makanan sebagai hewan karnivora, merangkak ketepian dan memulai kehidupan di darat. Namun demikian, meskipun menyandang nama amfibia, banyak jenis katak tidak melalui tahapan kecebong akuatik, dan banyak amfibia tidak hidup di dua kehidupan akuatik dan terrestrial. Beberapa katak, salamander, dan caecilian ada yang hanya hidup di air dan ada yang hanya hidup di darat. Selain itu, larva salamander dan caecilian sangat menyerupai bentuk hewan dewasa, dan baik larva maupun hewan dewasa itu adalah hewan karnivora. Paedogenesis sangat umum terjadi pada beberapa kelompok salamander; mudpuppy (Necturus), misalnya, mempertahankan insang dan ciri larva lainnya ketika mencapai kematangan seksual.
            Sebagian besar amfibia tetap hidup di dekat air, dan paling belimpah adalah di habitat yang lembab seperti rawa dan hutan hujan tropis. Bahkan katak yang beradaptasi dengan habitat yang lebih kering menghabiskan banyak waktunya didalam lubang sarang atau dibawah daun yang lembap, dimana kelembapan sangat tinggi. Sebagian besar amfibia sangat bergantung pada kulitnya yang lembap untuk melakukan pertukaran gas dengan lingkungannya. Beberapa spesies darat tidak memiliki paru-paru dan bernapas hanya dengan melalui kulit dan rongga mulutnya.
            Telur amfibia tidak memiliki cangkang dan akan kehilangan air dengan cepat di udara kering. Fertilisasi terjadi secara eksternal pada sebagian besar spesies dengan jantan mendekap betina dan menumpahkan spermanya diatas telur-telur yang dikeluarkan betina. Amfibia umumnya bertelur di kolam, rawa, atau paling tidak di lingkungan yang lembap. Beberapa spesies bertelur sangat banyak di dalam kolam sementara, dan angka kematiannya sangat tinggi. Sebaliknya, beberapa spesies memperlihatkan berbagai macam pemeliharaan anak dan menelurkan telur dalam jumlah yang relative sedikit. Bergantung pada spesies, baik jantan atau betina bisa mengerami telur di punggungnya, dalam mulut, atau bahkan dalam perutnya. Katak pohon tropis tertentu menyimpan masa telurnya di dalam sarang lembap dan berbusa yang tahan terhadap kekeringan. Ada juga beberapa spesies ovovivivar dan vivivar yang menyimpan telur di dalam saluran reproduksi betina, dimana embrio dapat berkembang tanpa harus mengalami kekeringan.
Banyak amphibi memperlihatkan  perilaku sosial yang kompleks dan beraneka ragam, khususnya selama musim kawin. Katak umumnya merupakan makhluk yang diam, tetapi banyak spesies yang mengeluarkan suara-suara untuk memanggil pasangan kawin selama musim kawin. Jantan bisa bersuara keras untuk mempertahankan daerah kawin, atau untuk menarik betina. Pada beberapa spesies darat, migrasi ketempat kawin yang spesifik bisa melibatkan komunikasi suara, navigasi angkasa, atau sinyal kimia.    
Siklus hidup




DAFTAR PUSTAKA

Reece. Campbell. 2008. Biologi Edisi ke Delapan Jilid Dua. Jakarta : ERLANGGA
Http://gambar-anura/ac.id Diakses pada tanggal 24 Maret 2014
Http://gambar-ordo-urodela// Diakses pada tanggal 24 Maret 2014
Http://gambar-ordo-apoda// Diakses pada tanggal 24 Maret 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah fisiologi hewan)

EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS ( Pterophyllum scalare ) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA (Disusun guna m...