AMPHIBI
(ORDO URODELA,
ANURA, dan APODA)
DOSEN:
GRESS
MARETTA,M.Si
KELOMPOK 3
DWI RETNO WATI (1211060215)
NINING FAUZIATUZ ZAHRA (1211060072)
NOVIA USWATUNKHASANAH (1211060018)
SITI NURUL AMANAH (1211060002)
SLAMET HARIYANTO (1211060095)
FAKULTAS
TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN)
RADEN
INTAN LAMPUNG
2014
Amphibian adalah kelas tetrapoda
yang paling tua.
Vertebrata
di darat pertama adalah anggota kelas amphibian pertama. Saat ini kelas
tersebut diwakili oleh kurang lebih 4000 spesies katak, salamander, dan
caecilian (mahkluk tak bertungkai yang membuat lubang untuk sarang di hutan
tropis dan danau air tawar).
Amphibi Awal
Seperti
sekarang, beberapa bagian dunia saat masa Devon juga mengalami siklus
pergantian musim kemarau, yang diikuti dengan curah hujan yang lebat dan
kemudian musim kemarau lagi, dan seterusnya. Pada daerah seperti itu, beberapa
ikan bersirip lobus yang memiliki paru-paru mungkin telah berkembangbiak.
Struktur kerangka siripnya menunjukkan bahwa anggota badan yang berpasangan ini
mungkin membantu pergerakan hewan tersebut di darat. Beberapa fosil ikan
bersirip lobus, termasuk hewan rhipidistian yang bernama Eusthenopteron, menunjukkan banyak kemiripan
anatomis lainnya dengan amphibi yang paling awal. Suatu hipotesis lama berlaku
yang menyatakan bahwa ikan bersirip lobus dari masa Devon sangat dekat
hubungannya dengan leluhur tetrapoda. Namun demikian, beberapa bukti molekuler
menyarankan bahwa lungfish secara
filogenetik lebih dekat dengan amfibia dibandingkan dengan ikan bersirip lobus.
Fosil amfibia
tertua di simpulkan berasal dari akhir masa Devon, sekita 365 juta tahun silam.
Kemungkinan sebagian besar hewan-hewan amphibian pertama merupakan hewan
akuatik yang kadang-kadang mengembara ke darat untuk menghindari ikan karnivora
atau mengeksploitasi makanan yang berlimpah (serangga dan invertebrate lain),
yang mendahului amfibi hidup di darat. Radiasi adaptive tetrapoda paling awal menghasilkan
suatu keanekaragaman bentuk-bentuk baru. Banyak amfibia masa Karboniferus
sangat menyerupai reptilian. Beberapa diantaranya mencapai 4 m. karena amfibia
merupakan satu-satunya vertebrata di darat pada akhir masa Devon dan awal masa
Karboniferus, era amfibia merupakan nama yang tepat untuk masa Karboniferus.
Jumlah amfibia mulai menyusut menjelang akhir masa karboniferus. Setelah zaman
Mesozoikum dimulai dara masa Trias, sekitar 245 juta tahun silam, sebagian
besar hewan yang selamat dari garis keturunan amfibia menyerupai spesies
modern.
Amfibia Modern
Terdapat tiga ordo kelas Amphibia
yang masih hidup saat ini : Urodela (“berekor” - salamander ) ; Anura (“tidak
berekor” - katak, termasuk bangkong) ; dan Apoda (“tak berkaki” – caecilian).
Hanya
ada sekitar 400 spesies dari ordo Urodela. Beberapa diantaranya hanya hidup di air, tetapi
yang lain hidup di darat sebagai hewan dewasa atau bahkan sepanjang masa
kehidupan. Sebagian besar salamander yang hidup didarat berjalan dengan
pembengkoan badan dari sisi kesisi yang mirip dengan cara berjalan tetrapoda awal.
Ordo Urodela
Anura,
yang beranggotakan hamper 3500 spesies, lebih terspealisasi dibandingkan
dibandingkan dengan Urodela untuk pergerakan di darat. Katak dewasa menggunakan
kaki belakangnya yang kuat itu untuk melompat di tanah. Seekor katak menangkap lalat
dengan cara menjulurkan lidah panjangnya yang lengket, yang bertaut kebagian
depan mulut. Katak memperlihatkan beranekaragam adaptasiyang membantu mereka
untuk menghindari serangan pemangsa yang lebih besar. Sama dengan amfibia lain,
banyak katak memperlihatkan pola warna yang menyamarkan. Kelenjar kulit katak
menghasilkan mucus, yang tidak enak, bahkan beracun. Banyak spesies beracun
memiliki pola warna itu dengan bahaya.
Ordo Anura
Apoda,
disebut juga caecilian (sekitar 150
spesies), tidak bertungkai dan hamper buta, dan sangat menyerupai cacing tanah.
Caecilian hidup di daerah tropis yang dimana sebagian besar spesies ini
bersarang dalam lubang di dalam tanah hutan yang lembap;beberapa anggota ordo
Apoda di Amerika Selatan hidup dalam kolam dan aliran air tawar.
Ordo Apoda
Amphibian
berati “dua kehidupan” , yang mengacu kepada metamorfosis banyak jenis katak.
Kecebong, yang merupakan tahapan larva dari seekor katak, umumnya adalah
herbivore akuatik dengan insang, system gurat sisi yang mirip dengan ikan, dan
ekor panjang bersirip. Kecebong tidak memiliki kaki dan berenang dengan cara
menggeliat seperti leluhurnya yang mirip ikan. Selama metamorfosis yang
berakhir denga “kehidupan kedua”, kaki berkembang, dan system gurat sisi
menghilang. Tetrapoda muda dengan paru-paru untuk bernapas, sepasang gendang
telinga eksternal, dan system pencernaan yang diadaptasikan untuk mengkonsumsi
makanan sebagai hewan karnivora, merangkak ketepian dan memulai kehidupan di
darat. Namun demikian, meskipun menyandang nama amfibia, banyak jenis katak
tidak melalui tahapan kecebong akuatik, dan banyak amfibia tidak hidup di dua
kehidupan akuatik dan terrestrial. Beberapa katak, salamander, dan caecilian
ada yang hanya hidup di air dan ada yang hanya hidup di darat. Selain itu,
larva salamander dan caecilian sangat menyerupai bentuk hewan dewasa, dan baik
larva maupun hewan dewasa itu adalah hewan karnivora. Paedogenesis sangat umum
terjadi pada beberapa kelompok salamander; mudpuppy (Necturus), misalnya,
mempertahankan insang dan ciri larva lainnya ketika mencapai kematangan
seksual.
Sebagian
besar amfibia tetap hidup di dekat air, dan paling belimpah adalah di habitat
yang lembab seperti rawa dan hutan hujan tropis. Bahkan katak yang beradaptasi
dengan habitat yang lebih kering menghabiskan banyak waktunya didalam lubang
sarang atau dibawah daun yang lembap, dimana kelembapan sangat tinggi. Sebagian
besar amfibia sangat bergantung pada kulitnya yang lembap untuk melakukan
pertukaran gas dengan lingkungannya. Beberapa spesies darat tidak memiliki
paru-paru dan bernapas hanya dengan melalui kulit dan rongga mulutnya.
Telur
amfibia tidak memiliki cangkang dan akan kehilangan air dengan cepat di udara
kering. Fertilisasi terjadi secara eksternal pada sebagian besar spesies dengan
jantan mendekap betina dan menumpahkan spermanya diatas telur-telur yang
dikeluarkan betina. Amfibia umumnya bertelur di kolam, rawa, atau paling tidak
di lingkungan yang lembap. Beberapa spesies bertelur sangat banyak di dalam
kolam sementara, dan angka kematiannya sangat tinggi. Sebaliknya, beberapa
spesies memperlihatkan berbagai macam pemeliharaan anak dan menelurkan telur
dalam jumlah yang relative sedikit. Bergantung pada spesies, baik jantan atau
betina bisa mengerami telur di punggungnya, dalam mulut, atau bahkan dalam
perutnya. Katak pohon tropis tertentu menyimpan masa telurnya di dalam sarang
lembap dan berbusa yang tahan terhadap kekeringan. Ada juga beberapa spesies
ovovivivar dan vivivar yang menyimpan telur di dalam saluran reproduksi betina,
dimana embrio dapat berkembang tanpa harus mengalami kekeringan.
Banyak amphibi memperlihatkan
perilaku sosial yang kompleks dan
beraneka ragam, khususnya selama musim kawin. Katak umumnya merupakan makhluk yang
diam, tetapi banyak spesies yang mengeluarkan suara-suara untuk memanggil
pasangan kawin selama musim kawin. Jantan bisa bersuara keras untuk
mempertahankan daerah kawin, atau untuk menarik betina. Pada beberapa spesies
darat, migrasi ketempat kawin yang spesifik bisa melibatkan komunikasi suara,
navigasi angkasa, atau sinyal kimia.
Siklus hidup
DAFTAR PUSTAKA
Reece. Campbell. 2008. Biologi Edisi ke
Delapan Jilid Dua. Jakarta : ERLANGGA
Http://gambar-anura/ac.id Diakses pada tanggal 24
Maret 2014
Http://gambar-ordo-urodela// Diakses pada tanggal 24
Maret 2014
Http://gambar-ordo-apoda// Diakses pada tanggal 24
Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar